Menjadi Keluarga Sang Penjahat - Chapter 208
Bab 208: Prolog After Story (Ilustrasi)
Aria kembali ke gua bersama Lloyd.
Ke gua tempat Tuhan bersemayam. Mereka membawa kembali perasaan yang telah dilupakan Tuhan.
“Kita telah menempuh perjalanan yang panjang.”
Aria meletakkan tangannya di tempat yang seharusnya menjadi jantung Tuhan.
Dan tangan Lloyd menutupi tangan Aria.
Kebaikan, kedengkian, dan hati nurani Tuhan.
Ketika keduanya mencoba mengembalikan semuanya.
Tiba-tiba, seseorang mencengkeram pergelangan tangan Aria dengan sangat kuat.
“Ah!”
Aria mendongak dengan terkejut.
“Lloyd?”
Bukan.
Pada pandangan pertama, dia hampir salah mengenali pria itu.
Namun ketika dia melihat lebih dekat, ternyata sangat berbeda.
Orang satunya lagi begitu besar sehingga dia ragu apakah itu orang yang sama.
‘Tapi mereka terlihat sangat mirip.’
Bahkan warna rambut dan warna mata pun sama.
Saat itulah Aria mengerutkan bibir untuk bertanya siapa dia. Pria itu berbicara lebih dulu padanya.
“Belum waktunya.”
Belum waktunya?
‘Lalu, kapan aku harus membalas perasaan Tuhan?’
“Lalu, ketika…”
“Ssst. Kamu akan tahu kapan waktu yang tepat.”
Setelah pria itu menjawab dengan wajah acuh tak acuh, dia tiba-tiba memberikan Aria seekor bayi naga yang tidak dia ketahui dari mana asalnya.
“ Mya mya !”
“Sampai saat itu, jaga dirimu baik-baik.”
Lalu dia tiba-tiba menghilang.
Aria menatap naga di pelukannya dengan wajah kosong sejenak.
Warnanya hitam, seperti bayi naga yang sedang dipelihara Aria, tetapi matanya berwarna merah muda seperti kelopak bunga.
Warna matanya sama dengan warna matanya.
“…!”
Aria melompat berdiri.
‘Sebuah mimpi?’
