Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 11 Chapter 0






Prolog
“Aku percaya kau akan menyelesaikan ini sampai tuntas?”
Cahaya yang menembus dedaunan melalui jendela menaungi senyum wanita itu. Waktunya kini tinggal sedikit, begitu pula waktu sang ksatria. Zaman tak akan berhenti, dunia akan terus berputar, dan mereka yang tak mampu mengikuti akan tertinggal. Mau tak mau, keduanya akan ditinggalkan oleh laju waktu. Namun…
“Baik, Nyonya, saya menginginkannya. Demi Anda, saya akan melakukan segala yang saya mampu.”
Namun sang ksatria bersumpah untuk melawan. Ia tidak mampu berbuat lain. Untuk menyelamatkan majikannya yang terbaring sakit, ia terbang ke ujung timur dan barat, utara dan selatan. Namun tak ada yang berubah. Usahanya sia-sia. Majikannya semakin lemah. Harapan demi harapan sirna di depan matanya, hanya menyisakan keputusasaan yang kelam, dan ia menghabiskan hari-harinya mengembara tersesat dalam kegelapan.
“Dibunuh?”
Ketika bocah itu pertama kali menyampaikan kabar tersebut kepadanya, sang ksatria tidak dapat mempercayainya. Telinganya berdengung seolah dunia akan runtuh. Pandangannya menjadi putih. Begitu hebatnya penderitaannya sehingga akan menghancurkannya jika ia tidak membiarkannya tercurah. Dengan kejam dan tidak adil, ia melampiaskannya kepada bocah itu.
“Kenapa?! Bagaimana?! Apa kau tidak ada di sana untuk melindunginya?!”
Ledakan amarahnya terdengar buruk bahkan di telinganya sendiri, tetapi dia tidak sanggup mendengarkan permintaan maafnya. Dia menyebutnya tidak berperasaan karena tidak meneteskan air mata, melabelinya tidak berdaya karena gagal sebagai pelindung. Namun bukan ketidakberperasaan yang membuat matanya tetap kering. Dia adalah pria yang hancur. Hatinya hancur berkeping-keping, senyumnya telah lenyap, dan emosinya telah kehilangan warnanya. Pada saat ksatria itu menyadari kesalahannya, sudah terlambat, dan dia telah kehilangan senyumnya selamanya.
“Maafkan saya, Nyonya. Saya telah lalai menepati janji saya.”
Ia mengutuk kebodohannya sendiri. Betapa busuknya jiwanya. Ia hanya peduli pada balas dendam, tidak memikirkan apa pun selain perasaannya sendiri, dan apa yang didapatnya? Segenggam abu dan kematian yang hina di medan perang. Tetapi keselamatan sudah dekat. Ia tidak ditinggalkan. Ia mengikuti cahaya itu, dan ketika kelopak matanya terbuka kembali, seorang gadis berambut merah tua terbaring di sampingnya. Ia tidak membutuhkan penjelasan, tidak perlu merenung, tidak perlu kontemplasi. Majikannya telah kembali. Hanya itu yang terpenting.
“Aku tidak akan gagal lagi.”
Keraguannya sirna, dan dia berlari melintasi daratan dengan keyakinan yang kuat di dadanya. Serigala putih itu melolong, mengetahui bahwa hari itu akan segera tiba baginya untuk memenuhi sumpah kunonya.
