Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 6 Chapter 6
Epilog
Sorak sorai meriah terdengar. Dari dalam kepulan debu, teriakan kemenangan bergema di seluruh negeri. Api melahap panji-panji naga hitam, mengubahnya menjadi abu yang berhamburan tertiup angin. Mayat-mayat berhiaskan singa emas tenggelam ke dalam tanah di bawah kaki-kaki prajurit yang bergembira. Begitu meriahnya acara itu sehingga mereka melupakan semua protokol. Mereka memandang ke arah tengah barisan, di mana seorang wanita berpakaian mencolok mengangkat kepala yang terpenggal tinggi-tinggi.
Di tengah hiruk pikuk itu, ada beberapa orang yang menyaksikan dalam diam. Mereka berdiri di antara para prajurit, tidak diperhatikan maupun ditegur, namun jelas berbeda dari rekan-rekan mereka. Udara di sekitar mereka terasa sangat dingin, menusuk kulit dan menusuk perut. Sementara orang-orang di sekitar mereka bersorak dan bertepuk tangan, wajah mereka tidak menunjukkan emosi apa pun.
“Kehadiran Tuhan memudar. Sang perampas kekuasaan sudah tidak ada lagi.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Tidak ada kegembiraan di mata mereka, tidak ada kesedihan dalam suara mereka, tidak ada kemarahan dalam sikap mereka. Mereka hanya berbicara apa adanya, dengan nada tanpa intonasi.
“Waktunya telah tiba untuk keluar dari jurang.”
Angin berhembus kencang. Udara mendesah. Perubahan nyata telah terjadi, tetapi tak terlihat dan tak terdengar. Apa yang terjadi di dalam dunia tertutup bukanlah untuk didengar oleh telinga luar.
“Ya Bapa, dengarkanlah doa kami. Kutuklah orang-orang bodoh dengan siksaan abadi. Ya Bapa, dengarkanlah doa kami. Berkatilah umat-Mu yang setia dengan istirahat abadi.”
Dan, tanpa terlihat dan terdengar, mereka menghilang.
