Lord Reinkarnasi: Upgrade Segalanya! - Chapter 438
Bab 438 – 438: Asher yang Ditempa Ulang
Jauh di tengah malam…
Ledakan!
Pintu-pintu besar Aula Suci terbuka lebar, engselnya berderit saat terbuka ke dalam. Kelvin menerobos masuk, suara sepatunya bergema di lantai marmer. Ketergesaan terpancar dari setiap langkahnya, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam—ketakutan. Wajahnya terukir dalam topeng ketegangan, seolah-olah ia memikul kebenaran yang terlalu berat untuk ditanggung oleh satu jiwa.
Dia tidak menyadarinya pada awalnya.
Lilin-lilin yang berjajar di sepanjang lorong berpilar, lampu gantung emas besar di atasnya, yang masing-masing dimaksudkan untuk menyala tanpa henti sebagai penghormatan kepada aula, kini gelap. Padam.
Seluruh aula, yang sakral dan abadi, diselimuti keheningan yang dingin, diselubungi oleh kegelapan pekat yang tidak wajar.
Lalu dia melihatnya.
Atau lebih tepatnya… dia merasakannya.
Asher duduk di singgasana di ujung aula, bersandar lemas pada kursi batu hitam yang dingin seolah tak bernyawa. Hanya kakinya yang terlihat di bawah bayangan—tetapi matanyalah yang mengkhianati kehadirannya.
Dua nyala api emas berkobar dalam kegelapan. Bukan sekadar cahaya—melainkan membakar. Mereka menusuk.
Napas Kelvin tertahan.
Mata itu bukanlah mata manusia. Mata itu bahkan bukan mata makhluk fana. Mata itu adalah mata yang diceritakan dalam legenda—mata yang konon digunakan Zenas pertama untuk melihat menembus kegelapan dan ilusi.
Melihat Asher seperti ini, siluet tak bergerak yang dikelilingi bayangan, tatapan emasnya menjadi satu-satunya cahaya—sama seperti menyaksikan sosok yang terlepas dari mitos dan bangkit kembali dalam amarah.
Kelvin tersandung di tengah langkahnya, tenggorokannya kering, tetapi bahkan sebelum dia bisa mengucapkan sepatah kata pun—
Beban itu menghantamnya.
Tekanan luar biasa menyelimuti aula seperti gelombang pasang. Mana—tebal, menyesakkan—mengalir dari singgasana seperti badai yang hampir tak terkendali. Ia tidak meraung atau berderak. Ia hanya terasa luar biasa dalam ketenangannya. Seperti gravitasi yang termanifestasi.
Lututnya lemas tanpa perlawanan.
Gedebuk.
Dia jatuh terduduk di lantai, gemetar—bukan karena takut pada Asher sendiri, tetapi karena apa pun yang mungkin telah mendorongnya ke keadaan ini.
Kelvin tak berani mendongak lagi. Yang bisa dilakukannya hanyalah berlutut dan menunggu izin untuk berbicara. Beban aula suci itu tak lagi terletak pada batu, atau sejarahnya.
Itu dia.
Dan apa pun berita yang dibawa Kelvin—itu harus sepadan dengan keributan ini.
“Yang Mulia…”
Suara Kelvin bagaikan benang tipis yang rapuh, hampir tak lebih keras dari bisikan angin di dalam ruang bawah tanah. Pupil matanya—tertuju pada lekukan rumit lantai marmer—bergetar.
Dia tidak berani mengangkat pandangannya.
Karena ada sesuatu yang telah berubah.
Sesuatu telah meledak di dalam diri Asher.
Keheningan yang begitu luas kini terpancar dari singgasana itu sehingga membuat keheningan yang berat di Aula Suci terasa seperti kebisingan. Ini bukan amarah, bukan pula kesedihan—ini adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sesuatu yang mutlak.
Kemudian, Asher berbicara.
“Kami sedang mendengarkan.”
Kata-kata itu terucap—dalam, bergema, dan berlapis-lapis. Seolah-olah bergema dari dinding keabadian, seolah-olah suaranya bukan hanya miliknya sendiri tetapi membawa beban penghakiman yang tak terlihat. Kelvin tersentak, getaran menjalari seluruh tubuhnya.
Ini bukanlah kata-kata seorang anak laki-laki. Kata-kata itu juga tidak dipengaruhi oleh para pendahulunya—tidak ada tanda-tanda kerasukan leluhur, tidak ada perubahan warna mata, tidak ada suara yang berbicara melalui dirinya.
Ini adalah Asher.
Namun, Asher Kelvin yang sekarang bukanlah Asher yang pernah dikenalnya.
Ini adalah jiwa yang dibentuk ulang oleh amarah, kesedihan, dan tujuan. Seorang penguasa yang telah melewati cobaan berat dan muncul bukan sebagai sosok yang hampa—melainkan menjadi lebih kuat. Perubahan itu tak terbantahkan.
Dia telah mencapai pola pikir Absolut.
Suatu ranah pemikiran, ranah kehadiran, di mana kehendak penguasa adalah kehendak bangsa, dan kata-katanya tidak hanya membawa hukum, tetapi juga hak ilahi. Konon hanya satu orang yang masih hidup yang pernah menyentuh keadaan seperti itu—Kaisar Galvia.
Kekuatan Kaisar Api Suci mulai redup. Separuh kerajaannya tercekik oleh serikat pedagang. Status sucinya ditopang oleh kemegahan, bukan kekuatan sejati.
Pangeran Aaron? Terpecah belah. Wilayahnya terbagi seperti daging di antara serigala.
Asher tidak memiliki rantai seperti itu.
Dan Kelvin tahu—ini bukan sandiwara. Ini bukan peniruan perintah.
Ini adalah perintah.
Belas kasihan di Asher kini ditimbang melawan keadilan. Kelalaian akan berujung pada hukuman. Bukan perubahan sikap, melainkan perubahan semangat.
Dia bukan lagi seorang anak laki-laki. Dia adalah sebuah kemauan yang diasah menjadi bentuk yang nyata.
Kelvin menelan ludah dengan susah payah dan akhirnya menyampaikan pesan itu.
“Everard telah menyerang kapal-kapal kita.”
Suaranya bergetar. “Baron Josef… akhirnya dia menemukan sebuah pulau, tetapi disergap oleh tiga kapal bajak laut Everard. Beberapa orang kita terbunuh. Sisanya… diculik.”
“Bagaimana dengan Tuan Josef?” tanya Asher dengan tenang—tetapi ketenangan itu seperti pedang sebelum diayunkan.
Tenggorokan Kelvin tercekat. “Dia telah ditangkap, Tuanku. Tampaknya… target sebenarnya adalah kapal milik Estate. Tapi kapal itu terlalu kuat. Mereka kehilangan dua kapal saat mencoba merebutnya.”
“Dan yang ketiga?”
“Ia melarikan diri. Bersama baron dan… seratus dua puluh orang dari bangsa kita.”
Tatapan Asher tidak goyah, tidak berkedip.
“Berapa banyak yang mereka bunuh?”
Bibir Kelvin sedikit terbuka—perlahan. Seolah mengatakannya membuat semuanya terasa lebih nyata.
“Enam ratus.”
Tepat saat itu, sebuah suara memecah keheningan yang mencekam di Aula Suci.
“Tuanku, Kepala Suku Lan telah kembali!”
‘Lan!’
Pikiran Asher semakin tajam. Dia adalah yang paling halus di antara para Malaikat—cermat, efisien, dan tanpa emosi. Dia telah menjalani pelatihan intensif bersama yang lain di kedalaman Ashkelon. Namun sebulan yang lalu, Asher menariknya ke samping—mempercayakan kepadanya tugas yang rumit dan berbahaya: menyusup ke House Mormont, dan mengungkap kebenaran tentang Duke Ohad dan kematian putranya.
“Masuk,” perintah Asher.
Pintu-pintu berderit terbuka sekali lagi, dan seorang pria melangkah masuk ke aula, diselimuti bayangan dan keheningan.
Berambut cokelat dan berbahu lebar, ia mengenakan baju zirah kulit hitam ketat yang pas dengan tubuhnya. Sebuah syal biru tua melilit leher dan bagian bawah wajahnya, menutupi semua yang ada di bawah hidungnya. Di punggungnya, sebuah pisau tergeletak—terlalu besar untuk belati, terlalu pendek untuk pedang. Itu adalah senjata yang dirancang untuk kematian yang cepat dan senyap.
Mata Kelvin membelalak tak percaya.
Dia berjalan… tanpa terpengaruh?
Mana yang masih mengalir dari Asher seharusnya sudah menjepit sang pembunuh ke tanah. Mana itu telah menghancurkan Kelvin, seorang Pendekar Pedang berpengalaman, dengan kekuatan dahsyatnya. Namun Lan bergerak dengan lincah, tanpa gentar, hingga ia mencapai beberapa langkah di belakang posisi Kelvin. Baru kemudian beban itu akhirnya menimpanya seperti longsoran salju.
Tanpa ragu, Lan berlutut, tetapi tidak seperti Kelvin, ia mengangkat pandangannya.
Ada rasa hormat di matanya.
Dan urgensi.
“Tuanku,” kata Lan, suaranya tetap tenang meskipun diliputi oleh kehadiran yang sangat menekan. “Jessica Mormont dan putranya berencana membunuh anak-anak Anda. Saya punya buktinya.”
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan penekanan yang serius:
“Mereka membutuhkan bantuan dari Ordo Bayangan yang memiliki peringkat pembunuh bayaran.”
Aula itu kembali hening.
Bahkan cahaya bulan yang masuk dari jendela-jendela melengkung tampak berhenti, seolah dunia sedang menahan napas.
Kemudian-
Asher berdiri.
Menjulang seperti monolit, tubuhnya yang menjulang tinggi terpancar di bawah sinar bulan, menciptakan bayangan panjang dan tajam di lantai. Tatapan matanya yang berapi-api penuh tujuan, menerangi tabir kegelapan yang melekat pada dirinya. Benang-benang kendali halus yang selama ini dipertahankannya terurai, digantikan bukan dengan amarah, melainkan dengan kejelasan. Kejelasan yang dingin dan menuntut.
Inilah momen yang telah ditunggu-tunggunya.
Jawaban yang dia butuhkan.
Nama-nama tersebut.
Para arsitek tersembunyi di balik kekejaman yang dilakukan terhadap anak-anaknya.
Para konspirator di balik helaian rambut perak di rambut istrinya.
“Benarkah begitu?”
