Kage no Jitsuryokusha ni Naritakute! LN - HTL - Volume 1 Chapter 4 Bahasa Indonesia
- Home
- All Mangas
- Kage no Jitsuryokusha ni Naritakute! LN
- Volume 1 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Chapter 4 Dua Sisi Taman Bayangan
Musim panas hampir tiba.
Aku mengayunkan pedang kayuku pada suatu hari di akhir musim semi. Aku sedang dalam pelatihan rutinku. Sekarang aku sudah bebas dari cengkeraman Alexia. Aku telah dipindahkan untuk bersama Skel juga Po dan karena sekelompok siswa keluar dari pilihan Royal Bushin setelah skandal Instruktur Zenon. Kita semua di bagian sembilan telah naik ke bagian tujuh.
“Apa yang terjadi denganmu dan Putri Alexia?” Skel bertanya itu saat dia berlatih di sampingku.
“Kami belum berbicara sejak putus. Juga, dia mencoba membunuhku.” “Itu memalukan dan kamu bahkan tidak pernah berciuman?”
Kata Po.
“Tidak, tidak pernah.”
Kami melakukan percakapan bodoh saat kami mengayunkan pedang seperti biasa. Inilah inti kehidupan di bagian tujuh. Meskipun membuang-buang waktu, ini adalah jalan yang harus aku ambil untuk mempertahankan statusku sebagai karakter biasa.
“Festival Bushin akan segera tiba. Apakah kalian mendaftar ke babak kualifikasinya?”
“Tentu saja! Jika aku tampil cukup baik di turnamen. Aku dapat dengan mudah pulang dengan dua atau tiga wanita cantic.”
Kata Skel. Omong-omong, dia masih pejaka.
“Oh, ho, ho dengan tiga wanita tanganku akan penuh untuk mereka.” Komentar Po. Perjaka lainnya.
“Cid, kamu tidak mendaftar ke babak kualifikasi, kan?”
Festival Bushin adalah turnamen besar-besaran setengah tahunan. Selain pejuang lokal, kesatria terkenal dari seluruh dunia datang untuk berpartisipasi. Ada kelompok khusus untuk siswa dan akan ada babak penyisihan untuk turnamen kami. Tetapi, karakter sampingan biasa tidak akan pernah berdiri di atas panggung di depan semua orang. Tidak dalam sejuta tahun.
“Aku tidak pergi!”
“Tapi, jangan khawatir! Aku akan pergi dan mendaftarkanmu! Tunjukkan terima kasih kam! Guah!!”
Skel tiba-tiba mencengkeram perutnya dan jatuh ke tanah. “Hei! Skel!! Apa yang terjadi padamu?”
Po sedang menangis.
Itu serangan yang sangat cepat. Aku satu-satunya yang bisa melihatnya.
“Hei. Hei, Skel. Kamu seharusnya melihat diri kamu sendiri. Rasanya seperti seseorang membanting perutmu dengan pukulan hook. Ada apa denganmu?”
(TL : Pukulan hook itu adalah salah satu jenis pukulan dalam tinju.) Aku bertanya saat aku melepaskan tinju kananku.
“Itu penjelasa yang sangat akurat, Cid.”
“Ini buruk. Dia sudah mati. Beri aku bantuan untuk membawanya ke kantor perawat. Hei, tahukah kamu jika kami dapat menarik kembali pendaftaran turnamen kami?”
“Hmm, aku tidak yakin. Oh, Skel, mulutmu berbusa.”
Instruktur kami memberi kami izin untuk membawa Skel ke kantor perawat karena ‘Serangan tiba-tiba’ yang membuatnya pingsan.
Dalam perjalanan ke sana aku melihat sesuatu. “Siapa itu?”
Aku bertanya tentang kelompok yang tampak serius memasuki sekolah. “Sepertinya! Putri Iris bersama mereka.”
“Alexia juga ada di sana.”
Mata kami bertemu sesaat sebelum dia berpaling dengan cibiran.
Aku masih belum memberi tahu siapa pun bahwa dia bersikap bodoh padaku dan mencoba melakukan pembunuhan besar-besaran dan aku tidak berencana memberi tahu siapa pun tentang insiden di atap jika dia menjaga jarak. Dengan perjanjian damai kita, dia bisa membunuh siapa saja yang dia mau. Permainan pedangnya tampaknya benar-benar meningkat dan aku pikir sangat bagus dia berusaha menjadi lebih kuat. Ya, selama dia tidak mencoba membunuhku. Begitulah!
“Ngomong-ngomong, kudengar Putri Iris akan datang ke akademi untuk meminta penyelidikan.”
Po tidak melihatnya akan tetapi dia selalu tahu.
Akademi Midgar untuk Kesatria Kegelapan adalah sebuah bangunan besar yang berisi Akademi Ilmu Pengetahuan Midgar. Aku mendengar mereka melakukan penelitian dan melakukan hal-hal sains.
“Aku tidak tahu itu.” “Aku mengerti.”
“Tunggu, bukankah Alexia menyebut Iris sedang membangun pasukan baru?”
Setelah Po dan aku melihat Ordo Kesatria memasuki gedung. Kami kemudian menurunkan Skel di kantor perawat dan melewatkan kelas.
*
Ada beberapa orang yang sedang berdiskusi di ruang tamu yang besar.
“Kami ingin meminta kamu. Lulusan paling terkemuka di kerajaan untuk menafsirkan artefak ini untuk kami.”
Kata seorang yang cantik dengan kunci merah. Iris sedang memegang benda besar berbentuk liontin.
“Tapi, aku hanya seorang pelajar.”
Kata seorang gadis muda cantik dengan rambut merah muda seperti persik saat melihat artefak yang dimaksud.
“Semua orang di dunia tahu tentang pekerjaan luar biasa kamu. Kamu adalah Sherry Barnett. Peneliti terbaik di bidang kamu. Tidak ada yang bisa melakukannya lebih baik dari kamu.”
“Tapi!”
“Ini kesempatan bagus untukmu. Kamu harus mencobanya.”
Kata seorang pria berusia awal empat puluhan yang mendorong Sherry. “Asisten Kepala Sekolah Lutheran Barnett.”
“Kamu bisa memanggilku Ayah, kamu tahu?”
Lutheran menyenggol lembut dia dan dia kemudian terkekeh. Sebagai balasannya, Sherry tersenyum canggung.
“Sherry, inilah waktumu untuk terjun ke dunia professional penelitian. Permintaan Putri Iris akan membawamu lebih dekat ke masa depan cerah yang sedang menunggumu.”
“Tapi, aku tidak!”
“Bukankah aku selalu mengatakannya? Percaya diri. Aku tahu kamu bisa melakukan ini.
Kamu satu-satunya yang bisa.”
Lutheran meletakkan tangannya di bahu ramping Sherry. “Baiklah, aku akan melakukannya.”
Iris menyerahkan artefak itu kepada Sherry. “Bahasa kuno? Itu tertulis dalam kode rahasia.” Kata Sherry.
“Ada kelompok agama yang menyebut diri mereka Sekter Diabolos.”
“Artefak ini ada di fasilitas mereka. Mereka tampaknya melakukan penelitian tentang peradaban kuno akan tetapi kami tidak mengetahui detailnya. Pasti ada hubungan antara kode dan peradaban kuno.”
Kata Iris.
“Yah, kamu pasti datang ke orang yang tepat.” Sherry mengamati objek tersebut.
“Aku ingin anggota dari Ordo Kesatria untuk menjaganya.” Kata Iris.
“Apa yang anda maksud dengan menjaga?” Tanya Lutheran.
“Sebenarnya, Sekter Diabolos! Kelompok agama itu sedang mengejar artefak itu.” “Itu sangat meresahkan.”
Lutheran menajamkan pandangannya.
“Kami awalnya memperoleh ini dari fasilitas mereka. Tentu saja, ini bukan satu-satunya barang yang kami sita. Kami telah menyimpan dokumen dan objek rahasia lainnya di gudang kami akan tetapi aku malu untuk mengakuinya bahwa orang tak dikenal membakar gudang kami beberapa hari yang lalu. Hanya artefak ini yang tersisa.”
“Oh, aku sudah mendengar tentang kebakaran baru-baru ini. Yang mengingatkan aku! Putri Iris. Anda membentuk Ordo Kesatria baru setelah itu.”
“Ya, Akan tetapi itu masih cukup kecil.”
“Aku yakin itu disebut Ordo Penghakiman, bukan? Aku melihat Anda telah membawa Ordo Penghakiman Anda ke sini hari ini.”
“Aku tidak!”
“Apakah kamu sebegitu curiga pada Ordo sebelumnya?”
Iris tidak menjawab pertanyaan tajam Lutheran dan melihat ke arahnya tanpa mengubah ekspresinya.
“Hmm. Baik. Aku akan menyetujui itu hingga dua penjaga.” Lutheran mengeluarkan kalimat itu.
“Dua? Yah, kurasa itu tidak akan menjadi masalah jika aku menjaga artefak itu.” Iris terlihat bermasalah.
Pekerjaan Ordo Kesatria akan mengalami penundaan jika Putri Iris berada di luar lokasi.
**
Pembicaranya adalah kesatria berbahu lebar yang duduk di sebelah kiri Iris. Dia berotot dengan janggut lebat seperti singa. Bekas luka besar terlihat di pipinya.
“Memang! Glen, aku serahkan penjagaan padamu.” “Dimengerti, Yang Mulia.”
Katanya sambil membungkuk. “Iris, aku juga akan membantu.” Kata Alexia dari kanan Iris.
“Jika kamu memisahkan para penjaga. Akan lebih sedikit kesatria yang tersedia untuk menanggapi Insiden pasukan berpakaian hitam.”
Iris terdiam.
“Ordo Penghakiman sudah sibuk dan aku tahu siapa dia. Aku sangat sempurna untuk peran
ini.”
“Tapi! Alexia, kamu masih!”
“Pelajar! Aku seorang pelajar akan tetapi usia tidak bisa di bandingkan jika kamu memiliki
keterampilan. Kamu mengatakannya itu sendiri.” “Tidak, aku tidak pernah mengatakan itu.”
“Itu yang baru saja kamu katakan pada Sherry.”
Alexia menyeringai percaya diri pada kakak perempuannya yang kesal. “Dan kamu dulu sangat imut!”
Gumam Iris.
“Aku mendengarnya. Iris, aku ingin tahu! Aku ingin tahu kenapa mereka melakukan ini dan jika mereka berencana untuk melawan kita!”
“Tapi, itu akan sangat berbahaya.” “Aku tahu.”
Para kakak beradik itu diam-diam bertukar pandang.
“Baik. Aku secara resmi meminta kamu menerima misi berisiko rendah saja dan sejauh itu tidak mengganggu tugas sekolah kamu.”
“Terima kasih.”
Alexia tersenyum dan membungkuk.
“Kuharap semua baik-baik saja dengan artefaknya.” Kata Iris pada Sherry setelah menghela nafas panjang.
***
Malam itu, aku mencoba membatalkan pencalonanku untuk penyisihan setelah kelas selesai.
“Terima kasih.”
Aku kemudian membungkuk dan meninggalkan kantor layanan siswa. “Nah, bagaimana hasilnya?”
Skel dan Po mendekatiku di luar kantor. Mereka menungguku.
“Mereka mengatakan semua orang telah dipasangkan dan tidak mungkin untuk mundur.”
Aku kemudian menghela nafas
“Hei, lihat sisi baiknya. Jika kamu melakukannya dengan baik. Kamu akan bersama wanita, kan?”
“Ya! Mereka mengatakan masa-masa sulit membawa peluang. Jika kamu tahu apa yang aku maksud.”
Aku kemudian menggelengkan kepalaku.
“Aku tidak peduli jika aku menang atau kalah. Aku hanya tidak ingin melakukannya.” “Ya ampun, kamu sangat putus asa. Ayo, aku akan memperkenalkan kamu ke toko khusus. Cobalah untuk menghilangkan wajah putus asa itu.”
“Toko khusus?”
Po tergagap sambil mengambil napas tersengal-sengal melalui hidungnya.
“Ups, bukan yang spesial seperti itu. Maksudku, Mitsugoshi itu yang semua orang bicarakan. Aku dengar mereka punya semua jenis yang baru barang dan salah satunya adalah cemilan yang disebut cokelat. Rasanya manis dan sangat lezat.”
“Permen? Aku ingin mencoba beberapa.” “Dasar bodoh! Itu bukan untukmu.”
Skel menampar Po di atas kepalanya.
“Kita akan memberikan coklat itu untuk para gadis. Kau tahu? Wanita akan datang untukmu jika kau memberikan sesuatu yang manis!”
“Oh! Aku mengerti. Kamu mengucapkannya seperti profesional sejati, Skel. Kamu selalu mengajariku begitu banyak.”
“Kamu baru tau?”
Kata Skel yang merasa penuh percaya diri. “Ayo, Cid. Mari kita pergi.”
“Ayo pergi, Cid.”
Ada kilauan di mata mereka. “Baik, aku akan pergi.”
Aku setuju dengan sambil mendesah.
Harus aku akui. Aku agak penasaran untuk melihat seperti apa cokelat di dunia ini.
****
Skel membawa kami ke jalan utama di ibu kota. Jalanan malam yang ramai dipenuhi orang dan setiap toko di area itu berskala super tinggi dan tampaknya penuh sesak. Mitsugoshi lebih ramai dari pada toko-toko lainnya.
“Wow, ini sangat keren.”
Sebuah gedung baru yang megah berdiri tinggi di langit! Itu sangat terkenal sampai-sampai hampir tidak bisa di bandingkan dengan lainnya. Aku merasa ini keluar dari duniaku sejak aku masuk ke toko kelas atas di kehidupan masa laluku.
Ada garis besar mengular dari pintu masuk. Semua orang yang menunggu giliran tampaknya adalah anggota keluarga bangsawan atau tamu mereka. Hanya satu pandangan yang perlu aku ketahui bahwa itu adalah pelanggan yang kaya dan istimewa. Di ujung barisan adalah seorang wanita berseragam memegang sebuah tanda. Waktu tunggu kira-kira delapan puluh menit.
“Kita menunggu delapan puluh menit.” Protesku terhadap itu.
“Aku yakin kita akan kembali sebelum jam malam asrama kita berakhir.” Bantah Po.
“Kita sudah sampai sejauh ini. Ayo pergi.” Skel bersikeras tentang itu.
“Tapi aku dengar ada pembunuh yang berkeliaran. Aku tidak ingin keluar terlalu malam.” “Kita bertiga adalah kesatria, sialan! Kamu penakut. Kita akan membunuh mereka kembali!”
Skel menepuk pedang di punggung bawahnya. “Kamu benar!”
“Apakah kamu mengatakan pembnuh?”
Aku bertanya itu dengan menyela percakapan mereka.
“Aku mendengar ada pembunuhan baru-baru ini di ibu kota dan itu terjadi pada malam hari. Semua itu telah dilakukan oleh ahli pedang yang pernah mengalahkan anggota Ordo Kesatria.”
Bisik Po.
“Ooh, menyeramkan. Aku tidak ingin di tangkap oleh mereka karena sedang berjalan-jalan di malam hari.”
Sebuah kejadian pembunuhan? Terdengar menyenangkan. Ikutkan aku.
“Udah cukup! Jika kita tidak mengantri. Kita tidak akan sampai pada jam malam kita.” Tekan Skel.
Po dan aku kemudian berjalan dengan susah payah ke ujung barisan. “Hai, Bu. Kamu cantik. Hobi kamu apa?”
Skel mencoba menjemput karyawan dengan tanda itu begitu kami sampai di sana.
Tapi, dia melontarkan senyum pertempuran padanya dan mulai mengabaikannya sebelum menatapku dengan senyum ceria untuk alasan yang tidak diketahui.
“Permisi tuan. Bisakah saya memiliki waktu sejenak Anda?”
Dia adalah wanita cantik yang wajahnya putih dan berkilau dengan rambut coklat tua yang cocok dengan warna matanya. Seragam kerjanya adalah gaun biru tua pendek dan sederhana yang ditandai dengan logo Mitsugoshi. Itu mengingatkanku pada pramugari yang aku lihat di kehidupan masa laluku.
“SIAPA? Aku?”
Aku bertanya itu kemudian menunjuk pada diriku sendiri. “Iya. Silakan berpartisipasi dalam survei singkat kami.” Survei? Itu jarang terjadi di dunia ini.
“Tentu, kurasa” “Terima kasih.”
“Aku, aku akan ikut survei juga!” “Begitu juga aku!”
Skel dan Po berusaha keras untuk membuatnya terpesona. “Satu pelanggan saja sudah cukup.”
Jawabnya sambil memeluk tanganku.
Bersama-sama, kami memotong antrean panjang dan langsung menuju ke toko. Ketika aku melihat ke belakang pada detik terakhir. Aku bisa melihat kekecewaan di mata Skel dan Po.
Aku kemudian mengikuti wanita itu ke butik yang terlihat sangat mewah. Interiornya tidak terlalu norak akan tetapi aku tahu setiap detail dekorasi terakhir telah dipilih dengan cermat dan itu memberikan kesan yang dingin. Bahkan mata yang tidak terlatih dapat membedakannya dengan dekorasi itu penuh gaya modern dan penuh selera.
Dia mengantarku melewati lantai penjualan ke pintu berlabel KHUSUS KARYAWAN. Aku berhasil melewati beberapa orang kemudian melirik di sekitarku dan setiap produk yang memenuhi penglihatanku yang luar biasa.
Tentu saja, aku memperhatikan cokelat yang digosipkan akan tetapi aku juga melihat kopi, riasan, dan sabun. Ini pertama kalinya aku melihat semua ini di dunia ini. Ditambah pakaian, aksesori, sepatu dan pakaian dalam mereka semuanya dirancang dengan mempertimbangkan kelas dan terbaru. Bahkan aku tahu barang-barang ini akan laris di dunia ini. Itu tidak perlu dipikirkan lagi.
Tempat ini luar biasa. Ini akan menggemparkan dunia. Ini hanya tinggal masalah waktu. Aku yakin begitu. Kami kemudian berjalan melewati pintu staf dan menuruni lorong menuju tangga yang sangat besar. Aku bersumpah aku pernah melihat itu di film tertentu tentang kapal pesiar mewah. Kami menaiki tangga dan terus berjalan melalui lorong yang terang dan luas. Di ujung aula ada pintu besar berkilau yang diukir dengan ukiran yang sangat indah.
Dua wanita cantik berdiri di depan pintu. Mereka membungkuk kepadaku dan membukanya perlahan. Yang ada di baliknya adalah ruang yang terlihat seperti aula besar. Ada pilar tinggi yang menyerupai yang ada di kuil Yunani kuno dan lantai marmer yang berkilau di bawah cahaya.
Sebuah karpet merah telah dibentangkan memanjang hingga ke bagian belakang ruangan dan diapit oleh dua baris wanita cantik.
“Hah?”
Saat aku menginjakkan kaki di ruangan itu. Mereka semua berlutut secara bersamaan. “Um! Jadi bagaimana dengan survei itu?”
Sebuah kursi besar telah ditempatkan di bagian paling belakang ruangan. Matahari terbenam yang berwarna merah tua terlihat dari langit-langit dan menuju mahakarya yang halus itu.
Kursi itu tetap kosong.
Elf berambut biru cantik itu kemudian berdiri di sampingnya. Dia wanita baik dengan sosok model idol yang ditutupi oleh gaun hitam yang memikat. Aku tahu wajah itu.
“Kami sudah lama menunggu Anda, Tuanku.”
Wanita lain membungkuk hingga satu lutut dengan keanggunan seorang artis. “Gamma!”
Dia adalah anggota asli ketiga setelah Alpha dan Beta. Siapa pun bisa tahu dia jenius dengan melihat wajahnya yang cerdas dan mata birunya yang tajam. Itulah Gamma, otak dari Taman Bayangan. Gamma sangat pintar. Aku bisa menjamin itu padanya. Tapi, dia punya satu kekurangan besar. Nama panggilannya adalah Gamma Si Lemah.
Meskipun dia salah satu anggota terlama di Tujuh Bayangan. Sejauh ini Gamma adalah yang terlemah. Tujuh Bayangan mengacu pada tujuh anggota pertama Taman Bayangan. Aku memilih nama itu karena itu keren. Jelas sekali.
Dalam hal pertempuran dan kemampuan fisik. Naluri Gamma sangat buruk. Jika Delta adalah petarung paling berbakat di Tujuh Bayangan. Gamma adalah yang terburuk. Aku pribadi menganggap keduanya mirip. Jika aku mengatakan itu keras-keras. Aku yakin Gamma akan melepaskan penahannya dan Delta akan gemetar karena kegembiraan akan tetapi aku tahu pasti mereka adalah tipe orang yang sama.
(TL : Kata penahan itu seperti yang di anime itu nah yang mana kayak tombol yang bisa langsung mengubah kepribadian orang itu.)

Aku belajar dua hal saat mengajari Gamma dan Delta cara bertarung. Satu. Intuisi terbuang percuma pada orang bodoh.
Dua. Kecerdasan tidak berarti apa-apa tanpa intuisi.
Pada saat itu, aku memutuskan untuk mencoba memberi mereka instruksi yang sama. “Lakukan tebasanmu dengan sekumpulan sihir.”
Dan itu saja.
Aku menyarankan agar mereka secara fisik menghajar musuh mereka! Yang merupakan metode brutal yang menurutku sangat menjijikkan. Betul sekali. Keyakinanku hancur di hadapan duo ini tanpa kebanggaan atau keadaan. Jika aku memikirkan hari itu. Aku sakit kepala.
Ya, jangan ke sana. Lupakan saja.
“Senang bertemu denganmu lagi, Tuanku.”
Gamma dengan anggun berjalan ke arahku seperti model di landasan.
Pinggulnya bergoyang dengan anggun saat aku mendengarkan ketukan yang mendebarkan jantung, ketukan, ketukan tumitnya ke lantai.
ZOINKS! Dia tersandung dan terjatuh. “Tumit ini terlalu tinggi.”
Dan dia menyalahkan sepatunya.
Gamma mencengkeram hidungnya saat dia bangkit berdiri. Sementara itu, para wanita di sekitarnya bergerak secepat kilat untuk membantu menggantinya.
“Baiklah, kalau begitu. Mari lewat sini, Tuan”
Gamma melanjutkan itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan melangkah maju dengan sepatu yang sangat berbeda. Tapi, aku tidak terlalu keberatan. Hanya ada dua cara untuk bereaksi ketika seorang gadis mempermalukan dirinya sendiri. Berpura-pura tidak memperhatikan atau pergi keluar dan menggodanya. Meskipun aku sendiri berada di bekas pelatihan. Ada sesuatu yang harus aku katakan.
“Hidungmu berdarah.”
Gadis-gadis di sekitarnya buru-buru menghapus darahnya. “Kesini, Tuanku.”
Aku melirik pipi merah menyala Gamma. Dia tidak berubah sedikit pun.
Dia mengantarku ke kursi raksasa yang mana itu tempat aku duduk. Pemandangannya fantastis.
“Benar-benar bagus.”
Ada ruang besar dan terbuka tempat kilauan merah masuk melalui jendela atap dan dua baris wanita keren berlutut di samping karpet merah. Seolah-olah aku telah menjadi raja! Raja Alam Bayangan. Gamma pasti menghabiskan banyak uang untuk menyiapkan tempat ini untukku. Jantungku berdebar kencang. Aku kemudian langsung ke intinya. Aku menyilangkan kakiku, meletakkan pipiku di tangan kiriku dan mengangkat yang lain kemudian memfokuskan sihir biru dan ungu ke telapak tanganku dan menembakkannya ke langit. Itu hampir meledak ke langit-langit sebelum larut menjadi segudang lampu yang membanjiri seluruh ruangan.
“Terima hadiahmu.”
Ada hujan lebat, jatuh ke atas gadis-gadis yang berlutut dan untuk sementara mewarnai kulit mereka dengan warna ungu kebiruan. Itu hanya mengisi kembali sihir kemudian meningkatkan sirkulasi sihir dan menyembuhkan luka kecil. Dengan kata lain, tidak banyak.
“Aku akan menghargai hari ini selamanya.”
Suara Gamma bergetar saat dia berlutut di sisiku. Penampilannya sangat meyakinkan. Tapi, bukan hanya dia yang gemetar. Semua wanita cantik di kedua sisi karpet merah panjang gemetar dan beberapa bahkan menangis. Karyawan yang membawaku ke sini tersedu-sedu melalui air matanya. Gamma adalah sutradara yang sempurna untuk rombongan artisnya.
“Kamu melakukannya dengan baik, Gamma. Ngomong-ngomong, aku punya pertanyaan tentang perusahaan ini.”
Ya, kembali ke urusan. Dari cokelat hingga produk di lantai penjualan hingga desain arsitektur bangunan! Aku tidak dapat membayangkan mereka berasal dari dunia ini.
“Tanyakan apapun padaku.”
“Apakah semua barang Mitsugoshi ini berdasarkan ceritaku?”
Gamma selalu tertarik untuk mengorek otakku karena suatu alasan. Setiap kali Delta menghajarnya, dia akan menggangguku sambil menangis kemudian memohon agar aku menceritakan sebuah kisah padanya. Saat itulah aku memberi tahu Gamma tentang Kebijaksanaan Bayanganku yang mencakup cerita yang menghiasi secara acak tentang cokelat dan barang-barang lainnya di Jepang dari kehidupan masa laluku.
“Benar tuan ku. Aku hanya menciptakan kembali sebagian kecil dari pengetahuan ilahi yang telah Anda berikan kepadaku.”
“Ah! Begitu.”
Aku hanya mengatakan kepadanya bahwa dia bisa membuat cokelat dengan menggabungkan kacang pahit dan gula dan menunggu sampai mengeras. Menyebut pengetahuan itu berlebihan. Dan bagaimana dia menciptakan kembali semua ini? Ini pasti apa itu artinya dengan memiliki otak. Maksudku, dia ribuan tahun lebih pintar dariku. Tapi, itu tidak menggangguku. Dunia memiliki seorang yang jenius dan bodoh yang sesuati. Hanya itu saja. Tapi, aku punya satu pertanyaan.
“Apakah Alpha dan yang lainnya tahu tentang perusahaan ini?” “Tentu saja.”
Oh, aku mengerti.
Mereka telah jatuh ke dalam kesulitan seperti biasanya karena meninggalkanku. Aku mengerti jika sulit bagi mereka untuk memasukkan satu-satunya pria di sini dalam kelompok perempuan mereka akan tetapi ayolah!
“Ah! Dan apakah kamu telah menghasilkan uang?”
“Saat ini kami memiliki toko di setiap kota besar baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bisnis kami berkembang dengan pesat. Tapi, berapa lama kita bisa bersembunyi dalam bayang-bayang dengan kedok perusahaan? Ini adalah pertimbangan yang paling penting.”
Ada apa dengan penyampaian klise itu? “Itu tidak perlu. Langsung ke intinya!”
Pada dasarnya, dia memberi tahuku bahwa semua orang mendapatkan uang dari pengetahuanku. Semua orang kecuali aku. Jika mereka hanya memberiku sebagian kecil dari itu. Aku tidak akan mencari uang tunai atau mengejar koin seperti anjing.
Apapun itu tidak apa-apa! Para gadis telah menyiapkan alat penyangga besar ini untukku.
Jadi aku tidak bisa mengeluh. Tapi, kalau aku bisa makan ini sedikit saja.
“Um, aku harap kamu tidak keberatan jika aku menanyakan ini akan tetapi bolehkah aku meminjam sedikit zeni?”
Aku akan mengembalikannya suatu hari nanti! Mungkin. “Ya, aku akan segera menyiapkannya.”
Gamma menjawab itu dengan cepat. Dia memberi perintah kepada wanita yang membawaku ke sini.
Beberapa saat kemudian, sebuah gerobak dorong berisi koin menggelinding ke dalam ruangan setinggi gunung. Aku belum pernah melihat koin berkilau sebanyak ini di satu tempat. Ini dengan tidak lebih dari satu miliar zeni.
“Ini sedikit!”
Aku tidak bisa meminjam semua ini. Aku tidak akan pernah bisa membayar mereka kembali.
“Hhmm! Apakah ini tidak cukup? Aku akan mengirimkan lebih banyak!” “Tidak, tidak apa-apa.” A
ku menghentikan kalimat Gamma dan meraih koin kemudian membuat pertunjukan besar dengan memasukkan tanganku ke gunung koin-koin itu. Koin-koin itu berdenting keras. Sekarang perhatian mereka tertuju pada tangan kananku. Aku kemudian berkonsentrasi dengan sekuat tenaga.
“Hmph!”
Saya mengambil sekitar lima belas koin di tangan kananku dan menunjukkannya kepada semua orang di ruangan itu sebelum perlahan-lahan memasukkannya ke dalam saku kananku. Aku baru saja mendapatkan satu setengah juta zeni lebih banyak dan aku memiliki satu setengah juta zeni di saku kiriku juga.
Sambil memusatkan perhatian mereka pada tangan kananku. Aku mengambil beberapa koin di tangan kiriku dengan kecepatan tinggi kemudian memasukkannya ke dalam saku sebelum ada yang menyadarinya. Alpha atau Delta mungkin akan mengetahuinya akan tetapi Gamma tidak pernah memiliki kesempatan mengetahui itu.
“Ada apa? Anda dapat memiliki semua!”
Mengawasinya itu lucu bagiku. Dia pikir aku hanya meminjam satu setengah juta zeni akan tetapi sebenarnya aku mengantongi tiga juta!
“Cukup untuk sekarang.” Kataku sambil menahan tawa. “Baiklah. Ambil itu kembali.”
Gamma kemudian bertepuk tangan dan sekelompok wanita membawa gerobak dorong itu. Gamma berlutut di depanku.
“Tuanku, aku rasa aku tahu mengapa Anda datang hari ini. Ini pasti tentang insiden itu.” “Iya.”
Aku mengangguk.
Insiden apa?
“Permintaan maafku yang tulus. Kami sedang menyelidiki masalah tersebut akan tetapi belum menangkap pelakunya. Harap bersabar. Aku akan memburu pembantai di ibu kota! Orang bodoh berbaju hitam yang berpura-pura berada di Taman Bayangan.”
“Hmm!”
Ini pertama kalinya aku mendengar tentang ini.
*****
“Hmmm!”
Gamma menatap Shadow saat dia pergi dan mulai merenung. Di suatu tempat di mata birunya, ada sedikit kegelisahan. Air mata mengalir dari sudut matanya tanpa peringatan. Melihat sinar biru itu mengingatkannya pada masa lalunya. Kehidupan Gamma dimulai dengan cahaya dengan warna yang sama.
Jika dia tidak pernah datang, dia akan mati seperti gundukan daging yang membusuk. Dia ditinggalkan oleh keluarganya kemudian diusir dari negara asalnya dan kehilangan semua yang dimilikinya. Dia jatuh ke jurang rasa sakit, ketakutan dan kekecewaan! Dan orang yang menyelamatkannya adalah anak laki-laki yang menghasilkan cahaya biru dan ungu itu. Dia kemungkinan besar tidak akan pernah melupakan cahaya itu seumur hidupnya. Bagi Gamma, itu melambangkan cahaya kelangsungan hidup.
Alpha pernah memberi tahu Gamma bahwa ada kehidupan di dalamnya dan Gamma setuju bukan karena alasan logis akan tetapi karena alasan insting. Itu tidak hanya menyembuhkan luka luar! Akan tetapi bagian jiwa yang jauh lebih dalam. Ketika dia menyentuh cahaya kebiruan seolah-olah dia dilepaskan dari belenggu dan dibebaskan dari sesuatu yang menahannya. Dia akhirnya merasa seperti dia telah mendapatkan kembali identitasnya.
Pada hari itu, dia terlahir kembali. Saat dia menerima nama Gamma. Dia bersumpah untuk mengabdikan hidup barunya hanya untuk dia. Sementara niatnya tulus, dia adalah anggota Tujuh Bayangan yang paling tidak kuat. Dia dikalahkan dan dikalahkan oleh anggota yang lebih baru kemudian dibiarkan merangkak di tanah dan sangat dipermalukan. Di suatu tempat, Gamma menyadari bahwa dia tidak bisa mengalahkan rekan-rekannya. Tidak peduli seberapa keras dia berlatih.
Dia sangat sedih. Apa dia berharga? Dia lebih baik mati dari pada menunjukkan kebodohannya dan menjatuhkan semua orang. Tapi, dia secara acak memanggilnya pada hari dia berencana untuk mengakhiri semuanya dan dia menanamkan Kebijaksanaan Bayangannya padanya.
Wawasan itu menunjukkan padanya bagaimana bertarung dengan kecerdasannya demi kekuatan dan dia terjun langsung ke jalannya dan karena dia pikir ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia benar-benar mempertaruhkan nyawanya untuk menciptakan kembali Kebijaksanaan Bayangannya.
Ketika Gamma mengingatnya kembali, dia yakin dia mengenali rasa sakitnya! Bahwa dia membagikan pengetahuannya karena dia tahu dia terluka dan telah meramalkan jalan yang akan dia jalani dalam hidup. Itu membuatnya merasa sedih. Dia sedih mengetahui dia berada di luar jangkauannya.
Apakah Shadow membutuhkanku? Air mata berlinang setiap kali dia memikirkannya. Tapi, itulah mengapa dia perlu menghapus air matanya dan terus berjuang. Dia akan membuat Taman Bayangan lebih besar dan lebih kuat. Organisasi yang lebih cocok untuk Shadow dan pada hari itu, dia yakin keinginannya pasti akan menjadi kenyataan.
“Aku mengerti. Sangat menarik.”
Suaranya menarik Gamma kembali ke dunia nyata.
“Aku rasa aku tahu siapa yang melakukan ini. Aku akan melihat-lihatnya!”
Dada Gamma menegang saat dia mendengar nadanya yang mengetahui segalanya.
Dia gagal membantunya sekali lagi. Dia bisa menduga jawaban yang benar dengan potongan informasi yang sedikit. Bahkan jika dia memerintahkan semua bawahannya. Dia dapat dengan mudah menemukan petunjuk bahwa dia tidak pernah bisa. Tapi, Gamma tidak mau menyerah. Suatu hari, dia pasti akan memperhatikannya. Jadi dia harus bertahan.
“Nu, maju.”
Gamma memanggil si rambut coklat gelap yang membawanya ke sini. “Ini Nu. Dia nomor tiga belas.”
“Wow.”
Dia menatap Nu melalui matanya. Tatapannya tampak cukup tajam untuk melihat kedalaman kekuatannya.
“Meskipun Nu baru saja bergabung dengan kita. Bahkan Nyonya Alpha sudah mengenalinya karena kekuatannya. Jangan ragu untuk menggunakan dia sebagai penghubung untuk pekerjaan rumah atau apapun yang anda sukai.”
“Aku Nu. Senang berkenalan dengan Anda.” Suaranya sedikit gemetar karena gugup.
“Aku akan memanggilmu jika terjadi sesuatu.” “Dimengerti.”
Dia kemudian membungkuk dan melangkah mundur. “Aku kira aku akan pergi sekarang.”
Dia kemudian berdiri.
“Oh, hampir lupa. Aku ingin membeli cokelat! Jenis yang termurah. Jika kamu bisa memberiku diskon untuk teman dan keluarga. Itu bagus sekali.”
“Kami akan menyiapkan cokelat terbaik kami toko ini.” “Um! Berapa harganya?”
“Dengan kupon teman dan keluarga. Itu akan menjadi diskon seratus persen.”
“Seratus persen? Itu membuatnya gratis! Ya ampun, ini hari keberuntunganku! Kalau begitu, aku akan mengambil tiga dari mereka.”
“Terima kasih atas pembelian Anda.”
Gamma tersenyum ketika dia melihatnya kembali ke peran Cid Kagenou si orang biasa.
******
“Kita akan melewatkan jam malam!”
“Itu karena Cid membutuhkan waktu terlalu lama!” “Aku minta maaf dan memberimu cokelat.”
Kami bertiga berlari di jalanan ibu kota yang gelap gulita.
Aku pasti salah satu dari dua alasan kita terlambat. Tapi, pertanyaan langsung Skel dan Po tentang wanita itu adalah alasan lain. Nu! Apakah itu namanya? Ngomong-ngomong, aku baru saja menghindari interogasi mereka dengan sekelompok pemula. Meski begitu, aku tidak akan pernah menyematkan Alexia sebagai tipe untuk menjadi pembunuh berantai di kehidupan nyata. Jika Delta bukan pelakunya, itu pasti Alexia. Aku tahu itu dia saat aku mendengar tentang kejahatan baru-baru ini. Dia seorang putri yang memiliki segalanya. Apa yang mungkin membuatnya marah?
Hati wanita itu adalah teka-teki.
Kamu tahu? Aku tidak meremehkan para pembunuh massal. Itu adalah cara hidup. Tapi, menodai nama Taman Bayangan adalah cerita yang sama sekali berbeda. Jiwa-jiwa malang itu tidak akan lolos begitu saja.
“Hei, apa kamu dengar itu?” “Tidak, tidak ada.”
Skel dan Po berlari di depanku saat mereka berbicara di antara mereka sendiri. Tampaknya mereka tidak mendengarnya dengan baik akan tetapi bagi aku. Itu sangat jelas.
Itu adalah suara dari dua bilah yang berbenturan yang berarti orang-orang sedang bertempur di dekatnya.
Aku kemudian berhenti di jalan. “Yo, ada apa?”
“Kita akan melewatkan jam malam!”
Duo ini berhenti sesaat setelah aku melakukannya. Aku kemudian menunjuk ke gang belakang.
“Aku akan buang air besar.”
Mereka terlihat seperti tidak percaya aku yang sebenarnya.
“Jika aku tidak pergi sekarang. Itu akan mengalir di kakiku saat aku berlari.” “Itu darurat.”
Pertanyaan tentang jam malam atau harga diri. Wajah mereka berubah serius. “Kalian pergi saja. Aku tidak ingin ada yang melihatku.”
“Ew! Baiklah! Aku tidak akan memberi tahu siapa pun bahwa kamu BAB di luar!” “Tidak peduli apa yang orang lain katakan. Kupikir kau membuat keputusan yang tepat!” “Oof, aku tidak bisa menahannya. Cepat! Tinggalkan aku!”
“Cid! Kami tidak akan pernah melupakanmu!”
“Cid! Bahkan jika kamu buang air di luar. Kita akan selalu berteman!” “Pergilah! Peeerrrrgggiiii!!”
Pasangan itu berbalik kemudian pergi.
Setelah aku melihat mereka pergi. Aku kemudian menuju gang belakang dan mengikuti suara duel itu. Ketika aku melacaknya ke sumbernya. Aku berada di gang yang gelap.
Dua kesatria gelap berada di tengah pertempuran sengit.
Tidak ada keraguan dalam pikiranku bahwa yang berseragam sekolah dan rok pendek adalah Alexia. Tapi, yang lainnya adalah pria bertopeng yang berpakaian serba hitam. Jelas ada yang tidak beres. Aku bisa mengerti jika Alexia mengenakan pakaian hitam legam kemudian berpura-pura berada di Taman Bayangan akan tetapi tidak sebaliknya. Aku kemudian naik ke atap dan diam-diam mengawasi mereka dari atas.
“Sudah menyerah. Tidak mungkin kamu bisa menang.” Kata Alexia.
Dia tampaknya lebih unggul. Pria berbaju hitam belum tentu lemah. Dia tidak bisa menyentuh Alexia yang meningkat pesat dengan pelatihannya baru-baru ini. Mantel hitamnya robek dan compang-camping dan darahnya mewarnai batu-batuan menjadi merah tua. Satu dorongan terakhir akan menentukan pemenangnya.
“Mengapa kamu membunuh yang tidak bersalah? Itukah alasanmu bertarung?” “Kami adalah Taman Bayangan.”
Tadi, pria hitam legam itu pasti berkata. ‘Taman Bayangan’.
“Apakah hanya itu yang bisa kamu katakan? Itukah yang dicari oleh Shadow?” “Kami adalah Taman Bayangan.”
Pria berbaju hitam itu mengulangi it uterus menerus. Tanpa ragu, pria ini adalah penipu yang memakai nama Taman Bayangan. Maaf sudah meragukanmu, Alexia. Sepertinya kamu tidak bersalah. Maafkan aku dengan sangat tulus.
Tapi, kenapa orang ini meniru Taman Bayangan? Itu adalah pertanyaan selanjutnya yang jelas dan aku tahu jawabannya dengan sangat baik. Aku dapat sepenuhnya memahaminya karena aku adalah aku.
Jawabannya adalah pemujaan.
Pria ini terpikat oleh Taman Bayangan dan pemimpin rahasia. Aku tidak bisa mengatakan aku menyalahkan dia. Maksudku, seluruh perjalananku dimulai karena aku menyukai perantara bayangan. Aku jatuh cinta dengan komandan tersembunyi di film, anime dan manga dan mulai meniru mereka.
Penipu ini berjalan di jalan yang sama dan menemukan Taman Bayangan. Ya, dia adalah pengikut pertama Taman Bayangan di dunia. Perasaan hangat muncul di dadaku. Aku hanya senang mengetahui ada orang asing yang menerima kita dan cara kita. Aku senang mengetahui bahwa aku telah memilih jalan yang benar.
Tapi, ini tidak bisa dimaafkan. Mengapa? Karena aku adalah pemimpin. Jika aku memaafkan mereka yang mencoreng nama organisasiku. Maka aku bukan lagi salah satunya. Saat ini, kita berdua bisa menyebut diri kita perantara bayangan dan aku tidak akan tahan atau puas dengan itu.
Ini sudah berakhir untukmu.
Ketika Alexia menggagalkan serangan baliknya dengan menjatuhkan pedang dari tangannya. Aku merasakan sihir lain mendekat.
*******
Sudah berakhir untukmu.
Alexia mengirim pedangnya terbang yang membentur jalan berbatu. “Hngh!”
Alexia jatuh karena menghindari serangan mendadak dari belakang.
Dia memblokir serangan cepat lainnya kemudian mendorong kakinya ke perut penyerang dan dengan cepat mundur. Memelototi lawan barunya, dia menenangkan napasnya. Ada dua kesatria gelap berpakaian hitam legam.
Alexia mendecakkan lidahnya saat melihat pria pertama mengangkat pedangnya. Ini jadi tiga, dan dia menebak mereka semua kuat juga. Melawan salah satu dari mereka? Dia bisa menang dengan mudah. Dia memiliki peluang bagus untuk menjatuhkan dua. Tapi, bertarung melawan tiga lawan adalah!
“Tidak baik jika kalian bertiga melawan gadis cantik.”
Aku memberitahu mereka untuk menghiburnya dengan sebuah jawaban. “Bagaimana dengan tiga pertarungan satu lawan satu? Atau itu tidak bagus?” Dia menyarankan itu.
Mereka perlahan mengelilinginya dari semua sisi. Dia memastikan punggungnya tertutup saat dia menjauh beberapa inci.
“Hei, lihat di belakangmu. Bulan itu indah malam ini.”
Seorang pria mendekati punggungnya dan dia terus memeriksanya dengan matanya.
Pedang mereka melesat dengan gerakan kecil saat mereka mencoba mengukur niat orang lain. “Astaga. Kamu tidak akan melihat? Aku pikir kamu harus melihatnya!”
Alexia tersenyum. Mata merahnya berkilau di bawah sinar bulan. Karena ada wanita cantik di belakangmu.
“Guah!”
Dia mengalihkannya.
Alexia bergerak seketika kemudian mengayunkan pedangnya ke bawah untuk mengiris lawannya yang bodoh yang berbalik untuk memeriksanya.
Mati. Dia tidak mengatakannya dengan keras akan tetapi malah mencibir padanya. Dia merobek jubah hitamnya kemudian darah keluar dari itu. Tapi, tebasannya tidak cukup dalam. Dia hanya perlu satu pukulan lagi untuk menghabisinya dan pada saat itu, Alexia mengalami pukulan di perut.
“Augh!”
Sebuah sepatu bot hitam masuk ke sisi tubuhnya dan dia bisa mendengar tulang rusuknya patah karena benturan. Saat dia meludahkan darah dan mengayunkan senjatanya. Dia memasukkan pedangnya ke dalam sepatu bot hitam. Tapi, musuh menghindari serangannya pada detik terakhir dan pedangnya memantul dari jalan berbatu.
Orang-orang itu terlalu jauh untuk menyerang.
Alexia mengambil darah itu dan menyeka mulutnya. Tangannya diwarnai merah. Pada titik ini, dia berhasil mengalihkan dua dari mereka akan tetapi ada satu yang tersisa! Orang yang menendangnya untuk menghentikannya membunuh pria lain. Alexia memelototinya dengan dengki.
Tiga lawan satu. Jumlahnya tidak berubah.
Tapi, situasinya semakin parah. Dua dari mereka tidak terluka dan yang lainnya terluka parah akan tetapi mampu menggunakan pedangnya. Dia tidak bisa mengabaikan pria terakhir.
Di sisi lain, paru-paru Alexia tertusuk oleh tulang rusuknya yang patah. Mereka akan membunuhku, pikirnya. Aku kira ini dia.
Alexia mengeluarkan pil merah dari saku di seragam sekolahnya. Dia diam-diam mengambil obat itu sebelum gudang terbakar. Dia menentang permainan pedang yang brutal akan tetapi dia lebih memilih mati. Alexia membawanya ke bibirnya. Sambil berdoa agar strategi dadakannya berhasil. Dia mengangkat pil ke bibirnya.
Pada saat itu, sesuatu yang berwarna hitam turun dari langit kemudian mendarat diam seperti burung hantu yang melayang di malam hari. Pisau hitam membelah satu lawan dari mana itu darah keluar. Bau busuk darah yang mencekik menembus gang. Dengan ayunan tajam, pria berbaju hitam yaitu Shadow mencipratkan darah dari pedangnya dalam garis merah di sepanjang dinding.
“Untuk orang bodoh yang mengejek nama Taman Bayangan.”
Itu adalah Shadow. Sosok terkuat yang pernah ada. Dialah yang mendemonstrasikan permainan pedang yang sempurna! Dan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Apakah Shadow melawan mereka? Seperti itulah kelihatannya.
“Bayar dosa-dosamu dengan hidupmu.” Lanjut Shadow.
Pada saat berikutnya, orang-orang berbaju hitam legam mulai bergerak kemudian membuat keputusan langsung untuk melompat dari bebatuan dan terikat dari dinding kemudian melompat ke atap dan melarikan diri.
“Betapa menyedihkannya.” Shadow bergerak mengejar mereka. “Mohon tunggu!”
Suaranya menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik perlahan dan menatapnya. Pedangnya bergetar hebat. Dia menyadari! Dia melakukan sesuatu yang bodoh.
“Aku Alexia Midgar, salah satu dari dua putri di kerajaan ini.”
Shadow hanya menatapnya. Dia tahu dia bisa mengambil nyawanya jika dia mau.
“Apa tujuan kamu? Apa yang kamu perjuangkan? Siapa yang kamu lawan? Dan apakah kamu akan menjadi ancaman bagi negaraku?”
Shadow kemudian membelakangi dia.
“Jangan ikut campur. Ketidaktahuan adalah kebahagiaan.”
“Apa?! Tunggu, jika kamu mengatakan kamu menentang kerajaan!”
“Dan apa yang akan kamu lakukan jika aku melakukannya?” Dia kaget dengan haus darahnya.
Dihadapkan dengan kekuatan yang tidak dapat diatasi. Dia secara naluriah gemetaran.
Tapi, menentang naluri kita itulah yang menjadikan kita manusia.
“Aku akan melawanmu. Aku tahu kamu akan mencoba membunuh kakak perempuanku dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Shadow membiarkan mantelnya berkibar di belakangnya.
“Aku mengerti permainan pedang kamu. Aku mungkin tidak bisa sekarang akan tetapi suatu hari nanti! Aku akan!”
“Membunuhku?”
Dia bisa menebaknya.
Dengan kata-kata perpisahan itu, Shadow lenyap ke dalam kegelapan. Alexia bergumam dalam kegelapan pada dirinya sendiri.
“Ya itu benar!”
Keheningan kembali ke malam. Sepi dan sendirian. Alexia mencengkeram perutnya dan berjongkok. Pedangnya jatuh dari tangannya yang gemetar. Dia tahu dia telah melakukan sesuatu yang bodoh. Namun baru-baru ini dia menemukan alasan untuk bertarung. Untuk melindungi beberapa hal yang dia sayangi! Satu-satunya saudara perempuan dan satu temannya.
“Ini tidak bagus!” Alexia akan pingsan.
Dia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi padanya jika dia pingsan di gang. Dia mencoba menggunakan dinding untuk mengangkat dirinya sendiri.
“Alexia, Alexia!”
Sebuah suara memanggilnya di kejauhan. “Hei, Iris. Iris! Disini!”
“Alexia!!”
Langkah kaki itu semakin dekat. Sesuatu yang lembut menangkap Alexia di udara sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
“Alexia! Apa yang telah kau lakukan?” “Iris.”
Alexia membenamkan wajahnya di dada kakaknya.
“Persiapkan dirimu. Aku akan minta kamu untuk memberi tahuku semua detailnya nanti.” “Baik.”
“Termasuk ini.” “Hah?”
Alexia melihat pil merah berserakan di jalan berbatu tempat dia menjatuhkannya. “Dengar, Iris. Aku tidak tahu apa-apa tentang mereka.”
“Diam.”
“Aku tidak tahu. Jujur.” Ini tidak bisa dimaafkan.
“Oh, kepalaku!”
Alexia memutuskan untuk membiarkan dirinya pingsan dan membiarkan benda-benda ini berjatuhan.
********
Dua bayangan menerobos jalanan gelap ibu kota.
Saat mereka semakin khawatir tentang serangan dari belakang. Orang-orang berbaju hitam itu berbelok ke gang dan berhenti. Sepertinya mereka sedang terburu-buru. Mereka meletakkan tangan mereka ke dinding kemudian mencoba untuk menenangkan napas mereka yang tidak teratur. Untuk beberapa saat, hanya tarikan napas yang keras yang bergema di lorong gelap.
Thunk.
Suara dari dalam gang.
Mereka dengan cepat berbalik untuk mengintip ke dalam kegelapan. Sosok hitam terbentuk dalam bayang-bayang dan mendekati mereka.
Thunk, thunk.
Suara sepatunya semakin dekat.
Para pria dengan hati-hati menyiapkan pedang mereka. Tapi, kemudian pedang hitam menusuk ke salah satu kepala mereka dan langsung melewati tengkorak tanpa peringatan.
“Agh, Aghh, Aghhh!”
Katana kayu hitam itu ditarik saat pria itu menjerit kesakitan kemudian menyemburkan darah dan jatuh ke tanah. Penipu yang tersisa mulai mundur ketakutan ketika sosok itu muncul dari bayang-bayang dan muncul. Dalam mantel hitam, dia memiliki pedang dan menyembunyikan separuh wajahnya di balik topeng penyihir.
“Apakah aku membuatmu menunggu?”
Suaranya dalam seolah bergema dari kedalaman bumi. “Eek!”
Teriak pria berbaju hitam saat dia melangkah mundur. “Kenapa kamu takut?”
Dia bertanya.
“Apakah kamu benar-benar berpikir kamu bisa melarikan diri?” Pria berbaju hitam berbalik untuk melarikan diri.
“Apa?”
“Kerja bagus. Shadow-sama.”
Dia berbalik untuk menemukan seorang wanita berdiri di sana. Dia sangat memikat dan anggun kemudian mengenakan gaun pendek.
“Anda mengamankan pelakunya dalam waktu singkat. Aku sangat kagum.” Komentarnya.
“Apakah itu kamu, Nu?” “Ya.”
Jawabnya dengan melanjutkan percakapan dengan pembunuh yang terjepit di antara mereka.
Dia bersandar ke dinding.
“Tolong serahkan sisanya padaku. Aku akan mengambil informasi darinya.” Pria berkulit hitam menurunkan pedangnya.
“Jangan mengacaukannya.” Dia memperingatkan itu. “Dimengerti.”
Dia kemudian berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan. Wanita cantik itu menundukkan kepalanya saat dia melihat dia pergi. Si cantik dan pria berbaju hitam legam ditinggalkan di gang sempit. Yang terakhir bersenjata lengkap akan tetapi yang pertama tidak bersenjata dengan gaun dan sepatu hak.
Pria itu bertindak cepat. Dengan serangkaian tebasan cepat. Dia menikam gadis yang tidak bersenjata itu sampai mati. Setidaknya itulah yang ingin dia lakukan. Dengan gaunnya yang terbalik. Dia membelah malam dengan kakinya yang putih dan menggoda.
Ka-chank. Pedang pria itu jatuh ke jalan berbatu. Terdengar ketukan sebelum delapan jarinya jatuh di sampingnya.
“Agh!”
Sulit untuk mengatakan apakah dia mencoba mengambil delapan jarinya atau pedangnya. Dengan hanya ibu jari yang tersisa. Dia mengulurkan salah satu tangannya. Tapi, itu dihancurkan oleh sepatu hak tinggi.
“Gyah!”
Dengan itu, bilah kayu hitam muncul dari ujung sepatunya. Darah dari jari-jarinya mengalir di atas bebatuan.
“Aku tidak sebaik Shadow-sama.”
Dia bisa mendengar kepahitan dalam suaranya. Pria itu mendongak untuk menemukan tatapan yang cukup dingin untuk membekukannya sampai mati.
“Jangan berpikir aku akan membiarkanmu mati dengan damai.”
Dengan ujung gaunnya di udara. Dia kemudian membanting dagunya dengan lutut. Keesokan paginya, mayat yang mengerikan ditemukan tergantung di jalan utama di ibukota. Ada pesan yang tertulis dengan darah di perutnya.
JALAN ORANG-ORANG Bodoh
Wajah orang yang meninggal itu dipenuhi dengan penderitaan dan ketakutan.
*********
Berbaring di tempat tidur yang rapi. Alexia mendongak untuk melihat wajah tegas kakaknya.
“Aku tahu apa yang terjadi.”
Iris duduk di samping tempat tidur.
“Pembunuhan itu tidak dilakukan oleh Taman Bayangan akan tetapi oleh peniru dari organisasi lain.”
“Shadow menyebutkan itu.” Tambah Alexia.
“Shadow? Kami masih belum tahu organisasi apa itu.” Iris menunduk sambil merenung.
“Selama penyerangan di ibukota. Aku mengidentifikasi keberadaan seorang kesatria kegelapan yang mungkin berada di Taman Bayangan.”
“Orang yang menggunakan nama Alpha.” Iris mengangguk.
“Sumber lain menunjukkan bahwa Taman Bayangan adalah organisasi yang luar biasa kuat dan laporan kamu menegaskan nama mereka dan keberadaan seorang pria bernama Shadow. Tapi, hanya itu yang kami tahu. Yang lainnya adalah misteri. Kami bahkan tidak tahu tujuan mereka.”
“Shadow sedang melawan Sekte Diabolos. Mungkin tujuan mereka ada hubungannya dengan mereka.”
“Apa yang membuat Sekte menjadi petunjuk kita.” Iris mendesah.
“Iris?”
“Aku pikir mereka adalah agama normal yang percaya pada Diablos si iblis akan tetapi sepertinya mereka melakukan lebih banyak operasi dari pada yang kita duga.”
“Seperti apa itu?”
“Itu! Itu. Dan anggaran untuk Ordo Penghakiman. Aku tidak bisa melanjutkannya .Jaddi aku akan mendanai sendiri untuk saat ini.”
Alexia menyatukan alisnya.
“Apakah itu berarti Sekte itu tidak hanya menyusup ke Ordo Kesatria akan tetapi mereka juga petugas sipil?”
“Aku tidak tahu. Mereka adalah anggota keagamaan atau menerima suap akan tetapi aku tidak bisa memastikannya. Bagaimanapun, aku ceroboh dalam menyatukan Ordo yang baru.”
“Aku akan membantumu membayarnya.”
“Cara berpikir kita sangat berpengaruh. Kamu tahu berapa banyak anggota di Ordo Penghakiman, kan?”
Iris tersenyum pahit. “Delapan.”
“Benar, baru delapan. Dengan kontribusiku, mereka dapat dengan mudah bertahan selama lebih dari sepuluh tahun. ”
“Kalau begitu, bisakah kita membuat Ordo yang lebih besar?”
“Tidak masuk akal untuk membuatnya lebih besar sekarang. Kita bahkan belum tahu siapa yang kita lawan.”
“Iris, um!”
Alexia dengan cemas menatap kakaknya.
“Siapa musuh dari Ordo Penghakiman. Taman Bayangan atau Sekte Diabolos?” Iris kemudian tersenyum.
“Keduanya. Aku menolak untuk membiarkan kerusakan di kerajaan ini.” “Iris. Kita tidak boleh melawan Shadow.”
Alexia mengepalkan seprai. “Alexia, jatuhkan!”
“Iris, kamu tidak akan mengatakan ini jika kamu mengenalnya. Aku tahu kamu melihat serangan yang mewarnai langit malam di seluruh ibu kota!”
“Kami sudah menyimpulkan bahwa itu hanya artefak yang terbakar.” “Tapi, aku melihatnya menggunakan sihirnya!”
Iris duduk di dekat Alexia dan menatap mata merahnya.
“Kekuatan semacam itu tidak mungkin dicapai manusia. Menghabiskan terlalu banyak waktu di penangkaran membuat ingatan kamu berkabut dan aku yakin semua obat aneh itu membuat kamu berhalusinasi. Aku tidak berpikir kamu berbohong akan tetapi menurutku kamu perlu istirahat.”
“Iris!”
Iris meletakkan kedua tangannya di atas tangan Alexia.
“Dan bahkan jika itu benar-benar berasal dari Shadow itu. Kita tidak bisa menutup mata.
Siapa yang akan melindungi negara kita jika aku melarikan diri?” “Iris.”
Iris membelai rambut Alexia lalu bangkit berdiri. “Istirahatlah sampai kamu sembuh.”
“Aku akan membantumu saat aku menjadi lebih baik.” “Itu tidak perlu.”
“Hah?”
“Oh, kamu sedang menjalani tahanan rumah. Aku pasti lupa memberitahumu.” “Kamu tidak bisa ber!”
Untuk mencuri bukti. Iris menunjukkan pil merah padanya dan rahang Alexia jatuh ke lantai.
“Pikirkan tentang apa yang telah kamu lakukan.” Pintu dibanting menutup di belakangnya.
