Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 10 Chapter 0






Prolog
Bocah itu tidak punya apa-apa.
Bukan kekuatan untuk membantu orang lain, bukan pula ketangguhan untuk membela apa yang berharga baginya, atau kemampuan untuk menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.
Ia mencari, ia mendambakan, ia menghentakkan kakinya dengan amarah kekanak-kanakan, tetapi semua itu sia-sia. Ia sungguh biasa saja. Satu-satunya jalan di hadapannya adalah jalan pasrah, menggigit bibir dalam penerimaan pahit saat ia menyaksikan rekan-rekannya meninggalkannya.
Dan kemudian, suatu hari, mimpinya menjadi kenyataan.
“Apa yang akan kau lakukan, Nak, jika aku menawarimu kekuasaan?”
Apa yang akan dilakukan seseorang jika hadiah yang telah lama mereka cari tiba-tiba muncul di hadapan mereka?
Godaan yang manis seperti madu. Undangan menuju ketinggian terlarang. Ternyata bukan kebaikan hati dewi yang menjangkaunya, melainkan ambisi jahat iblis—dan mata iblis itu menunjukkan dengan sangat jelas apa yang telah direncanakannya.
“Kau bermimpi untuk setara dengan rekan-rekanmu, bukan? Untuk memiliki kekuatan untuk berdiri bersama mereka, bahu membahu?”
Sebuah momen kelemahan yang lahir dari keraguan. Kegelapan di dalam dirinya mulai membesar.
“Semua orang akan bersujud di hadapanmu. Semua orang akan menundukkan kepala. Semua orang akan berlutut.”
Pada akhirnya, kesederhanaannya menjadi kehancurannya. Ia tidak memiliki sarana, kekuatan, atau kemampuan untuk melawan. Mungkin ia bahkan tidak pernah punya pilihan sama sekali. Keinginan hatinya terbentang di hadapannya. Tak seorang pun bisa menahan diri untuk mengulurkan tangan. Semua akal sehat memintanya untuk berpaling, tetapi tubuhnya mendorongnya maju, jantungnya berdebar kencang karena gembira. Sebuah jeritan keluar dari tenggorokannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tetapi sosok di hadapannya hanya tersenyum penuh arti.
“Mengapa begitu ingin menyembunyikannya? Bukankah semua manusia seperti itu?” Mulut pria itu membentuk garis yang sangat lembut, tetapi rasa geli itu tidak sampai ke matanya. “Singkirkan cita-citamu yang hina dan rangkul keinginanmu yang sebenarnya. Gunakan api dan pedang sesuai keinginanmu. Raih semua yang ada dalam genggamanmu dengan kekuatan yang tak terkalahkan. Itulah sifat sejati dunia ini. Yang kuat bersenang-senang, sementara yang lemah berlutut. Yang kuat melambung tinggi sementara yang lemah merangkak di lumpur. Tidak ada keinginan yang tidak dapat dikabulkan oleh kekuatan.”
Dengan penuh semangat di bibirnya, pria itu mengulurkan tangannya yang gelap sekali lagi.
“Segala kekuatan akan menjadi milikmu. Segala rencana akan menjadi milikmu untuk disusun. Semua hadiah akan menjadi milikmu untuk diklaim.”
Madu manis mengalir di sekeliling bocah itu, mengikatnya erat. Tak mampu bergerak, ia tak berdaya untuk melakukan apa pun selain menatap.
“Katakan padaku…apakah kau mencari kekuasaan?”
Maka, hanya karena ingin berdiri di samping rekan-rekannya, ia meraih buah terlarang itu.
