Lord Reinkarnasi: Upgrade Segalanya! - Chapter 372
Bab 372 – 372: Pintu Masuk Utama
Mata Sapphira melebar dalam keheningan yang terkejut, pupil matanya bergetar seperti daun yang diterpa angin musim gugur.
Kata-kata itu menggantung di udara, sarat dengan implikasi, sementara sikap tenang Aquila seolah menggarisbawahi besarnya wahyu tersebut.
“Demam, nyeri tulang, dan urat kebiruan di sayap,” Aquila melafalkan, suaranya selembut hembusan angin yang menyembunyikan gejolak yang berkecamuk di dalam diri Sapphira.
Untuk sesaat, tatapan Sapphira tertuju pada sayapnya, seolah mencari tanda-tanda yang akan mengkonfirmasi hal yang mustahil. Pikirannya kacau, berbagai pikiran melayang liar seperti laut yang diterjang badai.
Hamil.
Bersama anak Asher.
Kesadaran itu meresap ke dalam kesadarannya seperti gelombang pasang yang bergerak lambat, membawa serta pusaran emosi.
Sebaliknya, wajah Mia berseri-seri seperti matahari terbit, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan yang tak terkendali. Dia menggenggam lengan baju Aquila, suaranya hampir tak terdengar.
“Apakah kau yakin? Benar-benar yakin?” Ekspresi Aquila tetap tanpa emosi, nadanya tak berubah.
“Tentu saja. Tanda-tandanya sangat jelas. Terutama mengingat bakat uniknya, yang membuatnya kebal terhadap penyakit.”
Genggaman Mia mengencang, antusiasmenya menular. “Ini berita yang luar biasa! Yang Mulia harus segera diberitahu. Kami telah berharap memiliki pewaris, dan sekarang…” Kata-katanya terhenti, tenggelam dalam janji masa depan yang penuh kemungkinan.
Saat kedua wanita itu bereaksi dengan tingkat antusiasme yang berbeda, pikiran Sapphira berputar dalam perenungan yang tenang.
Beban kehamilannya menimpanya seperti selendang, membawa serta perasaan cemas dan heran.
Apa arti semua ini bagi masa depannya, bagi hubungannya, dan bagi kehidupan yang tumbuh di dalam dirinya?
“Haruskah kita memberitahunya?” Suara Sapphira hampir tak terdengar, rapuh dan ragu-ragu, namun suara itu menarik perhatian kedua wanita lainnya seperti benang yang terurai dari sutra.
“Kita harus. Tanpa penundaan,” jawab Mia dengan tekad yang teguh, matanya setajam batu. Tidak ada keraguan dalam nada suaranya, hanya ketegasan dalam menjalankan tugas.
Tatapan Aquila melembut, dan dia menoleh ke Sapphira, berbicara dengan kelembutan seseorang yang tahu apa yang akan terjadi. “Dia akan segera mengetahuinya. Masa hidup jenis kalian mungkin lebih lama daripada manusia mana pun selama berabad-abad, tetapi waktu tidak mengenal ampun terhadap kehidupan yang tumbuh di dalam rahim. Lima bulan, tidak lebih… dan kau akan melahirkan anaknya.”
Sapphira mengatupkan bibirnya, napasnya tertahan di tenggorokan. Jari-jarinya sedikit gemetar saat meraba perutnya. “Kita harus memanggil Baroness Katarina,” gumamnya. “Dan berkomunikasi dengannya untuk mendapatkan penglihatan. Aku harus tahu… Aku perlu memastikan itu adalah seorang putra. Anak pertamanya harus laki-laki.”
Aquila mengangguk serius. “Aku akan segera mengirim kabar. Dia pasti akan datang—mungkin bahkan bergegas ke sini begitu pesan itu sampai ke telinganya.” Senyum penuh arti tersungging di bibirnya.
Sapphira membalas dengan senyum kecil, tetapi hatinya jauh dari tenang. Pikirannya hanya dipenuhi oleh bayangan Asher. Senyumnya. Kerutan di dahinya saat sedang berpikir keras. Kehangatan suaranya saat hanya berbicara kepadanya.
Bagaimana reaksinya jika mendengar berita itu?
Akankah dia bersukacita—atau malah merasa jijik?
Akankah beban menjadi seorang ayah menghancurkannya—atau justru mengangkatnya?
Namun, bahkan ketika dunia pribadi mereka berada di ambang pengungkapan, di luar tembok rumah besar itu, badai kekaguman dan ketidakpercayaan sedang berkecamuk.
Jauh di atas kota Paradise, para penjaga berdiri membeku di atas benteng, mata mereka terbelalak tak percaya. Salah seorang menjatuhkan tombaknya dengan bunyi dentingan logam. Yang lain berlutut.
Melayang menembus awan adalah sebuah kapal yang belum pernah dilihat siapa pun di antara mereka seumur hidup mereka—sebuah kapal, yang mustahil melayang di udara, mengukir jalannya di langit seperti kereta dewa.
Di geladaknya terdapat puluhan—bahkan ratusan—sosok bersenjata, telinga mereka panjang dan meruncing, punggung mereka dihiasi sayap berwarna-warni yang berkilauan seperti pelangi yang terpecah-pecah.
Peri.
Aquila melihat sekilas gerakan dari sudut matanya dan menoleh tajam ke arah jendela. Di sana, turun dari langit, tampak makhluk bersayap—elegan, bercahaya, dan sangat asing.
Dia bergerak perlahan ke arah jendela, seolah mendekati mimpi yang nyata. “Apakah itu… manusia?” tanyanya, hampir takjub, kata-kata itu keluar dari mulutnya seperti doa yang terlupakan.
Sapphira melangkah di sampingnya, mata ungu lebar, dan memiringkan kepalanya saat cahaya dari langit terbuka membingkai para peri dalam kilauan keemasan. Sayap mereka membiaskan sinar matahari menjadi warna-warna yang berjatuhan, memenuhi langit dengan keindahan yang tidak wajar. Jantungnya berdebar kencang.
Rakyatnya.
Mimpinya.
Api yang selalu menyala di dalam dirinya—kerinduan untuk menemukan orang lain seperti dirinya, untuk tidak lagi merasa seperti satu-satunya melodi sejenisnya di dunia yang penuh dengan nada asing—sedang menjadi kenyataan di depan matanya.
Di bawah, jalan-jalan di Paradise menjadi sunyi senyap. Ribuan orang menyaksikan dari jendela dan pintu, mulut mereka ternganga tak percaya. Semua mata tertuju ke atas, ke arah peri berambut pirang yang memimpin pasukan udara, yang kehadirannya saja sudah menimbulkan kekaguman.
“Sebuah kota… yang mengapung?” Alexander berbisik pada dirinya sendiri, alisnya berkerut. Keajaiban yang terbentang di hadapannya seharusnya membuatnya takjub, tetapi yang dirasakannya hanyalah rasa jijik yang pahit.
Ini—keajaiban ini—seharusnya tidak pernah menjadi milik umat manusia, pikirnya. Seandainya para peri yang mengklaim langit, mereka pasti akan membangun kota-kota dari kaca bulan dan monumen-monumen yang menjulang seperti puisi ke awan. Pulau terbang ini… keajaiban ini… pasti akan menjadi surga yang layak disebut demikian.
Dia mendecakkan lidah, merasa jijik. Manusia, selalu haus akan kekuasaan yang tidak mereka pahami.
Lalu, terdengar suara—dalam, berat, seperti guntur yang menggema di atas batu. Sebuah suara. Bukan, sebuah raungan.
Dia berbalik—dan terdiam kaku.
Seratus orang berbaris menuju kerumunan itu… atau yang awalnya ia kira sebagai manusia.
Raksasa.
Para kolosus menjulang tinggi dan berbadan tegap, masing-masing terbungkus lempengan tebal yang berkilauan seperti baja cair di bawah sinar matahari. Beberapa berdiri setinggi delapan kaki, yang lain sembilan—dan memimpin mereka, sosok mengerikan yang bahkan lebih besar dari kerabatnya, berdiri setinggi sepuluh kaki, dengan palu perang tersampir di punggungnya seperti tongkat mainan dan busur panah sebesar balista di tangannya.
Darah Alexander membeku. Mereka bukanlah ksatria. Mereka adalah benteng berjalan. Monster yang mengenakan baju zirah kelas Saint dari kepala hingga kaki—masing-masing memancarkan kekuatan.
Bagaimana…?
Bagaimana mungkin seorang bangsawan manusia mampu membeli ini?
Bahkan sebuah kerajaan pun tak mampu mengerahkan kekuatan sebesar itu!
Kedisiplinan mereka sangat mengagumkan. Tak ada satu langkah pun yang salah tempat. Tidak ada kekacauan dalam formasi mereka. Seperti besi yang ditempa menjadi satu tujuan, mereka maju.
Udara bergetar saat raksasa pemimpin itu berbicara lagi, suaranya seperti gunung yang retak. “Peri, ada baiknya kau turun.”
Itu bukan permintaan. Itu adalah perintah, raungan guntur yang hampir tak tertahan.
Alexander tersentak, terpaksa menundukkan pandangannya. Nada suara raksasa itu tidak memberi ruang untuk kesombongan. Kehadirannya menghancurkannya.
Dan dari sosok yang menjulang tinggi itu muncullah satu pemikiran, sejelas besi:
Dia membenci tatapan mata Alexander. Kesombongan bangsawan itu. Tatapan angkuh itu.
Dia akan menghancurkannya.
