Yang Terbesar sepanjang Masa - MTL - Chapter 700
Bab 700 Momentum yang Tak Terbendung
Kepulangan Zachary ke Liverpool pada hari Senin, 10 September 2018, dipenuhi dengan energi dan tujuan yang baru.
Setelah penampilan gemilang di Rwanda, di mana ia memainkan peran penting dalam kemenangan telak Pantai Gading 4-0 untuk memulai kampanye kualifikasi Piala Afrika, ia merasa tak terhentikan.
Penerbangan pulang memberinya waktu untuk merenung, tetapi juga untuk memfokuskan kembali pikirannya. Pikirannya sudah tertuju pada jadwal padat Liverpool, di mana beberapa minggu ke depan akan menjadi periode penting bagi klub dan ambisi pribadinya.
Saat kakinya menginjak tanah Inggris, kecepatan Liga Premier langsung memanggilnya. Kemewahan waktu istirahat tidak ada—Liverpool FC adalah sebuah mesin di bawah Jürgen Klopp, tim yang terkoordinasi dengan baik dan mengejar kejayaan.
Zachary tahu bahwa tidak ada waktu untuk berpuas diri dengan kemenangan masa lalu. Tuntutan Liga Premier dan Liga Champions sangat berat, tetapi bagi pemain sekaliber dirinya, itu adalah platform yang sempurna untuk bersinar.
Seiring berjalannya hari, Zachary dengan cepat menyesuaikan diri dengan ritme yang familiar di Melwood, tempat latihan bersejarah Liverpool. Tubuhnya, yang masih segar setelah tugas internasional, siap menghadapi kerasnya sepak bola Premier League.
Klopp dan stafnya sudah bekerja keras, mempersiapkan diri untuk pertandingan berikutnya—perjalanan tandang melawan Tottenham Hotspur di Wembley, pertandingan sulit melawan tim yang dikenal karena dinamisme dan kemampuan menyerangnya.
Persiapan berlangsung intens, seperti biasanya. Pertemuan taktik Klopp merupakan kombinasi antara energi yang bersemangat dan analisis mendalam. Manajer asal Jerman itu memiliki antusiasme yang menular, yang memengaruhi setiap pemain dalam skuad.
Zachary, yang masih relatif baru di klub, terus merasakan semangat dan antusiasme tim yang tak terbatas dari rekan-rekan setimnya. Permainan pressing intensitas tinggi yang telah dikuasai Liverpool sangat menuntut fisik dan mengasyikkan. Setiap sesi latihan dirancang untuk membangun kekompakan tim, mempertajam permainan serangan balik yang rumit dan struktur pertahanan yang telah menjadi ciri khas Liverpool.
Pada Jumat malam, tim sudah siap. Zachary merasakan ketegangan yang meningkat tetapi juga kepercayaan diri yang tenang di ruang ganti. Mereka telah mempersiapkan diri dengan baik, dan setiap orang tahu peran mereka masing-masing. Tottenham di Wembley akan menjadi lawan yang sulit, tetapi Liverpool, yang sedang berada di puncak performa awal musim, merasa tak terkalahkan.
Sabtu, 15 September, tiba dengan semilir angin London yang menyegarkan saat Liverpool bertandang ke Wembley untuk pertandingan melawan Spurs. Stadion, benteng ikonik sepak bola Inggris, dipenuhi oleh para penggemar yang penuh semangat, suasananya bergemuruh dengan energi.
Suasana pertandingan sangat terasa; kedua tim berjuang memperebutkan posisi di dekat puncak klasemen Liga Premier. Spurs, di bawah asuhan Mauricio Pochettino, telah menjadi tim yang tangguh dalam beberapa tahun terakhir, dengan serangan mereka dipimpin oleh Harry Kane yang tak kenal lelah dan kemampuan menggiring bola Christian Eriksen yang memukau.
Zachary merasakan debaran yang familiar saat ia melangkah ke lapangan. Kemegahan Wembley sangat luar biasa, tetapi ia sangat fokus. Inilah alasan mengapa ia bergabung dengan Liverpool: untuk bermain di pertandingan terbesar, menghadapi lawan terberat, dan mengejar trofi.
Pertandingan dimulai dengan tempo yang sangat cepat, dengan kedua tim berusaha untuk menguasai jalannya pertandingan.
Babak pertama merupakan pertarungan fisik yang intens di lini tengah, di mana Zachary terus-menerus mengganggu permainan Tottenham sambil mencoba berkoordinasi dengan pemain seperti Mohamed Salah dan Sadio Mané di lini serang. Permainan pressing Liverpool mencekik Spurs di awal pertandingan, memaksa mereka melakukan kesalahan.
Pada menit ke-39, Liverpool mencetak gol pertama. Tendangan sudut dari James Milner disambut oleh Georginio Wijnaldum, yang sundulannya ditepis kiper Spurs, Michel Vorm, hingga membentur mistar gawang. Namun, dalam kemelut yang terjadi setelahnya, bola melewati garis gawang—Liverpool unggul 1-0. Para pendukung Liverpool yang datang ke Wembley bersorak gembira, suar merah mereka menerangi tribun Wembley.
Babak kedua menyaksikan Liverpool memperketat cengkeraman mereka pada permainan.
Zachary, bermain dengan ketenangan dan visi seperti biasanya, mulai mengatur permainan di lini tengah. Kemampuannya untuk menerobos pertahanan lawan membuka ruang bagi Salah dan Firmino untuk memanfaatkannya. Kemudian, pada menit ke-54, Zachary memberikan umpan akurat kepada Sadio Mané, yang melesat di sayap kiri dan mengirimkan umpan silang rendah. Firmino berada di sana untuk menyambutnya dan mencetak gol, menggandakan keunggulan Liverpool menjadi 2-0.
Spurs memang berhasil memperkecil kedudukan melalui Erik Lamela di akhir pertandingan, tetapi Zachary-lah yang memastikan kemenangan Spurs di menit ke-85. Sebuah pergerakan yang terkoordinasi dengan baik membuat Mané memberikan umpan kepadanya di tepi kotak penalti. Dengan cepat mengarahkan bola ke kaki kanannya, Zachary melengkungkan bola ke sudut atas gawang, membuat Vorm tak berdaya.
Skor 3-1 merupakan cerminan yang tepat dari dominasi Liverpool.
Setelah peluit akhir berbunyi, para pemain Liverpool saling berpelukan. Kemenangan itu sangat berarti—Wembley selalu menjadi stadion yang sulit, tetapi mereka sekali lagi berhasil meraih kemenangan.
Zachary masih merasakan adrenalin mengalir deras di tubuhnya saat mereka berjalan kembali menyusuri terowongan. Suara Klopp yang bersemangat bergema di sepanjang koridor, sudah membicarakan apa yang telah mereka lakukan dengan baik dan apa yang bisa ditingkatkan.
Setelah kemenangan atas Spurs, perhatian langsung beralih ke Eropa. Paris Saint-Germain, salah satu tim elit Eropa, akan datang ke Anfield untuk pertandingan pertama Liverpool di Liga Champions.
Zachary selalu memimpikan malam-malam seperti ini—Anfield di bawah sorotan lampu, deru Kop yang memekakkan telinga, dan keriuhan antisipasi yang memenuhi stadion jauh sebelum pertandingan dimulai.
Pada Selasa malam, 18 September, Zachary merasakan beban sejarah saat ia melangkah ke lapangan Anfield yang sakral. Para pendukung di tribun Kop bergemuruh menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” saat para pemain berbaris untuk menyanyikan lagu kebangsaan Liga Champions.
PSG, yang memiliki pemain-pemain seperti Neymar, Kylian Mbappé, dan Edinson Cavani, bukanlah tim yang asing dengan malam-malam besar di Eropa. Pertandingan ini akan menjadi ujian bagi ketangguhan Liverpool.
Pertandingan langsung memanas sejak awal. Daniel Sturridge, yang menggantikan Firmino, membawa Liverpool unggul pada menit ke-30, menyundul bola hasil umpan silang Andrew Robertson. Penalti James Milner sesaat sebelum jeda memberi Liverpool keunggulan 2-0, tetapi PSG membalas melalui penyelesaian klinis dari Thomas Meunier.
Zachary kemudian terlibat aktif sepanjang babak kedua, mengendalikan tempo di lini tengah dan bermain dengan penuh semangat yang mencerminkan niat menyerang Liverpool. Pada menit ke-58, ia menerima bola di dekat garis tengah lapangan dan dengan cepat melaju ke depan, melewati dua bek PSG sebelum memberikan umpan terobosan kepada Firmino, yang dengan tenang menceploskan bola melewati Alphonse Areola.
Kemudian, saat PSG mulai menekan ke depan untuk mencari gol peny equalizer, permainan menjadi lebih terbuka, memungkinkan Liverpool untuk memanfaatkan ruang tersebut.
Pada menit ke-77, momen Zachary tiba. Sebuah serangan balik cepat membuat Salah menerobos sayap kanan. Umpannya disambut oleh Zachary, yang menyelesaikannya dengan tendangan tenang, membuat PSG tak mampu mengejar. Skor akhir 5-2 merupakan pernyataan tegas bagi Eropa: Liverpool telah kembali dan haus akan kejayaan Liga Champions.
Setelah meraih kemenangan di Liga Champions, perhatian Liverpool kembali tertuju pada kompetisi domestik. Jadwal pertandingan sangat padat, dengan Southampton datang ke Anfield hanya empat hari kemudian. Zachary, yang kini berada dalam performa terbaiknya, sangat ingin melanjutkan rentetan golnya.
Pada hari Sabtu, 22 September, tekanan tanpa henti Liverpool sekali lagi terbukti terlalu berat bagi lawan mereka. Southampton kesulitan mengimbangi kecepatan dan intensitas tim Klopp.
Gol dari Firmino, Salah, dan Zachary memastikan kemenangan nyaman 3-0. Gol Zachary, sebuah tembakan keras dari luar kotak penalti, semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu gelandang paling berbahaya di Liga Premier.
Suasana di sekitar Liverpool sangat meriah. Setiap kemenangan membawa mereka lebih dekat ke tujuan utama mereka: kejayaan di Premier League. Namun, tantangan terus datang.
Pada pertengahan pekan, Chelsea tiba di Anfield untuk pertandingan Piala EFL. Pertandingan itu penuh drama dan keseruan. Meskipun Chelsea memberikan perlawanan, Liverpool berhasil meraih kemenangan tipis 3-2, dengan Zachary mencetak gol penting untuk menjaga harapan mereka di kompetisi piala domestik tetap hidup.
Hanya beberapa hari kemudian, pada hari Sabtu, 29 September, Liverpool bertandang ke Stamford Bridge untuk menghadapi Chelsea sekali lagi, kali ini di Liga Premier. Stamford Bridge selalu menjadi tempat yang sulit bagi Liverpool, tetapi kali ini, Zachary dan rekan-rekan setimnya bertekad untuk membawa pulang tiga poin penuh.
Pertandingan berlangsung ketat, dengan kedua tim saling menyerang sepanjang laga. Eden Hazard dari Chelsea menciptakan masalah dengan kemampuan dribbling-nya, tetapi pertahanan Liverpool tetap kokoh.
Pada menit ke-68, Zachary menemukan ruang di tepi kotak penalti dan melepaskan tembakan melengkung yang meluncur ke sudut atas gawang, memberi Liverpool keunggulan 2-1. Keunggulan itu tidak akan mereka lepaskan, saat mereka meninggalkan London dengan kemenangan penting lainnya.
Saat September berakhir, jadwal Liverpool tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pertandingan Liga Champions yang krusial melawan Napoli menanti mereka di Stadio San Paolo yang menakutkan. Suasana di Napoli tetap mencekam seperti biasanya, dengan para penggemar Italia yang penuh semangat menciptakan riuh rendah.
Pertandingan itu sendiri merupakan pertarungan taktik yang menegangkan. Napoli, yang diasuh oleh Carlo Ancelotti, terorganisir dengan baik dan sulit ditembus. Liverpool kesulitan menemukan ruang di babak pertama, dengan pertahanan Napoli yang kokoh. Namun, Zachary, yang tidak gentar oleh tekanan, terus maju, mendorong timnya dengan energinya yang tak kenal lelah.
Saat waktu terus berjalan menuju akhir pertandingan dan skor tetap imbang 1-1, tampaknya hasil imbang tak terhindarkan. Namun pada menit ke-93, Liverpool mendapatkan tendangan bebas tepat di luar kotak penalti.
Zachary, yang dikenal karena ketepatannya dalam situasi bola mati, tampil gemilang.
Stadion menjadi hening saat ia bersiap menembak, tekanan momen itu terasa begitu kuat. Dengan satu tendangan cepat, ia melengkungkan bola melewati tembok pertahanan dan masuk ke sudut atas gawang. Sorak sorai para penggemar Liverpool yang datang dari jauh menggema di seluruh stadion saat rekan-rekan setim Zachary mengerumuninya untuk merayakan gol tersebut.
Kemenangan 2-1 di Napoli adalah kemenangan yang diraih dengan susah payah, tetapi kemenangan itu mengirimkan pesan yang jelas: Liverpool siap untuk kembali menghadapi tim-tim terbaik Eropa.
Setelah pertandingan sengit melawan Napoli, Liverpool pulang dengan perasaan puas. Namun, tidak ada waktu untuk beristirahat.
Tantangan terbesar di Premier League sudah di depan mata: Manchester City. Tim asuhan Pep Guardiola telah menjadi rival utama Liverpool dalam perebutan gelar, dan setiap pertemuan antara keduanya selalu terasa seperti final.
