Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 7 Chapter 6
Epilog
Saat ia terbangun, semuanya telah berakhir. Bau busuk yang mengerikan menyadarkannya kembali. Ia duduk dan mendapati dirinya berada di dataran berumput yang dipenuhi mayat hangus.
“Ugh… Kenapa…aku hidup…?”
Dia ingat dengan jelas saat dirinya dilalap api. Seharusnya, dia sudah berubah menjadi abu, namun dia tidak merasakan luka bakar, hanya rasa sakit tumpul akibat trauma benturan keras yang menggema di dalam tubuhnya.
“Akhirnya bangun juga, ya.”
Seorang pria membungkuk untuk berbicara padanya. Penampilannya sangat aneh, setidaknya begitulah adanya. Ia berpakaian serba putih, dengan topeng aneh menutupi wajahnya. Ia berjongkok di dunia kematian ini seolah-olah ia adalah penghuni alaminya.
“Lalu, siapakah kamu?”
Matanya berbinar-binar, berusaha mengintimidasi pria itu, tetapi pada akhirnya, justru dialah yang terguncang oleh kehadirannya yang menakutkan. Keringat mengucur di dahinya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Rasanya seperti pria itu sedang menghisap hidupnya, mengiris jiwanya semudah ia mengiris dagingnya.
“Aku senang kau tampak baik-baik saja. Jika kau meninggal, semua usahanya akan sia-sia.” Kekuatan pria bertopeng itu berderak di kulitnya setiap kata yang keluar dari bibirnya. “Kini ada dua jalan yang terbentang di hadapanmu.”
Dia tidak mengatakan apa pun.
“Kau bisa menunggu hingga membusuk di medan perang lama atau bangkit dan mencari medan perang baru.” Nah, mana yang akan kau pilih? Dia menatapnya dari atas ke bawah, menilainya.
Tenggorokannya terasa kering. Paru-parunya menjerit meminta udara. Keheningan menyelimuti mereka.
Akhirnya, pria bertopeng itu menghela napas. “Aku tahu mengambil keputusan bisa sulit. Tapi begitu pilihan dibuat, semuanya akan jauh lebih mudah.”
Perlahan-lahan, dia mengangkat tangannya. Wanita itu tersentak menjauh, tetapi dia hanya mencibir.
“Tak perlu terlalu gelisah.” Dengan kedua tangannya di sisi topengnya, dia melangkah mendekat tanpa suara. “Apakah kau menginginkan kelahiran kembali? Atau akhir yang mutlak?”
Dia melepas topengnya, memperlihatkan wajahnya.
Pikirannya menjadi kosong. Amarah membara tiba-tiba muncul di bibirnya. “Aku akan membunuhmu, apa pun yang kulakukan,” semburnya.
“Kalau begitu, aku akan memberimu harapan.” Senyum pria itu tampak mengancam di balik kepolosannya.
