Lord Reinkarnasi: Upgrade Segalanya! - Chapter 472
Bab 472 – 472: Tuhan Melawan Tuhan, Raja Melawan Raja
Tubuh Kaelor yang besar tetap diam seperti batu, napasnya berupa geraman rendah yang menggema di seluruh kawah. Matanya yang tajam perlahan tertuju pada senjata yang tertancap di tanah di hadapannya.
Tombak es.
Namun, ini bukanlah ciptaan rapuh dari embun beku atau salju. Tombak itu berkilauan di bawah sinar matahari yang redup, permukaannya jernih seperti kristal, tetapi dengan kekokohan yang menentang sifatnya.
Batangnya halus, tanpa cela, panjangnya lurus sempurna seolah-olah ditempa oleh seorang pandai besi ulung.
Ujung tombak itu bergerigi dan kejam, dibentuk untuk menusuk dan merobek, berkilauan dengan cahaya pucat dan dingin yang seolah-olah menyerap kehangatan dari udara itu sendiri.
Embun beku merambat keluar dari tempat ia menghantam, urat-urat es menyebar seperti retakan di tanah di bawah kuku Kaelor.
Rasa dingin itu menusuk hingga ke dalam, dan untuk pertama kalinya, raja minotaur yang agung merasakan sengatan luka yang sesungguhnya, bukan hanya pada tubuhnya, tetapi juga pada harga dirinya.
Dia mengulurkan tangan, jari-jari besarnya mencengkeram tombak itu, rasa dingin menusuk telapak tangannya. Dia mencabutnya dari tanah, es dan batu terlepas dengan bunyi retakan yang tajam.
Kaelor mengangkat tombak ke wajahnya, mengamatinya, ujung tanduknya yang terputus berdarah deras di pipinya. Matanya menyipit, api tantangan kembali menyala di kedalaman matanya.
“Ini…” suaranya yang dalam bergemuruh seperti badai yang akan datang, “…adalah senjata bagi para pengecut.”
Lautan minotaur tetap sunyi, ribuan mata mengawasi raja mereka, menunggu perintahnya.
“Mungkin, tapi aku ingin perhatianmu.”
Suara itu merdu, dalam seperti genderang perang. Suara itu membuat udara bergetar, dan setiap minotaur, meskipun mereka adalah binatang perang, menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Di sana, di puncak bebatuan bergerigi yang membentuk tepi kawah, berdiri sesosok figur sendirian. Tiga puluh meter di atas arena di bawahnya, siluetnya dibingkai oleh matahari terbit, rambut putih dan mantel panjangnya berkibar tertiup angin pagi seperti panji perlawanan.
Terikat di punggungnya, sebuah senjata besar berkilauan di bawah cahaya, pertanda pertempuran yang akan datang.
Tanpa ragu, ia menekuk lutut dan melompat, tubuhnya melayang ke langit. Untuk sesaat yang menakjubkan, tubuhnya menutupi matahari, menciptakan bayangan panjang di kawah, seolah-olah langit sendiri menyaksikan apa yang akan terjadi.
Lalu dia terjun ke bumi seperti bintang jatuh.
Benturan itu membelah tanah di bawah kakinya, menyebarkan retakan seperti jaring laba-laba di dasar kawah, dan mengirimkan getaran ke seluruh tulang semua orang yang menyaksikan. Debu mengepul. Bumi tampak mengerang di bawah beban dari apa yang telah datang.
Saat debu mereda, pria itu berdiri tegak, mantelnya jatuh dari bahunya. Dengan gerakan yang sengaja lambat, ia melepaskan kancingnya dan melemparkannya ke samping. Apa yang terungkap membuat mata tua Kaelor menyipit karena penasaran.
Di depan mata raja minotaur dan gerombolannya yang berkumpul, Asher tumbuh. Tubuhnya membesar, wujudnya menjulang saat ia memasuki wujud Raja, sosok yang mengagumkan dengan tinggi sepuluh kaki dua inci. Rambut putih saljunya yang panjang terurai di dada bidangnya yang kekar dan punggungnya yang berotot. Urat-urat seperti tali baja melingkari lengannya yang berotot, dan ketika ia sedikit saja menekuk ototnya, udara pun bergetar.
Kekuatan mentah dan tak terkendali yang terpancar darinya bagaikan badai yang hampir tak terkendali. Wajahnya bagaikan topeng keseriusan, terukir dari batu, tanpa kesombongan atau keceriaan, hanya tekad yang tak tergoyahkan.
Dengan setiap langkah lambat dan terukur yang diambilnya menuju Kaelor, mananya melonjak. Mana itu terus bertambah hingga, pada puncaknya, api biru-putih dan abu-abu menyembur dari mata kanannya, melengkung ke atas.
Kobaran api itu bukanlah api dalam pengertian manusia biasa, melainkan mana yang menjadi terlihat, esensi murni dan menakutkan dari seorang pria yang kekuatannya telah melampaui hal-hal biasa.
Kaelor menggeram pelan di tenggorokannya, geraman yang mengguncang udara.
“Manusia…”
Ribuan minotaur, yang telah ditempa oleh generasi peperangan, menggenggam senjata mereka lebih erat. Rasa takut mereka terhadap raksasa ini dengan cepat berubah menjadi amarah, kemarahan yang putus asa atas keberanian pria sendirian ini yang berani menantang raja mereka. Para penjaga Kaelor, makhluk-makhluk mengerikan dalam wujud mereka sendiri, mencambuk tanah dengan cambuk besar mereka, menimbulkan debu dan ketegangan, hanya menunggu perintah raja mereka.
Namun sebelum Kaelor sempat berbicara, suara Asher memecah kekacauan itu seperti sebuah pisau.
“Tuan Kaelor, biarlah ini menjadi pertempuran antara kau dan aku—tuan melawan tuan, raja melawan raja.”
Dengan itu, Asher menarik pedang besarnya dari punggungnya dan menancapkannya ke tanah di sisinya. Pedang itu, yang panjangnya hampir enam kaki dengan bilah selebar telapak tangan orang dewasa, berkilauan meskipun asal-usulnya sederhana. Pedang itu tidak ditempa dari baja atau logam ajaib, tetapi dipahat dari Kayu Putih, kayu kuno dari pohon yang telah berdiri selama tiga ribu tahun, keberadaannya membentang kembali ke zaman ras Darah Dewa.
Diasah oleh tangan Iron sendiri, ujung bilah pedang itu begitu tajam sehingga mampu membelah batu-batu besar menjadi dua, meninggalkan permukaan yang terpisah menjadi halus seperti kaca yang dipoles.
Meskipun bagi mata yang tidak terlatih mungkin tampak menggelikan, pedang kayu melawan raja monster, bobotnya sangat mengerikan, tujuannya jelas.
Tatapan mata Asher bertemu dengan tatapan Kaelor, tanpa berkedip.
“Apakah kita akan bertarung dengan senjata, atau tidak?”
Bibir Kaelor melengkung membentuk seringai, memperlihatkan taring-taringnya yang seperti ukiran gading. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia meraih tombak es Asher yang terbuang, mengangkatnya dengan satu tangan, dan melemparkannya kembali dengan kekuatan sedemikian rupa hingga menghancurkan batas kecepatan suara—BOOM—dentuman dahsyat.
Tombak itu langsung menghantam Asher, lebih cepat dari yang kubayangkan. Ia sedikit memiringkan kepalanya, dan tombak itu melesat melewatinya, begitu dekat sehingga hembusan angin yang membawanya meninggalkan garis merah tipis di pipinya. Setetes darah menggenang dan mengalir di wajahnya, tampak jelas dan mencolok di kulitnya yang pucat.
Asher menyekanya dengan satu jari, tatapannya tak pernah lepas dari Kaelor.
Saat darah menetes di pipinya, berkilauan seperti batu rubi di kulit pucatnya, Asher bahkan tidak berkedip. Matanya, yang bersinar samar di bawah kobaran api biru-putih dan abu-abu dari mata kanannya, menatap Kaelor dengan fokus yang tak tergoyahkan.
Dia mengangkat satu jarinya dan menyeka darah itu, mengamatinya untuk melihat detak jantung, lalu menjentikkannya ke samping seolah-olah itu tidak penting.
Kawah itu diselimuti keheningan yang berat dan mencekam. Bahkan para minotaur, yang beberapa saat sebelumnya dipenuhi amarah, ragu-ragu, merasa terintimidasi oleh manusia yang berdiri begitu tenang di hadapan raja mereka, yang kehadirannya saja seolah menuntut penghormatan.
Bibir Kaelor melengkung membentuk seringai, memperlihatkan taring setebal jari manusia. Suaranya yang dalam bergemuruh, geli bercampur dengan tantangan.
“Baiklah, tuan manusia. Kita bertarung tanpa senjata. Tanpa baja. Tanpa kayu. Hanya kekuatan murni.”
Tanpa menunggu sedetik pun, Kaelor membanting gagang kapak penantang itu ke tanah, membuatnya berdiri tegak seperti monumen perang. Jari-jarinya yang tebal berderak saat ia mengepalkan dan membuka kepalan tangannya, tubuhnya yang besar menegang seperti pegas yang tergulung.
