Shinwa Densetsu no Eiyuu no Isekaitan LN - Volume 12 Chapter 0






Prolog
Bocah itu tak akan lagi meratapi nasibnya. Mulai hari itu, ia akan berdiri teguh, tak peduli kekejaman apa pun yang ditimpakan takdir kepadanya atau cemoohan apa pun yang menimpanya. Apakah itu membuatnya lebih kuat atau lebih lemah, bahkan dia sendiri pun tidak tahu. Ia tak punya waktu untuk memikirkan jawabannya. Setiap saat yang dihabiskan untuk memikirkannya adalah keajaiban lain yang tak terwujud, sebutir kebahagiaan lagi yang terlepas dari genggamannya dan tertiup angin.
Untuk mencapai tujuan itu, dia kehilangan harapan.
Jika keinginan dan doa tidak akan berhasil, dia akan mengesampingkan cita-citanya dan menghadapi kenyataan. Surga tidak menyimpan keselamatan. Hanya ada satu jalan: menyelimuti hatinya dengan kekejaman dan mewujudkan mukjizat yang dicarinya dengan tangannya sendiri. Menerima sedekah adalah kemalasan. Menjadi bergantung adalah kematian. Dia akan merebut apa yang dibutuhkannya dan mengambilnya sendiri dengan kekuatan lengannya. Yang kalah kehilangan semua yang dimilikinya. Yang menang mengambil semuanya. Itulah, sekarang dia tahu, jalan dunia.
Maka ia pun mencari kekuasaan. Ia merangkak di atas perutnya melalui lumpur, menanggung rasa malu dan aib, mengejar realisme yang akan mewujudkan visinya. Ia berjuang menembus lumpur mimpinya sendiri, didukung oleh pikiran tentang cita-cita cemerlang para sahabatnya. Dan akhirnya, ia menemukannya: kegelapan yang lebih gelap dari tengah malam, bayangan yang lebih cemerlang dari fajar.
“Akhirnya… aku akan menemukan apa yang selama ini kucari…”
Sambil menyipitkan matanya melawan cahaya, bocah itu berjalan di jalan yang tak terlihat. Tak lama lagi, dia tahu. Segera, dia akan memiliki semua yang diinginkannya.
“Kamu tidak akan menemukan apa pun,” jawab sebuah suara.
Kata-katanya meluncur dari telinga bocah itu seperti air. “Itu ada di sana. Aku tahu itu. Dunia yang kuharapkan…”
Suara itu mendesah kecewa. Ketika suara itu berbicara lagi, ia mengucapkan kata-kata yang akan diingat bocah itu hingga hari kematiannya.
“Katakan padaku,” katanya. “Apa yang kau ketahui tentang keputusasaan?”
Dan dunia dalam mimpinya menjadi gelap gulita.
