Eiyuu to Kenja no Tensei kon LN - Volume 6 Chapter 0




Prolog
Hanya ada satu alasan mengapa aku menjadi Sang Bijak: karena aku bisa melihat masa depan. Setiap kali aku menutup mata, aku bisa mengintip hari esok; jika aku mau, bahkan pemandangan masa depan yang jauh pun akan terputar di balik kelopak mataku.
Tentu saja, saya memilih untuk melangkah menuju masa depan di mana saya akan berhasil—di mana saya, si bodoh yang tidak berguna, akan dipuji sebagai Sang Bijak. Yang harus saya lakukan hanyalah membuat pilihan yang tepat untuk menuntun saya ke jalan itu—tugas yang mudah, karena saya dapat melihat masa depan sebelum terjadi dan menjiplak pengetahuan dan temuan orang lain sesuka hati. Demikianlah saya bangkit dari seorang petani yang tidak berguna menjadi seorang Bijak yang dihormati di seluruh negeri.
Tentu saja, rakyat akan mengamuk jika mereka mengetahui kebenarannya, karena tidak satu pun dari prestasi saya adalah hasil usaha saya sendiri. Kebijaksanaan dan penelitian yang dipuji rakyat atas diri saya semuanya dibangun oleh tangan orang lain. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengintip ke masa depan, tidak lebih dari seorang pencuri, yang datang dan mencuri hasil kerja keras mereka.
Dengan demikian, “Sang Bijak” hanyalah kedok kosong—dan tidak lama setelah gelar ini disematkan kepada saya, saya menyadari hal itu sendiri. Pujian dan rasa iri yang saya terima memang terasa menyenangkan pada awalnya, tetapi segera saya mulai merasakan ketidaknyamanan, bersamaan dengan keraguan yang semakin besar dalam pikiran saya—akarnya terletak pada banyaknya kehidupan yang telah saya saksikan sambil menatap masa depan dan upaya luar biasa yang telah mereka lakukan untuk mencapai tujuan mereka.
Dahulu kala, ada seorang cendekiawan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk meningkatkan kualitas tanah di daerah miskin. Ia telah dicemooh oleh sesama cendekiawan karena kegagalannya selama puluhan tahun, bahkan dihina dan dilempari batu oleh orang-orang yang ingin ia bantu, tetapi hatinya tidak pernah menyerah. Ia melanjutkan penelitiannya, tanpa lelah dan teguh, hingga akhirnya membuahkan hasil dan menyelamatkan banyak nyawa.
Dahulu kala, ada seorang dokter yang telah berupaya lebih dari sekadar tugasnya untuk menyelamatkan orang sakit. Ia tidak hanya memfokuskan penelitiannya pada wabah yang merajalela, tetapi ia bahkan mengunjungi daerah yang terkena dampak secara langsung untuk merawat pasien dan menemani mereka. Pada akhirnya, ia kehilangan nyawanya karena wabah tersebut, tetapi temuannya kemudian digunakan untuk menyelamatkan banyak jiwa yang menderita.
Seseorang pernah menciptakan alat sederhana untuk menggali saluran air bawah tanah bagi orang-orang yang menderita kekurangan air. Yang lain mendalami rumus matematika untuk memecahkan masalah yang telah membingungkannya sejak kecil. Bahkan ada yang mendedikasikan hidupnya untuk mewujudkan keinginan masa kecilnya untuk terbang.
Saat saya menyaksikan orang-orang ini meraih kesuksesan dalam hidup, sebuah pertanyaan perlahan muncul dalam benak saya:
Mengapa saya bisa melihat masa depan?
Melalui tindakanku, aku telah mengubah masa depan, namun orang-orang ini pada akhirnya tetap berhasil dengan satu atau lain cara—seolah-olah nasib dunia telah ditentukan, atau seolah-olah seseorang telah menetapkan peran mereka dalam kehidupan ini. Banyak masa depan dan kemungkinan bercabang, tetapi orang-orang ini selalu memenuhi peran yang sama di setiap kemungkinan tersebut, hampir seolah-olah mereka didorong oleh kekuatan yang lebih besar yang bersemayam di dalam diri mereka.
Lalu bagaimana dengan saya? Apa peran saya , sebagai seseorang yang bisa melihat ke masa depan?
Aku mencari jawabannya melalui satu-satunya cara yang tersedia bagiku: dengan menutup mata dan sekali lagi mengembara di rentang waktu yang tak berujung. Setiap kali aku melakukan ini, jam-jam seolah membentang hingga tak terhingga—hanya untuk kemudian membuka mata dan mendapati bahwa waktu yang berlalu hanyalah sekejap mata.
Sekali lagi, aku membiarkan kesadaranku mengapung di lautan waktu, arahnya telah ditentukan untuk masa depan yang jauh. Siklus kemakmuran dan kemerosotan melesat melewati diriku, mengaduk pasang surut kemanusiaan yang tak pernah berubah.
Akhirnya, di ujung dunia yang tampaknya tak berujung, berdiri seorang gadis sendirian.
Rambut perak yang sempurna dan mata biru laut yang dalam terukir pada fitur wajah yang sangat halus. Namun, kecantikannya tampak sangat kontras dengan dunia di sekitarnya. Segala sesuatu, langit dan bumi, ternoda oleh kegelapan pekat yang kotor. Di tengah kehampaan yang sunyi, gadis itu hanya mengarahkan pandangan kosongnya ke langit sambil bersenandung lagu yang suram.
Karena penasaran, aku terus mengamati gadis ini dan dunia suram di sekitarnya. Satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun, seratus tahun—waktu berlalu, tetapi tidak ada yang berubah. Kini, hanya gadis ini dan lagu kesepiannya yang tersisa.
Maka, aku kembali mencari masa depan yang lain. Waktu bercabang menjadi jalan yang tak terhitung jumlahnya, menyimpan setiap kemungkinan, setiap persimpangan, dan setiap pilihan untuk eksis di dunia—tetapi sayangnya, tak satu pun yang mengarah pada hasil yang berbeda. Setiap jalan membawaku kembali kepada gadis itu yang bersenandung sendirian di dunia yang hancur, seolah-olah ini adalah peran yang diberikan kepadanya oleh alam semesta itu sendiri: untuk bernyanyi seperti boneka yang rusak, sendirian dan tanpa keselamatan, sebagai satu-satunya peserta kiamat dunia yang tak berkesudahan.
Dalam keinginanku untuk memahaminya, aku melintasi waktu berulang kali, hingga akhirnya aku mengerti peranku. Mengapa aku diberi kekuatan untuk melihat masa depan? Mengapa aku menjadi Sang Bijak?
Semua itu dilakukan…untuk menyelamatkan gadis bernama Eluria Caldwin.
