Lord Reinkarnasi: Upgrade Segalanya! - Chapter 471
Bab 471 – 471: Kaelor, Sang Perwujudan Malapetaka
Seminggu yang damai berlalu, dan fajar menyingsing seperti hari-hari lainnya di wilayah kekuasaan Raja Minotaur. Padang rumput luas di jantung kawah itu dipenuhi ketegangan yang sunyi, bumi itu sendiri seolah menahan napas di bawah massa besar orang-orang yang berkumpul.
Puluhan ribu minotaur, makhluk buas dengan kekuatan brutal, tubuh menjulang tinggi, dan otot yang kekar, berdiri dalam barisan panjang yang tak goyah.
Kepala mereka sedikit tertunduk, bukan sebagai tanda penyerahan diri, melainkan sebagai tanda disiplin. Para prajurit yang menakutkan, yang dikenal di seluruh negeri karena keganasannya, kini menyerupai kucing jinak, masing-masing menunggu giliran sesuai dengan urutan yang ditetapkan oleh hukum raja mereka.
Di antara mereka bergeraklah minotaur yang lebih besar, raksasa di antara para raksasa. Para titan ini memiliki tanduk yang lebih tebal dari paha manusia, tonjolan tanduk itu bersinar seperti besi yang baru saja ditarik dari tempaan, berkilauan dengan panas merah tua yang samar.
Setiap langkah yang mereka ambil mengirimkan getaran ke seluruh tanah, kuku-kuku besar mereka tenggelam ke dalam tanah dan batu, meninggalkan jejak yang dalam di bumi yang tidak dapat dengan mudah dihapus oleh angin atau hujan.
Di tangan mereka, para minotaur besar ini memegang cambuk, alat mengerikan yang dibuat dari tendon binatang purba yang telah lama ditaklukkan.
Hanya dengan jentikan pergelangan tangan, cambuk-cambuk itu mengukir jejak cahaya di udara dan di tanah, sebuah pengingat akan harga sebuah pembangkangan. Tatapan tajam mereka menyapu barisan seperti badai kembar, mengamati setiap minotaur secara bergantian, menantang siapa pun untuk keluar dari formasi.
Namun tak satu pun yang melakukannya. Tak satu pun makhluk bergerak untuk mengganggu tatanan suci pertemuan itu. Tak satu pun yang berkedut. Satu-satunya suara adalah derit kulit, desisan samar angin yang berhembus melalui tempat terbuka, dan bunyi pelan dan sabar dari kuku kuda yang menggeser berat badannya.
Di dunia minotaur, di mana kekuatan bukan hanya sebuah kebajikan, tetapi hukum eksistensi itu sendiri, disiplin adalah ukuran nilai seorang prajurit.
Dan di sini, di bawah tatapan para pengawal raja mereka, bahkan yang paling ganas sekalipun tahu, di wilayah ini, kekuatan berarti kendali.
“Roooaaar!”
Raungan mengerikan itu menggema di udara, bergema seperti badai yang dilepaskan di dalam kawah besar tersebut.
Tanah itu sendiri seolah bergetar di bawah kekuatannya, mengirimkan riak melalui batu dan tanah. Debu dan kerikil beterbangan ke udara, seolah mencoba melarikan diri dari amukan yang melahirkan suara itu.
Setiap mata, puluhan ribu minotaur, menoleh ke arah sumber deru itu. Di sana, berdiri di jantung kawah, terdapat sosok kolosal: minotaur setinggi sebelas kaki, gunung hidup yang penuh otot dan amarah.
Kabut putih menyembur deras dari lubang hidungnya yang lebar, melingkar seperti asap di udara dingin, setiap hembusan napas merupakan peringatan akan badai yang ada di dalamnya.
Dengan erangan yang menggetarkan tulang semua orang yang mendengarnya, binatang buas itu mendengus, melemparkan tubuh mammoth raksasa yang hancur, makhluk yang ukurannya dua kali lipat lebih besar darinya, ke tanah seperti karung jerami.
Tubuh raksasa mammoth itu menghantam bumi, menimbulkan kepulan debu, nyawanya padam dalam perlawanan brutal.
Penantang minotaur itu mengulurkan tangan dan mencabut kapak tulang besar yang terikat di punggungnya yang lebar. Senjata itu sendiri sangat mengerikan, bilahnya saja sebesar manusia, terbuat dari sisa-sisa fosil raksasa yang telah lama mati, ujungnya diasah hingga sangat tajam dan berkilauan dalam cahaya redup.
“Raja.” Kata itu keluar dari mulutnya dengan suara rendah dan serak, tetapi bergemuruh dengan bobot guntur yang terperangkap di dalam awan badai, bergema di seluruh kawah dan sekitarnya. Tantangannya jelas, tak terbantahkan, dan tak bisa dihindari.
Dalam sekejap, keheningan itu pecah. Empat Pengawal Raja bergerak dengan tiba-tiba, wujud mengerikan mereka bergerak dengan kecepatan dan tujuan yang menakutkan.
Derap kaki mereka menghentak tanah seperti genderang perang, menimbulkan gumpalan pasir dan kerikil yang besar di belakang mereka. Masing-masing mengangkat cambuk tinggi-tinggi, senjata yang terjalin dari urat-urat binatang yang telah mati, berkilauan penuh ancaman di bawah matahari yang redup.
Target mereka: minotaur yang berani menyebut gelar suci itu, yang telah menodai kedamaian kawah dengan tantangan yang tak seorang pun berani ucapkan selama beberapa dekade.
Ledakan!
Sesuatu jatuh dari atas dan mendarat di hadapan mereka, seekor minotaur raksasa, menjulang hingga setinggi tiga belas kaki, bahkan membuat para raksasa yang bertugas sebagai pengawal raja tampak kerdil. Kehadirannya menyelimuti lapangan terbuka itu dalam keheningan.
Ia adalah perwujudan hidup dari perang, sosok mengerikan yang dipahat dari otot dan amarah. Dada dan lengannya yang lebar membengkak dengan kekuatan mentah yang tak terkendali, setiap gerakan membuat urat-urat tebal bergelombang di bawah kulit yang keras dan kecokelatan seperti besi tempa. Tangannya yang besar, masing-masing cukup besar untuk menghancurkan tengkorak manusia seperti buah yang terlalu matang, mengepal dan rileks di sisinya seolah gatal ingin berperang.
Dari kepalanya yang mirip banteng, muncul tanduk-tanduk besar yang gelap, berlekuk-lekuk, dan lebih tebal dari cabang pohon kayu putih, melengkung ke atas dan ke luar dalam lekukan brutal yang membingkai wajah yang lebih mirip binatang daripada manusia.
Moncongnya mengembang, napasnya mendesis keluar dalam kepulan putih besar seperti uap dari gunung berapi. Matanya bersinar samar di bawah surai rambut hitam lebat yang terurai di bahunya seperti panji perang, liar dan tak terkendali.
Di pinggangnya tergantung sabuk kasar dari besi dan tulang, dari mana tergantung piala-piala mengerikan dari pertempuran masa lalu, pedang yang hancur, helm yang rusak, dan tengkorak orang-orang bodoh yang berani menantangnya.
Kuku kakinya, besar dan retak seperti batu kuno, menapak dalam-dalam ke bumi setiap langkahnya, seolah-olah tanah itu sendiri berjuang menahan bebannya.
Minotaur raksasa itu berdiri tak bergerak, sebuah kekuatan alam yang menjelma, dan padang rumput itu tampak menyusut di bawah tatapannya. Di hadapannya, bahkan para pengawal raja yang terhebat pun ragu-ragu, cambuk yang terangkat bergetar saat rasa takut yang mendalam menyapu hati mereka.
Apa alasan di balik ketakutan yang meluas ini?
Inilah raja mereka, Kaelor, perwujudan malapetaka.
Di leher Kaelor yang tebal dan kekar seperti banteng, tergantung kalung mengerikan, berupa kepala-kepala bangsawan yang lapuk dan memutih karena matahari, kepala-kepala yang berani menentangnya selama masa pemerintahan penaklukannya yang panjang dan brutal.
Dagingnya sudah lama membusuk, hanya menyisakan tulang dan rongga mata kosong yang seolah mengejek siapa pun yang menatapnya. Setiap tengkorak adalah piala, pengingat bisu akan kehebatannya yang tak terkalahkan.
Kaelor, Raja Minotaur yang tak tertandingi, telah memerintah selama berabad-abad, kekuasaannya tak tergoyahkan selama lebih dari seratus tahun.
Di ruangan-ruangan luas rumahnya di dalam gua, ia menyimpan tengkorak para calon perebut kekuasaan dan saingannya, ditumpuk seperti persembahan untuk kekuatannya sendiri, seringai hampa mereka selamanya membeku dalam kekalahan.
Namun di sini, di hadapan kerumunan yang berkumpul, seorang penantang berdiri. Tak terikat oleh rasa takut, mungkin didorong oleh kegilaan atau keputusasaan, minotaur muda itu meraung, menerjang ke depan.
Kapak tulangnya yang besar, senjata yang ditempa dari sisa-sisa binatang purba, menebas udara dengan dahsyat. Kekuatan ayunannya begitu besar sehingga angin pun terbelah, terpisah seperti air di depan haluan kapal.
Namun Kaelor tidak bergerak.
Dengan mudahnya seperti raksasa yang bosan menepis nyamuk, Kaelor mengangkat satu tangannya. Jari-jarinya yang besar menggenggam ujung kapak, sebuah mata pisau yang diasah begitu tajam sehingga mampu membelah tulang paha mammoth menjadi dua, dan yang membuat para penonton ngeri, jari-jarinya menancap ke permukaan senjata itu, menghancurkannya seolah-olah itu kayu lunak.
Tatapan mata penantang itu bertemu dengan tatapan Kaelor, dan apa yang dilihatnya membuatnya merinding lebih dari amarah atau nafsu memb杀 yang pernah ada.
Kebosanan.
Rasa jijik yang mendalam dan lelah, seolah-olah ini hanyalah tugas yang harus diselesaikan.
Dalam sekejap, tangan Kaelor mengayun. Jari-jarinya mencengkeram kepala penantang, dan dengan satu gerakan cepat, ia merobeknya dari tubuh, tulang belakangnya patah seperti ranting kering.
Dengan geraman rendah yang menggema di dalam bumi, Kaelor mengangkat kepala yang terpenggal itu tinggi-tinggi, darah masih menetes dari lehernya, yang diklaimnya sebagai trofi.
Kawah itu meletus dengan raungan yang memekakkan telinga. Puluhan ribu minotaur mengangkat senjata mereka ke langit, kuku-kuku mereka menghentak tanah, kebanggaan dan kekaguman meluap di dada mereka yang perkasa. Raja mereka, tak tertandingi, tak terkalahkan, tertinggi.
Namun kemudian—sesuatu yang tiba-tiba melesat di udara.
Biru. Dingin. Secepat kilat.
Kilatan cahaya itu melesat melewati tanduk kiri Kaelor, begitu cepat sehingga kebanyakan mata tidak dapat mengikutinya. Sesaat kemudian, kilatan itu menancap dalam-dalam ke tanah di kaki Kaelor dengan bunyi gedebuk yang berat dan menggema.
Untuk pertama kalinya dalam ingatan orang-orang yang masih hidup, keheningan menyelimuti kawah itu.
Setiap pandangan tertuju pada wajah Kaelor, pada separuh tanduk kirinya yang terlepas perlahan, terputus rapi di pangkalnya. Tanduk itu menghantam tanah dengan bunyi tumpul, berguling dan tergeletak di debu.
Udara itu sendiri seolah membeku. Darah raja mengalir di tepi bergerigi dari sisa tanduknya. Keterkejutan. Ketidakpercayaan. Dan di mata para minotaur, secercah sesuatu yang belum pernah mereka rasakan selama beberapa generasi.
Takut.
