Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 13 Chapter 6
Epilog
Seluruh ibu kota bersorak hanya untuknya.
Suara mereka bergema penuh sukacita saat mereka memuji namanya. Di bawah balkon tempat dia melambaikan tangan, kerumunan besar memadati halaman istana. Setiap wajah berseri-seri dengan kebahagiaan yang tak tertahan. Setiap mata berbinar penuh optimisme. Setiap tatapan tertuju padanya.
Belum lama ini, bangsa mereka berada di ambang kehancuran. Mereka menghabiskan hari-hari mereka diliputi rasa takut akan masa depan. Namun sekarang, ancaman itu telah berlalu, dan dunia kembali mengenal mereka sebagai penakluk Soleil. Semua itu berkat dirinya—dia yang teguh di saat-saat ragu dan putus asa, yang telah memimpin pasukannya menuju kemenangan dalam banyak pertempuran—dan untuk itu, mereka menghujaninya dengan pujian. Dia adalah penguasa mereka yang bangga. Pembela rumah mereka. Permaisuri Merah mereka.
Banyak sekali suara yang meneriakkan namanya dengan lantang—bukan hanya segelintir, tetapi banyak yang bersatu. Ia mengangkat satu tangan sebagai tanda terima kasih dan mundur dari balkon. Di belakangnya, deru kerumunan terus berlanjut tanpa henti.
Kota itu takkan tidur malam ini, dan juga malam-malam berikutnya. Para pemabuk akan bertukar anekdot tentang Permaisuri Merah di meja-meja kedai. Para penyair akan menyanyikan lagu-lagu tentang keberaniannya. Rakyat jelata akan menceritakan kisah-kisah tentang perbuatannya. Seiring waktu, dia akan menjadi sosok legenda, dan kemudian, akhirnya, menjadi mitos. Setelah mencapai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, dia pantas mendapatkan itu.
Ia kembali masuk ke dalam istana, menyusuri lorong yang menghubungkan balkon dan ruang singgasana. Karpet lembut dari kain merah tua membentang di sepanjang koridor, diapit di kedua sisinya oleh dinding batu putih yang bersih. Saat ia berjalan dalam diam, seorang anak laki-laki berambut hitam muncul dan menghalangi jalannya.
“Selamat.”
Dia ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. “Sejujurnya, ini masih terasa tidak nyata… tapi terima kasih.”
“Masalah kekaisaran masih jauh dari selesai. Tapi aku yakin kau akan siap, apa pun yang terjadi di masa depan.”
Dari semua penduduk Soleil, dialah yang pertama dan terakhir yang menyapanya dengan begitu santai. Orang lain pasti akan dihukum berat karena kelancaran bicaranya, bahkan mungkin dieksekusi langsung. Tetapi mereka telah berbagi banyak kesedihan dan kegembiraan, dan mereka saling mempercayai sepenuhnya. Bahkan, dari tatapan dan senyuman yang mereka tukarkan, siapa pun dapat melihat betapa dalam mereka saling menyayangi.
“Sekarang kaulah yang akan memimpin orang-orang,” kata anak laki-laki itu. “Kau harus menjadi matahari yang menerangi jalan mereka.”
Dia menyeringai nakal. “Kau mengatakan itu seolah-olah kau tidak akan berada tepat di sampingku.”
Dia menunduk malu-malu saat tatapan matanya menembus dirinya. “Bukankah aku punya pilihan dalam hal ini?”
“Kaulah yang membawaku sejauh ini. Setidaknya kau harus tetap di sini.”
“Aku tidak ingat seperti itu.”
Ia tersenyum getir sambil mengingat kembali beberapa tahun terakhir. Ia telah membebani wanita itu dengan banyak beban dan menyebabkan wanita itu menangis berkali-kali. Namun, wanita itu tetap gigih mengejarnya. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah menyerah. Ia adalah rekan seperjuangan, sahabat, keluarga—dan orang yang paling ia sayangi.
“Ayolah,” katanya. “Kita masih punya seluruh hidup kita di depan.”
Ia mengulurkan tangannya. Tekad yang kuat terpancar dari matanya. Tak peduli berapa tahun berlalu, tak peduli kesulitan apa pun yang menanti di depan, nyala api itu tak akan pernah padam. Ia tersenyum seperti matahari, dan dengan senyumannya sendiri, ia menggenggam tangannya.

