Kondo wa Zettai ni Jamashimasen! LN - Volume 4 Chapter 13
Bab 153:
Ayo Pulang
SATU PER SATU, Yulan mengingat-ingat setiap tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Lalu ia menelusuri daftar setiap tempat yang pernah diceritakan Violette kepadanya secara spontan. Ia menelusuri kembali kenangan mereka bersama.
Satu tempat yang mereka kunjungi saat SMP. Satu lagi saat mereka lulus SD. Sebuah toko yang hanya bisa mereka lihat lewat jendela. Dia ingat betapa hancurnya mereka ketika diberitahu bahwa anak-anak tidak diizinkan masuk.
Mereka pergi ke perpustakaan dan kebun raya—ke mana pun untuk menjauhkannya dari orang tuanya. Momen-momen kecil di sana-sini yang membentuk sejarah bersama mereka. Ada tempat istimewa lain di belakang perkebunan Vahan, di ujung jalan setapak sempit yang jauh di dalam hutan.
Rumah burung yang membusuk dan pepohonan tua yang keriput. Kanan, kiri, kiri, kanan. Di sana, kita akan menemukan lahan terbuka kecil yang diselimuti bunga, atau gulma, atau sesuatu di antaranya. Pemandangan yang jauh lebih indah daripada lumut berlendir dan pepohonan yang rusak akibat rayap, meskipun masih kotor dengan lumpur dan dedaunan kering. Di sana, di tengahnya, terdapat sosok kecil yang lemah, duduk seperti boneka buangan dengan kepala terkulai di lututnya.
“Wah, tempat ini mengingatkanku pada masa lalu.”
Ia memanggilnya sambil mendekat, tetapi wanita itu tidak bergerak. Tidak ada reaksi, meskipun ia ragu wanita itu bisa meramalkan kedatangannya. Ia tidak menyangka akan kembali ke sini, apalagi dalam keadaan seperti ini. Pepohonan tampak begitu tinggi dulu, dan lahan terbuka begitu luas, tetapi sekarang semuanya tampak jauh lebih kecil. Mungkin terlalu kecil untuk sepasang kekasih yang telah meninggalkan masa kecil mereka.
Itulah hari-hari ketika mereka tidak mendapat masalah hanya karena berpegangan tangan…dan saat itu, tempat ini adalah rumah mereka yang sebenarnya.
Dulunya hanya ladang bunga. Di musim dingin, tak ada yang tersisa selain lumpur dan rumput liar. Tak ada yang merawatnya, sehingga ladang itu runtuh. Ketika mereka datang ke sini, yang bisa mereka lakukan hanyalah duduk dan menggambar di tanah dengan tongkat. Namun, rumah adalah tempat yang aman dan bahagia di mana Anda bisa bersama orang-orang terkasih—dan itulah rumah.
Ini bukan benteng pohon atau taman bermain; mereka seharusnya tidak datang ke sini, tetapi rumah besar itu terlalu menyedihkan dan menakutkan untuk dijadikan rumah. Ia mungkin tidur di rumah besar itu, tetapi inilah tempat yang ia rindukan untuk kembali. Mereka sepakat akan selalu begitu.
Tentu saja. Ini adalah tempat terjauh yang bisa dihindari seorang gadis kecil. Ia seharusnya berada di hutan, bukan di perkebunan Vahan yang mengerikan itu. Ia mati-matian meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia punya rumah lain yang bisa ia tuju untuk melarikan diri agar ia bisa menemukan kekuatan untuk tetap hidup.
“Sudah berapa lama sejak kunjungan terakhir kita? Hutan ini cepat sekali gelap, jadi kita agak berhenti mampir begitu sekolah dimulai.”
Ia berlutut di sampingnya, hawa dingin tanah basah meresap melalui celananya. Perlahan, hawa dingin itu menyusup masuk melalui kain. Meskipun ia bersyukur tidak ada batu tajam di bawah lututnya, lumpur itu jelas menguras panas tubuhnya.
“Kamu nggak kedinginan, Vio? Paling cuma kardigan kecil ini yang kumiliki. Mungkin nggak akan banyak membantu.”
Ia melepasnya dan meletakkannya di bahunya, tahu betapa tidak efektifnya itu. Tentu saja itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Jari-jarinya mengusap rambutnya yang sedingin es, dan terasa menyakitkan betapa lama ia berada di sana.
Baru pada saat itulah Violette akhirnya mengangkat kepalanya. Poninya tergerai menutupi wajahnya, dan matanya menerawang, kosong dan tak fokus, seperti dua kelereng yang tak bergerak. Yang paling menarik perhatiannya adalah bekas merah terang yang membentang dari tulang pipi hingga rahangnya. Seiring waktu, bekas itu pasti akan membesar. Yang lebih menakutkan lagi, ada darah—untungnya sudah kering—di sudut mulutnya, menunjukkan adanya luka di suatu tempat di dalamnya. Ia telah dipukul dengan kekuatan yang luar biasa.
“Vio…kamu…?”
“Yulan.”
Bibirnya yang gemetar berusaha keras merangkai kata. Baru setelah ia memanggil namanya, ia menyadari denyutan di telinganya sebagai denyut nadinya sendiri yang semakin cepat. Ia tahu sentuhan sekecil apa pun kemungkinan besar akan menyakitkan, namun ia tetap mengulurkan tangan, mati-matian ingin menyembuhkannya dengan kedua tangannya sendiri. Andai saja ia bisa mencabut rasa sakit itu secara fisik.
“Hah…?”
Tepat saat itu, ketika jari-jarinya mulai gemetar, Violette meletakkan tangannya di atas tangan pria itu dan mengarahkannya ke lukanya. Pria itu mencoba menarik diri secara refleks, tetapi cengkeraman wanita itu ternyata sangat kuat saat ia menahannya di sana. Berbeda dengan tangannya yang dingin, tangan yang bengkak itu berdenyut panas, persis seperti yang ia bayangkan dari warnanya.
“Yulan.”
Suaranya datar dan tak bernyawa—tak tajam, tapi tetap saja menusuk jantungnya. Dari tatapan kosongnya, setetes air menetes di punggung tangannya, diikuti tetesan kedua, lalu ketiga, hingga membentuk aliran. Ia menangis, memanggil namanya berulang-ulang seperti mainan rusak. Lalu, saat ia berjuang bernapas, suara teredam mencapai telinganya—kecil dan serak, namun jelas: “Aku tak ingin hidup lagi.”
