God of Cooking - HTL - Chapter 46
Dewa Memasak – Bagian 46: Ketenaran tak terduga (3)
Ada dua alasan Jo Minjoon tidak menyajikan daging kepiting sekaligus dengan sup bisque. Alasan pertama karena jika daging kepiting terlalu matang, kelembutannya akan hilang. Jadi, penyajian terbaik adalah sup dituangkan paling terakhir.
Alasan yang kedua sederhana, yaitu pelayanan. Semakin mewah suatu restoran, harganya semakin mahal dan apa yang termasuk ke dalam harga tersebut bukanlah makanan yang sederhana. Ada banyak tempat / restoran yang mendapat 2 atau 3 bintang michelin, dengan chef kepala datang sendiri menjelaskan makanan pada pelanggan di sana.
Dan orang yang menuangkan sup bisque tidak hanya Jo Minjoon, namun Kaya juga membantu menyajikan itu. Bagi pelanggan, itu adalah hal yang bagus karena Kaya adalah salah satu peserta Grand Chef yang paling populer dan tampak lebih menarik saat dilihat bersama Jo Minjoon, peserta yang membuat skandal dengannya.
Bahkan ada pelanggan yang bertanya selama beberapa menit mengapa mereka berdua memberi pelayanan bersama. Akan tetapi, PD tidak secara khusus menghentikan mereka karena mereka tidak menanyakan hal yang berlebihan dan mereka memberi materi siaran yang menarik. Jadi, PD tidak perlu menghentikan itu.
Hasilnya, tentu membuat mereka berdua lelah. Kaya mengambil nafas dan menatap meja. Saat dia sedang menyajikan sup bisque, pelanggan menunjukkan banyak ketertarikan mereka pada Kaya yang sedang terganggu.
Untuk tersenyum pada mereka bukan sesuatu yang sulit karena saat dia bekerja di pasar, ada beberapa kejadian yang mengharuskan dia tersenyum palsu. Namun, secara mental itu memang sungguh melelahkan.
Setelah beberapa saat kemudian, Kaya semakin lelah.
Pelanggan terakhir sedang makan siang. Jo Minjoon dan Kaya berdiri dengan gugup. Mereka hanya bisa melakukan itu. Pada meja itu, duduk wajah-wajah yang familiar, Emily dan Joseph. Namun, orang yang harus mereka perhatikan adalah Emily karena dia yang bertanggung jawab mengevaluasi tim biru, tim Kaya, sedangkan Joseph bertanggung jawab pada tim Jacob. Joseph harus mengevaluasi tim biru saat makan malam. Alan harus melihat dan mengevaluasi para peserta yang berada di dapur dan bukan di meja makan.
“Bisakah kau menjelaskan hidangan macam apa ini?”
Pada pertanyaan itu, Kaya memandang Jo Minjoon sekilas. Jo Minjoon membuka mulutnya dan menjawab dengan tenang.
“Aku akan menuangkan sup bisque pada daging kepiting yang tidak dimasak. Memang hanya seperti ini. Aroma sup bisque akan meresap ke dalam daging dan di dalamnya cita rasa manis dan lezat yang hanya dimiliki kepiting masih terasa. Aku akan merekomendasikan Anda untuk berkonsentrasi pada poin itu. Pertama, silahkan minum supnya.”
Emily mengikuti arahan Jo Minjoon dan mengambil sesendok penuh sup. Setelah meminumnya, kemudian memakan sup bersamaan dengan daging kepiting. Di dalam mulutnya, sedikit senyuman terukir. Sepertinya dia tidak sangat puas, tapi setidaknya, itu bukan ekspresi ketidakpuasan.
“Ini enak. Ah, evaluasi yang sesungguhnya setelah misi selesai. Pergilah dan lanjutkan pekerjaanmu.”
“Iya.”
Mereka menjawab demikian, tapi sebenarnya, ada hal yang tertinggal yang harus dilakukan. Setidaknya, tetap seperti ini sekarang. Belum ada orang yang sudah menghabiskan sup mereka, jadi belum ada piring yang bisa ditarik kembali. Jo Minjoon berbisik pada Kaya yang berdiri di sebelahnya.
“Pergilah ke dapur. Ikan sea bass panggang buatan Chloe, seharusnya mulai disajikan.”
“Oh, oke. Aku paham.”
Kaya memijat lehernya dan pergi ke dapur. Chloe sudah selesai memanggang ikan seabass. Kaya berkata,
“Apa sudah selesai?”
“Tunggu sebentar, aku akan menatanya di piring.”
Chloe dengan hati-hati meletakkan sea bass di atas saus velouté . Sisi yang bersentuhan dengan saus adalah bagian ikan yang tidak tertutup kulit. Jika kulitnya basah terkena saus, maka tidak ada gunanya memanggangnya hingga renyah. Dia meletakkan daun timi seukuran kuku dan plating selesai. Kaya berkata sembari melihat Chloe.
“Aku akan membantumu. Kau tidak keberatan bukan?”
“Tentu saja.”
Kaya berkata sembari membantu Chloe.
“Reaksi pada hidangan Jo Minjoon bagus. Sekarang giliranmu.”
“Mmm..Tiba-tiba aku merasa terganggu.”
“Itu tujuanku mengatakannya.
Kaya mengatakan itu sambil menyeringai. Meskipun itu seperti menekan Chloe, itu adalah cara dia mengekspresikan diri. Chloe bukanlah orang yang berpikiran sempit untuk tersinggung pada seorang gadis yang bahkan belum berusia 20-an dan belum tahu cara mengekspresikan dirinya.
Ada total 20 hidangan ikan sea bass panggang di dalam dua troli. Saat Chloe dan Kaya mendorong troli dan memasuki ruang makan, Jo Minjoon masuk ke dalam dapur. Dia juga mendorong troli yang berisi piring kosong. Tidak ada piring yang menyisakan sup bisque. Chloe tertawa sejenak.
“Kau terbaik.”
Jo Minjoon tertawa tapi tidak menjawabnya. Tidak ada yang lebih bahagia bagi chef karena pelanggan makan dan tidak menyisakan sedikitpun hidangan buatannya.
Karena Chloe memuji Jo Minjoon, dia merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Masakannya dibuat dengan baik, setidaknya, itu bagi Chloe. Namun, jika pelanggan berkata itu tidak lezat, Chloe tidak percaya diri untuk bisa menangani situasi ini.
“Rasanya pasti enak.”
Kaya berkata, Chloe menatap Kaya karena dia merasa Kaya dapat melihat kecemasannya. Kaya menghindari tatapan Chloe dan lanjut berbicara.
“Kau memasak dengan baik. Ikan sea bass yang aku makan kemarin enak, dan itu bukan intinya, kau datang jauh-jauh ke sini dan membuat sebuah kesalahan. Sajian ini, aku bertaruh 1 dollar bahwa mereka akan memakan semua ini termasuk sausnya.”
“…Tapi 1 dollar itu tidak banyak.”
“Diamlah.”
Kaya mendengus dan memalingkan muka. Chloe tertawa dan berkata,
“Terima kasih.”
Tapi tidak ada balasan dari Kaya. Mungkin dia tidak terbiasa mendapatkan ucapan terima kasih atau dia dongkol karena Chloe mengatakan 1 dollar tidak banyak. Chloe penasaran tapi dia akan menyimpannya hingga nanti selesai. Tidak lama kemudian, troli sampai di ruang makan.
“Wow Chloe! Kali ini aku bisa melihat masakanmu. Hidangan yang aku lihat di siaran semua tampak lezat.”
“Terima kasih. Semoga hidangan ini tidak mengecewakan kalian.”
“Boleh aku berfoto denganmu nanti?”
“Iya. Pertama, silahkan mengambil foto hidangan ini. Menurutku, kau pasti ingin melakukannya dari pada sekedar berfoto dengan ku.”
Chloe tersenyum ceria menjawab itu. Tidak hanya pada pelanggan itu, setiap kali dia meletakkan sajian di meja, Chloe membuat kontak mata dan tersenyum dengan ceria pada semua pelanggan.
Biasanya, mudah menyebut itu sebagai senyum formalitas tapi Chloe berbeda. Semua orang yang melihat senyuman itu merasa pikirannya lebih segar. Senyuman itu terlihat sangat ceria, berlebihan jika seseorang berpikir itu senyuman yang dibuat-buat karena merasa bersalah.
Chloe mempunyai karakter yang berbeda dengan Kaya ataupun Jo Minjoon. Perasaan cerah dan ceria terpancar darinya. Senyum Chloe dapat membuat para pelanggan makan dengan lebih bahagia dan nyaman, karena sampai saat ini, mereka terkejut dengan banyaknya kamera hingga mereka tidak bisa menikmati makanan dengan nyaman. Namun sekarang, mereka merasa jauh lebih rileks dan itu juga berarti yang lain.
Lebih tepatnya, itu terlihat oleh Jo Minjoon.
[Sikap ramah dan lembut Chloe membuat pelanggan merasa lebih nyaman.]
[Ikan sea bass panggang dengan saus veloute mengeluarkan semua cita rasa di dalamnya.]
Sejujurnya, dia tidak perlu melihat layar itu. Itu wajar. Jika chef memperlakukanmu dengan ekspresi seperti itu, dengan senyuman itu, kau akan menikmati makananmu, kecuali jika memang tidak lezat. Jo Minjoon berguman dengan suara rendah.
“Apa aku mempelajari sesuatu yang baru?”
“Mempelajari apa?”
Jo Minjoon terkejut dengan suara itu dan melihat ke sebelahnya. Dia tidak tahu Anderson datang untuk mengecek pelanggan dengan lengan terlipat di dada. Jo Minjoon menenangkan jantungnya yang terkeju lalu menjawab,
“Maksudku Chloe, pada pelanggan… Bagaimana aku harus bilang ini… Memperlakukan dengan baik? Bersikap lembut? Ada yang kurang. Benar. Tersenyum dan melayani mereka dengan tulus, hanya dengan itu suasana saat pelanggan makan berubah drastis.”
“Itu wajar.”
“Meski itu wajar, aku tidak bisa melakukan seperti itu dengan baik. Tersenyum dengan sangat ceria dapat membuat orang yang melihatnya merasa bahagia.”
Anderson mendengus menanggapi perkataan Jo Minjoon. Jo Minjoon membuka mulutnya dan berkata dengan dingin.
“Jika ada orang seperti Chloe, maka orang sepertimu dan aku seharusnya ada, yang memperhitungkan semua chef harus tersenyum seperti itu, alih-alih pelanggan lebih memilih chef yang berkesan.”
“Itu benar. …Tapi kenapa kau di sini? Apa kau bertanggung jawab pada hidangan utama?”
“Karena aku punya waktu luang dan aku sudah selesai bersiap. Jangan tanya lagi soal itu. Aku tidak akan ditipu oleh mata-mata.”
“Kau sungguh-sungguh menyebutku mata-mata.”
Anderson tidak menjawab. Sesaat kemudian, Kaya menuju ke mereka dengan troli yang berisi piring kosong. Lebih tepatnya, dia berjalan menuju ke dapur yang berada di belakang mereka. Saat mereka tanpa sadar melihat Kaya, Kaya mengerutkan dahi dan melihat Anderson.
“Jangan memasang badan seperti itu. Kau menghalangi pintu.”
Barulah saat itu Anderson menyadari bahwa dia menghalangi jalan. Telinga Anderson merah lalu dia bergeser. Kaya melewati Anderson dan berkata pada Jo Minjoon.
“Jika kau tidak punya hal untuk dilakukan maka ikuti aku.”
“Kenapa kau menyuruhku melakukan sesuatu?”
“Jika kau tidak mau, aku akan memaksa. Ayolah. Jangan bermain dengan antek dari tim merah.”
“Antek… ? Apa kau menyebutku antek?”
“Diamlah. Jika kau tersinggung, jadilah chef kepala.”
Kaya bahkan tidak melihat Anderson dan pergi melewatinya. Mulut Jo Minjoon setengah terbuka seolah-olah dia menemukan kejanggalan lalu mengikuti Kaya dan bertanya,
“Jika Anderson adalah antek dari tim merah, apa aku antek dari tim biru?”
“Kenapa? Kau tidak suka menjadi antekku?”
“Apa ada orang yang suka?”
“Maka aku akan membuatmu menjadi kaptennya.”
“Bagaimana jika aku tetap tidak suka?”
“…Dasar orang gila.”
Jo Minjoon berpikir bahwa kalimat terakhir tertuju pada diri Kaya sendiri. Namun tatapan Kaya tidak tertuju pada Jo Minjoon, tapi tertuju ke depan, Jo Minjoon perlahan-lahan mengikuti arah tatapan itu. Wajahnya pun menegang.
[Daging dada ayam Tandoori]
Freshness: 87%
Asal: (Terlalu banyak bahan untuk diketahui)
Kualitas: Tinggi (Bahan menengah)
Skor Memasak: 3/10
Jo Minjoon mempercayainya, bahkan jika Peter melakukan kesalahan, level masakannya setidaknya 6. Jo Minjoon percaya bahwa Peter tidak akan membuat kesalahan yang sama dua kali.
Tapi itu bencana. Jo Minjoon tercengang melihat ayam tandoori yang berada di depannya. Daging dada ayam yang disertai saus masala khas India, itulah ayam tandoori. Namun, sesuatu yang di depannya tidak bisa disebut tandoori.
“…Bagaimana bisa ini hangus?”
Kaya membalas dengan nada dingin. Peter terlihat pucat meski dilihat sekilas dan berkata dengan gagap.
“A, aku memasukkan itu ke dalam oven tapi tampaknya aku hanya memanaskan bagian bawah oven. Aku melihat bagian atas belum matang jadi aku tetap mengovennya, tapi bagian bawahnya…”
“Apa kau bodoh? Bukan. Apa kau penyelundup? Memanaskan hanya bagian bawah? Apa yang kau lakukan hingga tidak memperhatikan hal yang sederhana itu? Kau bilang ingin memasak hidangan utama, kau bahkan percaya diri, tapi hasilnya hanya daging dada ayam hangus yang mirip dengan mukamu. Aku bahkan sedih menyebut daging dada ayam. Peter, jawab aku! Apa kau sangat bodoh? Jika iya, maka setidaknya aku akan membiarkannya. Jangan hanya diam seperti lintah dan jawab aku, brengsek tolol!”
Kaya melontarkan umpatan dengan sungguh-sungguh. Namun, tidak ada yang menghentikannya. Ini adalah misi tim dan nasib semua orang bergantung jadi satu. Namun membuat kesalahan di saat misi seperti ini, keberuntungan mereka seketika hancur, hilang tak bersisa.
Alis Peter menegang sejenak lalu menghela nafas. Itu bohong jika dia tidak tersinggung dengan perkataan Kaya, tapi jika dia marah pada situasi seperti ini, jelas itu akan memperburuk suasana. Peter menenangkan jantungnya sebisa mungkin dan mencoba sebaik mungkin menjawab.
“Bagian yang hangus.. Aku akan membuang bagian yang hangus dan menyajikannya. Jadi, beri aku waktu..”
“Apa? Apa kau gila? Tidak hanya menghanguskan daging ayam, tapi kau juga menghanguskan otakmu? Untuk menyajikan ini pada pelanggan? Apa kau berencana membunuh seseorang? Tolong pikirkan. Mereka berkata bahwa orang India pintar. Aku pun berpikir demikian, tapi mungkin salah, atau hanya kau yang bodoh? Bukan. Ini bahkan bukan masalah menjadi bodoh atau tidak. Betapa buruknya manusia yang membuat pelanggan yang ingin makan hidangannnya, tapi menyajikan arang pada pelanggan itu. Sejujurnya, aku pikir aku adalah orang yang paling tidak suka basa-basi di program ini, tapi ternyata tidak. Mengagumkan. Sungguh mengagumkan.”
Peter tidak bisa membalas apapun. Dia sedang mengiris bagian ayam yang hangus seolah-olah dia tidak mendengar apapun. Kaya melotot padanya sejenak dan menjulurkan tangannya. Tangannya meraih daging ayam yang diiris Peter. Peter menatap balik tangan Kaya. Kaya berkata sambil menyeringai memperlihatkan giginya.
“Dengarkan baik-baik. Ini sampah….”
Kaya membuka tangannya, lalu daging ayam terjatuh ke dalam keranjang sampah. Kaya lanjut berbicara,
“Tidak ada chef yang menyajikan sampah di piringnya.”
< Ketenaran tak terduga (3) > Selesai
