Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 8 Chapter 0







Prolog
Hujan turun deras. Langit bergemuruh dengan guntur, meraung dari cakrawala ke cakrawala.
“Tidak! Ini tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi?!”
Langit bergejolak, bumi bergetar, angin meraung. Seluruh dunia bersekongkol untuk menenggelamkan ratapan bocah itu, tetapi dia tetap berteriak di tengah kekacauan.
“Kenapa?! Bagaimana?! Kenapa harus kamu?!”
Suaranya tidak bersuara. Suara itu lenyap begitu saja, diterbangkan angin dan dihantam hujan.
Angin kencang yang menderu dan hujan deras menghancurkan tubuhnya seperti racun, menguras kehangatan dari kulitnya. Lambat laun, napasnya berubah menjadi putih dan wajahnya memucat karena kedinginan. Rasa dingin menyelimuti daratan seolah-olah terkunci dalam es—dan wajar saja jika kehangatan wanita dalam pelukannya juga mulai memudar.
“Hentikan, kumohon. Biarkan dia sendiri…”
Langit mencemooh permohonannya, menyebarkannya dengan hujan deras. Tetesan air besar menghujani dirinya, membekukan dan tanpa ampun.
“Rey… Ayo, Rey, buka matamu. Kumohon… biarkan aku mendengar suaramu lagi.”
Ada banyak hal lain yang ingin dia katakan. Seandainya saja dia tetap tenang, seandainya saja dia lebih rasional… Ada seribu alasan yang bisa dia buat. Tetapi dengan nyala api kehidupannya yang meredup di hadapannya, pikirannya menjadi kosong.
“Kenapa ini harus terjadi?! Kenapa dia harus mati?!”
Meskipun tahu usahanya sia-sia, dia menariknya mendekat seolah mencoba mengikat jiwanya ke tubuhnya. Seperti seorang anak yang berpegangan erat pada ibu yang akan pergi, dia membenamkan wajahnya di dada wanita itu dan mengeluarkan ratapan tanpa kata.
“Seseorang…siapa pun…tolong saya…”
Tidak ada seorang pun yang menjawab, namun ia tetap berdoa.
“Aku akan melakukan apa saja… Kumohon…”
Tidak ada seorang pun yang mendengar, namun dia tetap memohon.
“Selamatkan dia! Aku akan melakukan apa saja!”
Tidak ada seorang pun yang mengulurkan tangan untuk membantu, namun dia tetap memohon.
“Aku tahu! Raja Roh! Kau bisa melakukannya! Kau sedang mengawasi, kan?! Kau harus menyelamatkannya! Seberapa sulitkah bagimu untuk menghentikan satu jiwa dari kematian?!”
Namun saat ia mendongak ke langit, ia tahu tidak akan ada keajaiban yang datang. Awan tebal dan hitam berputar-putar di angkasa, badai yang mengamuk dan semakin membesar. Seolah-olah sebagai kontras, gerakan dada wanita itu menjadi semakin lemah, napasnya semakin lemah saat hujan membersihkan darahnya. Kilat menyambar, menerangi wajah bocah yang putus asa itu, membuatnya tampak sangat jelas.
“Tidak! Tidak, tidak, tidak!”
Jeritan merobek tenggorokannya. Napas tersengal-sengal menyumbat saluran pernapasannya. Isak tangis mengguncang paru-parunya.
“Ahh… Aaaaaahhh!”
Dia telah mengikrarkan hidupnya untuknya, dan sumpah itu kini menghancurkan hatinya. Dia telah bersumpah untuk menyelamatkannya, apa pun risikonya, dan sumpah itu kini menghancurkan jiwanya. Dihadapkan dengan kenyataan yang tak dapat diterima, kebenaran yang tak terlukiskan, dia berteriak menyangkal semuanya.
“Aaaaaaaahhh!!!”
Pada hari itu, hatinya—jiwanya—mati.
