Duke, Tolong Berhenti Karena Sakit - Chapter 97
Bab 97
Plink plink.
Tetesan air mulai jatuh ke ujung gaunnya. Pipinya yang halus sudah ternoda oleh bercak air, sementara mata ungunya dipenuhi air mancur yang entah dari mana asalnya.
“Mo, Molitia?”
Ketika Raven tiba-tiba merasa malu karena gagap untuk pertama kalinya, Molitia langsung menyentuh pipinya meskipun tanpa ekspresi.
“Hah? Kenapa…”
Raven bukan satu-satunya yang terkejut melihat air matanya. Molitia—yang juga merasa bingung dengan dirinya sendiri—segera menyeka air mata itu dengan punggung tangannya.
“Anehnya—air mataku…”
Cairan itu mengalir keluar lagi, bahkan setelah dia menyekanya—berulang kali.
“…pasti lebih sakit dari yang kukira.”
Molitia berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum pada Raven. Namun demikian, senyum Molitia malah terlihat buram karena air matanya yang tak kunjung berhenti membasahi pipi dan tangannya.
“Molitia.”
Tangan Raven yang terulur akhirnya memeluknya. Saat ia diselimuti oleh dada dan kehangatan Raven yang lebar, napas Molitia seketika terhenti.
“Kamu boleh menangis.”
Raven berbisik lembut di telinganya. Tangannya, yang secara impulsif merangkul kesedihannya, ragu sejenak sebelum mulai menepuk punggungnya.
“Kamu tidak harus menanggungnya jika keadaan menjadi sulit. Kamu bisa meluapkan semuanya di depanku. Jangan menanggung rasa sakit itu sendirian.”
Matanya, yang menahan air mata karena putus asa mendengar kata-kata Raven, mulai berkaca-kaca. Kemudian, air mata tampak mengalir deras tanpa henti dari matanya begitu mulutnya yang tertutup perlahan terbuka.
Dia tidak pernah ingin sakit. Dia bahkan tidak pernah ingin menjadi beban bagi keluarganya dan yang terpenting, dia hanya ingin dicintai oleh keluarganya sendiri.
Ia selalu berharap dapat melihat sekilas senyum ramah ayahnya, yang merupakan darah dagingnya—setidaknya sekali saja. Ia juga berharap dapat berbicara jujur dengan adik perempuannya tanpa perlu khawatir untuk sekali ini saja. Setiap kali ia harus berbaring di tempat tidur sambil terengah-engah karena demam tinggi, ia tetap ingin pulang ke keluarganya setelah sembuh keesokan harinya.
Tidak pernah ada satu hari pun di mana dia tidak menyalahkan dirinya sendiri atas segalanya. Molitia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena merasa berhutang budi kepada keluarganya sendiri.
Dia mengutuk tubuhnya yang rapuh, yang tidak pernah bisa menikmati hangatnya sinar matahari di siang hari. Dan di malam hari, dia mengutuk tubuhnya yang lemah itu yang selalu masuk angin hanya karena terpapar sedikit udara dingin.
Bahu kecilnya bergetar tanpa henti. Untaian air mata yang tadinya mengalir, terus mengalir deras seolah mencoba mengingat kembali hari-hari masa lalunya ketika ia tak mampu menangis.
“Aku, aku…”
Suara Molitia segera menusuk hati Raven—dengan menyakitkan. Apa yang begitu menyedihkan sehingga memaksa tubuh kecilnya itu menangis lebih dari cukup hingga mengalami dehidrasi?
Menyaksikan atau bahkan mendengarkannya sama memilukannya seperti tangisan yang menyiksa itu. Suara kecilnya yang serak namun riang itu telah menjadi selembut mungkin. Dan air mata yang menggenang semakin banyak sehingga tak ada yang mampu menahannya sama sekali.
“Tidak apa-apa. Kamu boleh menangis lagi.”
“Oh, Raven…”
Molitia mencengkeram punggungnya.
Mungkin suatu hari nanti, jika dia tidak sakit lagi, dia berpikir bahwa dia mungkin akhirnya akan diakui oleh keluarganya sendiri. Bahkan ada saat ketika dia benar-benar memikirkan hal semacam itu.
Dia bahkan tidak menyadari betapa kerasnya dia berusaha untuk masa depannya yang jauh itu. Dia bolak-balik ke ruang belajarnya hanya untuk membaca buku demi menemukan cara untuk memperbaiki kondisinya yang memprihatinkan. Terlebih lagi, Molitia tidak pernah melepaskan buku itu bahkan ketika dia sakit.
Namun, tidak ada yang berubah. Dia tidak pernah tahu kapan dia akan sembuh, dan yang lebih buruk lagi, harga obatnya semakin mahal. Siklus buruk yang terus berulang itu sungguh tragis dan tak tertahankan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Molitia bersandar pada seseorang dan menangis tersedu-sedu.
