Lord Reinkarnasi: Upgrade Segalanya! - Chapter 465
Bab 465 – 465: Besi, Sang Purba Kuno
Sepanjang malam, Asher tetap duduk di bawah kanopi yang hangus, punggungnya menempel pada kulit kayu kasar sebuah pohon. Mata emasnya bersinar samar-samar dalam cahaya bulan yang redup; termenung, berpikir.
Badai berkecamuk di dalam dirinya: amarah atas apa yang telah hilang, keputusasaan atas apa yang mungkin terjadi, namun ketenangan yang aneh dan tak terduga menyelimuti semuanya.
Seandainya ia diberi waktu beberapa hari lagi…
Kota Whitewood tidak akan hanya menjadi puing-puing. Kota itu akan bangkit menjadi benteng sejati, tembok-temboknya diperkuat, pertahanannya diperkokoh, jantungnya berdetak dengan kekuatan dua ribu jiwa.
Ia dapat melihat mereka dalam benak pikirannya: seribu prajurit infanteri yang disiplin siap berperang, delapan ratus pemanah yang menggelapkan langit dengan anak panah mereka, seratus penyihir yang menebarkan kematian dengan setiap gerakannya, dan seratus tabib yang siap merawat yang terluka.
Seandainya dia memimpin pasukan seperti itu, hasilnya mungkin akan berbeda.
Mungkin kemenangan bisa direbut dari ambang kehancuran.
Tapi tak masalah. Kehilangan adalah hal yang wajar dalam perjuangan, dan Asher sangat memahami kebenaran ini. Terutama di saat seperti ini, ketika kehancuran tampak tak terhindarkan.
Bahkan Kyros yang agung, seorang legenda di antara para legenda, pun pernah beberapa kali menjadi korban tipu daya saudara-saudaranya yang khianat.
Namun, yang membuatnya tetap tegar melewati setiap kejatuhan hanyalah satu hal: kekuatan yang tak terbantahkan.
Kekuatan yang belum dimiliki Asher.
Namun dia akan melakukannya, apa pun harganya.
Tenggelam dalam pikirannya, ia menelusuri berbagai strategi, kemungkinan, dan kenyataan pahit. Ia duduk berjam-jam, malam perlahan berganti menjadi fajar tanpa disadari, hawa dingin pun terlupakan. Begitu dalam fokusnya sehingga waktu itu sendiri tampak kabur. Ia tak memperhatikan desiran angin atau bayangan yang bergeser.
Hingga sesuatu menusuk kesadarannya.
Sebuah alarm.
Sensasi geli yang samar di tulangnya, rasa geli di ambang naluri, bahaya.
Sebelum pikiran sadarnya sempat bereaksi, tubuhnya langsung bereaksi. Empat tahun perang telah melatihnya dengan baik. Empat tahun pertempuran tanpa henti, berdiri di garis depan saat ribuan orang bertempur, mengasah setiap gerakannya menjadi ingatan otot yang tajam. Refleksnya, yang telah tertanam kuat oleh naluri bertahan hidup, mengambil alih.
Dalam satu gerakan cepat, Asher bangkit berdiri, gagang pedangnya yang patah terangkat seperti belati.
Posisi tubuhnya mantap, siap siaga, siap menyerang atau bertahan sesuai kebutuhan. Udara malam seolah menahan napas.
Matanya menyesuaikan diri dengan sosok penyusup itu.
Ketegangan di lengannya tetap ada, tetapi tatapannya menyipit, tajam dan tak percaya.
Sosok penyusup itu melangkah ke tempat terbuka, tubuhnya bermandikan cahaya perak pucat fajar. Mata Asher membelalak, napasnya tertahan sesaat.
Seekor centaur.
Setengah manusia, setengah kuda, makhluk itu berdiri dengan tinggi dua meter yang mengesankan, kehadirannya saja sudah menarik perhatian. Bahu yang lebar, berotot, menopang beban pelindung dada lempengan emas, logam yang dipoles berkilauan samar bahkan dalam cahaya redup.
Di balik baju zirah, untaian rantai besi terhampar di bagian bawah tubuhnya yang menyerupai kuda, bergoyang lembut mengikuti setiap pergeseran halus dari kerangka tubuhnya yang perkasa. Tubuh kuda di bawahnya ramping dan kuat, kakinya tebal menjanjikan kecepatan dan kekuatan penghancur.
Terikat di sisinya terdapat tombak panjang—hampir setinggi centaur itu sendiri. Gagangnya yang terbuat dari kayu gelap menunjukkan tanda-tanda penggunaan, dan ujungnya, meskipun bersarung, seolah berdesir menyimpan kenangan pertempuran.
Kepang tebal rambut hitam membingkai wajah centaur yang tegar, menjuntai melewati bahunya seperti tali prajurit. Mata emas yang cerah, sangat mirip dengan mata Asher sendiri, menatapnya dengan tatapan mantap dan tak tergoyahkan.
Alis yang tajam memberikan makhluk itu aura kemuliaan, kekuatan tenang yang diasah oleh kebijaksanaan dan peperangan.
Kedua lengannya disilangkan di dada, lengan bawahnya yang besar telanjang, penuh bekas luka, dan sekeras batu. Ia tidak bergerak ke arah senjatanya, juga tidak menggeser berat badannya seolah bersiap untuk menyerang.
Centaur itu hanya berdiri di sana, mengamatinya.
Dan di mata itu, Asher melihat sesuatu yang tak terduga.
Intelijen.
Kedalaman.
Dan yang terpenting… kebosanan.
Seolah-olah centaur itu mengharapkan sesuatu yang jauh lebih megah, dan kini mendapati dirinya tidak terkesan dengan pemandangan di hadapannya.
Keduanya saling menatap dalam diam, ketegangan di antara mereka setegang tali busur yang ditarik hingga batas maksimalnya.
“Aku, manusia, adalah I’ron,” kata centaur itu, suaranya dalam, beresonansi, membawa beban zaman yang tak terhitung jumlahnya. Mata emasnya berkilauan dengan kekuatan yang terkendali saat ia menatap Asher. “Aku adalah salah satu dari Makhluk Tua purba. Aku bisa membunuhmu di tempatmu berdiri, jadi jangan punya pikiran bodoh.”
Asher tidak bergeming. Posturnya tetap tenang, gagang pedangnya yang patah masih miring, siap—bukan karena menantang, tetapi naluri. Tatapan emasnya bertemu dengan tatapan I’ron tanpa goyah.
“Salah satu Makhluk Kuno,” kata Asher dengan tenang. “Kau hampir sekuat Okeanos. Tapi kau terlihat seperti… Penunggang Emas.”
Mendengar itu, Iron mengangkat alisnya yang tebal, sedikit rasa geli terlintas di wajahnya yang biasanya tenang. “Kau sudah melihat cukup banyak dari kami,” geramnya. “Banyak yang menjalani seluruh hidup mereka; bangkit, jatuh, dan lenyap menjadi debu tanpa pernah bertemu satu pun dari kami. Namun kau berbicara seolah-olah kau telah hidup di antara kaum kami.”
Dia sedikit menggeser berat badannya, baju zirah di bagian bawah tubuhnya bergemerincing lembut. “Golden Rider memang salah satu Dewa Tua terkuat di Tenaria. Salah satu dari mereka yang berperang melawan Dewa Tua Kegelapan, yang pernah mengancam untuk menenggelamkan dunia ini dalam kegelapan. Tapi kurasa…” Suaranya merendah, penuh makna, “bahkan yang terkuat pun suatu hari akan jatuh.”
Kata-kata itu menggantung di udara seperti dentang lonceng pemakaman.
Alis Asher berkerut, pikirannya berkecamuk. Penunggang itu—yang telah tunduk padanya tanpa alasan, tanpa tuntutan, tanpa hutang. Penunggang Emas yang sama itu pernah berdiri melawan kengerian terburuk di dunia? Rasanya… mustahil.
“Bahkan yang terkuat pun akan jatuh,” Asher mengulangi dengan lembut. Tawa getir yang pahit keluar dari bibirnya. “Kalau begitu…” Matanya berbinar dengan api keras kepala yang tak bisa dipadamkan. “Bukankah sebaiknya aku menjadi yang terkuat dulu sebelum mulai khawatir akan jatuh?”
Senyum tipis yang jarang terlihat tersungging di sudut mulut I’ron. “Masih teguh,” katanya, suaranya kini lebih lembut, diwarnai sesuatu yang mungkin adalah rasa hormat. “Kau persis seperti yang mereka gambarkan.”
Asher menurunkan pedangnya yang patah, rasa ingin tahu mempertajam tatapannya. “Siapa?”
“Tenaria,” jawab I’ron singkat. “Dia telah mengikatku untuk menjagamu. Dan harus kukatakan…” Dia mengarahkan pandangannya ke pepohonan yang hangus dan hancur di sekitar mereka, bekas luka yang luas di tanah itu. “Kau benar-benar telah menghancurkan hutanku.”
Secercah kejutan samar terlintas di wajah Asher. “Sapphira yang mengirimmu?” Suaranya sedikit meninggi, nama itu membangkitkan emosi yang terlalu rumit untuk diungkapkan.
Tatapan emas Iron semakin dalam, meneliti Asher dengan pandangan yang seolah menembus langsung ke dalam jiwanya.
Dia tidak bisa memahaminya. Sebuah benua, Tenaria sendiri, kuno, luas, abadi, memilih untuk melindungi seorang pria. Seorang pria yang hidupnya akan berlalu seperti hembusan napas dibandingkan dengan hidupnya. Kilatan api dalam badai, ditakdirkan untuk padam sementara dia bertahan.
Mengapa?
Mengapa Tenaria memilih untuk mencintai manusia, di antara semua makhluk? Padahal begitu banyak Dewa Tua yang perkasa, kerabat yang akan berbagi rentang hidup tak terbatas dengannya, siap untuk melamarnya, berjuang untuknya, dan bersamanya melintasi zaman?
Itu tidak masuk akal.
