Kondo wa Zettai ni Jamashimasen! LN - Volume 3 Chapter 12
Bab 102:
Perpisahan Terbaik
APAKAH AKHIR itu selalu datang begitu tenang? Claudia lebih suka berpikir itu akan lebih… menyakitkan, menyedihkan, pahit nan khidmat, kenangan yang akan selalu mereka kenang dengan secuil penyesalan. Ia pikir kedua belah pihak akan berpisah.
“Aku cuma mau bilang…aku sungguh-sungguh menyesali semua masalah yang telah kutimbulkan padamu selama kita saling mengenal, dan aku minta maaf,” kata Violette.
Kapan ia mulai melihat keindahan dari tatapan mata wanita itu? Mencari-carinya setiap kali berjalan melintasi kampus? Atau merasakan dorongan untuk berbicara dengannya setiap kali melihatnya? Perasaan ini tak selalu hadir, juga tak menyumbat pikirannya. Malahan, kenangan akan masa lalunya—hari-hari penuh tekanan yang dihabiskan dengan hati-hati dan waspada—lah yang menghantuinya. Namun, apa yang ia rasakan sekarang jauh lebih rumit.
“Aku tidak akan memintamu memaafkanku atas perbuatanku; aku tidak mungkin,” lanjutnya. “Tapi aku bersumpah tidak akan mengganggumu lagi.”
Setiap suku kata yang diucapkannya meresap jauh ke dalam otaknya. Sebagian dirinya tak ingin mendengarkan, tetapi sebagian lain takut kehilangan satu kata pun—mungkin karena alasan yang sama. Sebuah suara di kepalanya memaksanya untuk tidak memprosesnya, tetapi ketika ia menatap mata wanita itu, ia tak bisa menahan diri. Dadanya sedikit sesak, seperti kepalan tangan lembut di sekitar jantungnya. Sungguh, itu adalah sensasi pahit-manis.
“Saya mengerti bahwa kata-kata saya tidak layak dipercaya, jadi saya tidak akan memintanya. Saya hanya ingin…memecahkan rekor,” jelasnya.
Claudia teringat percakapan serupa yang terjadi pada hari pertama ia mengundang Violette ke ruangan ini. Hari itu pasti tak akan pernah ia lupakan. Seperti hari ini, hanya mereka berdua, dan meskipun mereka mungkin semakin dekat, jarak di antara mereka terasa lebih nyata dari sebelumnya.
Kini setelah ia tak lagi merasakan gairahnya, ia merasa lega, diikuti rasa sayang untuk gadis cerdas yang menjadi inti dirinya. Lalu ia menemukan senyum termanisnya. Ia tak ingin tahu atau memikirkannya, namun ia paham betul bahwa kemungkinan hal ini selalu ada. Seandainya ia tak pernah menyadarinya, hidupnya pasti lebih mudah; seandainya ia menyadarinya lebih awal, hari seperti ini tak perlu terjadi.
Tetapi jika Violette tidak pernah melepaskan perasaannya padanya, jalan ini mungkin tidak akan pernah terbuka.
“Aku percaya padamu,” jawabnya.
Ia ingin alasan—bukan, pengampunan . Ia tidak sedang diserang, tentu saja, tetapi haruskah ia memberikan penjelasan… Dengan segala harga dirinya, ia tak sanggup mengakui bahwa gadis menyebalkan yang dulu ia benci kini begitu cantik di matanya. Matanya, telinganya, tubuhnya—mereka butuh alasan yang tepat untuk mengarahkan pandangannya pada Violette.
Apakah postur tubuhnya yang sempurna? Bagaimana matanya berbinar saat tersenyum? Tata krama mejanya yang sempurna setiap kali makan? Seberapa ekspresif wajahnya ketika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya? Kepasrahannya pada status quo? Bahwa hanya ada satu nama yang bisa ia panggil dengan percaya diri?
Ia bisa mengarang seribu alasan, tetapi setiap alasan itu menegaskan kebenaran bahwa perasaannya tak berharga. Ia kini tahu bahwa ia berpikiran sempit, tetapi sudah terlambat. Haruskah ia bertindak berdasarkan perasaan ini? Mengesampingkan reputasinya, kewajibannya, martabatnya, untuk mengikuti kata hatinya? Akankah itu mengubah segalanya? Mungkin dengan begitu ia akan punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum semuanya berakhir.
Sayangnya, itu tak pernah menjadi pilihan. Sejak lahir, seorang pangeran terikat kehormatan untuk menjunjung tinggi reputasinya, memenuhi kewajibannya, dan mempertahankan martabatnya. Itu adalah tugas dan hak istimewanya. Begitu ia meninggalkan semua itu, ia tak lagi menjadi Pangeran Claudia.
“Aku percaya padamu, karena aku tahu… aku paham betul bahwa… bahwa kamu layak mendapatkannya,” katanya tergagap.
Ya, ini tentu saja jalan yang benar. Tirai akan turun dengan tenang, tanpa ada yang terluka karenanya. Mengenai mengapa ia masih ingin mengintip melalui celah kain, yah, mungkin ia hanya kurang terampil melepaskannya. Mengapa aku tidak—mengapa dia tidak—mengapa tidak lebih awal—mengapa begitu cepat? Namun, hiruk-pikuk pikirannya tak mampu menghilangkan keindahan di hadapannya.
“Te-terima kasih, Tuanku.”
Senyuman perlahan mengembang di wajahnya—satu lagi senyuman yang beruntung ia saksikan. Tak terhitung banyaknya senyuman yang takkan berarti bagi perasaannya, namun ia mendapati dirinya menghargai setiap senyuman itu. Sungguh ironis, betapa menyedihkan bahwa semuanya berakhir seperti ini. Sungguh tragis nasib seorang pria yang tak menyadari apa yang dimilikinya hingga akhirnya terlepas dari genggamannya. Seandainya itu sebuah novel, ia pasti sudah membuang buku itu ke tempat sampah.
Namun… benarkah keindahan yang telah ia temukan tak lagi bernilai? Pada bunga yang sedang bersemi dan tak kunjung layu ini? Entah itu takdir yang ironis atau alasan menyedihkan untuk sebuah kisah cinta, bukankah itu tetap istimewa baginya? Sesedih, menyakitkan, dan menyedihkan sekalipun, bukankah itu tetap mengharukan?
Jadi, bagaimana cara yang tepat untuk mengakhiri perpisahan pribadi mereka? Jika kata “maaf” kurang tepat, dan “terima kasih” kurang tepat, maka mungkin ucapan selamat tinggal terbaik adalah…
“Senang rasanya kalau itu kamu.”
Kau adalah cinta pertamaku.
