Rokka no Yuusha LN - Volume 4 Chapter 0








Lengannya tak bisa bergerak. Begitu pula kakinya. Dia tidak bisa berbicara, dan dia tidak bisa mengangkat dirinya sendiri. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bisa bergerak: bukan kelopak mata, alis, mulut, leher, bahu, dada, perut, atau tubuhnya. Terbaring di tanah yang dingin, mulutnya terbuka lebar, lengan dan kakinya terentang lemas, dia menatap langit-langit yang gelap. Air menetes dari langit-langit, mengenai ujung hidungnya. Dia tidak mengerutkan wajahnya atau bereaksi.
Tapi dia masih hidup.
Dia berada di wilayah pegunungan yang meliputi bagian tengah-utara dari Howling Vilelands. Di sanalah Dewa Jahat pernah menyerang perut Santa Bunga Tunggal dengan tentakelnya. Pukulan itu membuatnya sesak napas dan pingsan. Karena itu, tanah tersebut dijuluki Pegunungan Pingsan.
Angin utara berhembus kencang dari laut, sangat dingin. Racun Dewa Jahat telah mewarnai seluruh lingkungan sekitar menjadi merah kehitaman. Di dalam hutan lebat di kaki sebuah gunung terdapat sebuah gua besar dengan mulut menganga. Di dalam gua itulah terbaring pria itu.
Orang normal mana pun yang melihatnya di sana pasti ingin segera memalingkan pandangan. Kulitnya yang kering pucat pasi dan terkelupas di beberapa tempat hingga memperlihatkan otot dan lemak di bawahnya. Dagingnya berubah menjadi warna gelap seperti lumpur karena membusuk. Rambutnya yang tidak dipotong sangat kotor. Pakaiannya yang kasar juga sangat compang-camping hingga menyerupai kain lusuh.
Bagian belakang lehernya yang menarik perhatian. Seekor serangga besar menempel di sana: makhluk aneh, sebesar belati, dengan tubuh berkerut dan sayap seperti lalat capung. Antena dan kakinya menancap dalam-dalam ke tubuh pria itu.
Pria itu tampak tak lebih dari mayat yang terlantar dan setengah membusuk.
Tapi dia masih hidup.
Sebuah lampu kecil tergantung dari langit-langit, menerangi gua. Cahaya redup itu menampakkan pemandangan yang aneh.
Lantai lubang besar itu telah diratakan dan ditutupi barisan mayat, semuanya terbaring telentang seperti pria itu. Mereka beragam: pria, wanita, tua, muda. Tetapi semuanya mengerut dan membusuk, sama seperti dia. Serangga aneh yang menempel di belakang leher mereka juga sama. Ada jauh lebih dari seratus atau dua ratus mayat di sini. Massa mayat yang sangat besar, terlalu banyak untuk dihitung, berjejer rapi, baik memanjang maupun melintang. Pria itu berada di dekat tengah barisan.
Dan di sana, dia masih hidup.
Tak mampu bergerak, tak mampu berbicara, ia tampak tak berbeda dari mayat-mayat lainnya. Hanya satu hal yang membedakannya—ia masih mampu berpikir. Saat ia menatap langit-langit, telinganya tertuju pada suara tetesan air dan suara-suara lainnya, hanya satu hal yang ada di benaknya.
Dia harus menyelamatkan para Pemberani dari Enam Bunga.
Dia tahu bahwa saat ini juga, para Pemberani berada dalam bahaya yang lebih besar daripada yang mereka bayangkan. Mereka terjebak dalam situasi yang mengerikan, yang tidak dapat dibandingkan dengan tantangan yang telah diatasi para pendahulu mereka tujuh ratus tahun yang lalu, dan juga tiga ratus tahun yang lalu. Kemungkinan besar, mereka bahkan belum menyadarinya. Mereka mungkin belum tahu prestasi luar biasa apa yang telah dicapai oleh komandan iblis Tgurneu. Mereka tidak tahu senjata mengerikan apa yang telah disiapkannya.
Para Pemberani Enam Bunga adalah prajurit dengan kekuatan untuk menyelamatkan dunia. Mereka akan memiliki wawasan yang luar biasa, dan beberapa di antara mereka adalah Orang Suci, yang dianugerahi kekuatan yang melampaui pengetahuan manusia. Tetapi pria ini meragukan mereka akan mampu memahami sifat sebenarnya dari senjata rahasia Tgurneu. Apa yang telah disiapkannya sungguh sulit dipercaya.
Pria itu tahu bahwa dialah satu-satunya yang bisa memperingatkan keenam Pahlawan tentang rencana jahat Tgurneu, karena dialah satu-satunya di dunia yang mengetahui niat sebenarnya dari si iblis. Jika dia gagal menyelamatkan para Pahlawan, dunia akan hancur.
Tubuhnya tak bergerak. Tak ada yang bergerak—bukan tangan, kaki, mulut, atau jari-jarinya. Namun nasib dunia bergantung padanya.
Bukan soal apakah dia mampu melakukannya. Sukses adalah satu-satunya pilihan. Dia akan menyelamatkan Pasukan Pemberani Enam Bunga. Dan betapapun gelapnya krisis ini, dia akan tetap percaya pada harapan.
Dia akan memperingatkan para Pemberani dari Enam Bunga tentang senjata pamungkas Tgurneu dan rahasia Black Barrenbloom.
