God of Cooking - chapter 112
Dewa Memasak – Bagian 112: Skala pemenang (1)
Chloe mengambil nafas panjang dan dalam. Dia menguncir rambutnya dengan bandana putih berbunga dan dia memakai apron putih, dia terlihat seperti gadis kasar. Dia terkesan semakin aneh saat dia bersanding dengan Joanne yang selalu bergaya tahun 20an. Mereka bilang bahwa fashion pada masa itu justru bagus, tetapi pada akhirnya mode memang akan kembali lagi ke jaman dulu.
Baju bergaris berwarna putih, kardigan coklat, dan topi floppy dari kulit berwarna coklat. Pakaiannya terkesan seperti dia seorang puteri Amerika pada masa itu. Jika mereka menjalani misi dengan kostum seperti itu, adegan yang terekam akan tampak lucu, tetapi malangnya itu tidak terjadi. Staf meminjamkan seragam memasak lalu mereka berdua tertunduk kecewa.
“Aku ingin menunjukkan selera fashionku karena ini misi terakhir.”
“Aku juga”
“Bagaimana jika nanti kalian mengikuti audisi model ?” gurau Jo Minjoon.
“Aku tidak akan bisa mendaftar karena aku pendek.” jawab Chloe dengan serius.
Mungkinkah dia sungguh memimpikan menjadi model? Kaya melihat seragam itu beberapa saat lalu berkata.
“Seragam kita lebih baik dari pada mereka.”
Warna seragam Kaya hitam. Di sisi lain, seragam tim Anderson berwarna putih. Sebenarnya warna cerah akan lebih baik untuk menyadari ada noda di atasnya tetapi jika hanya untuk penampilan, hitam lebih baik. Pertama, itu membuatmu terlihat lebih kurus.
Saat semua orang selesai berganti pakaian dan berkumpul, Kaya berpidato. Kau tidak akan bisa merasakan sisi Kaya yang pemberontak dan pembuat masalah. Suaranya tenang, tegas, dan hangat.
“Terima kasih semuanya karena telah bekerja keras selama 6 hari terakhir dan mengikuti metodeku tanpa berkata apapun. Aku pasti akan menang. Tidak.”
Kaya mengambil nafas dan berbicara dengan sungguh-sungguh.
“Ayo kita menang”
Semua orang menjawab dengan senyuman. Mereka bertanya-tanya apakah Kaya yang justru telah banyak tumbuh dewasa dalam kompetisi ini.
Ini bukan membicarakan tentang keahlian memasak. Dia tumbuh menjadi orang dewasa. Tentu, ada beberapa perbedaan karena semua orang telah tumbuh dewasa. Ini kompetisi yang hanya bisa mereka jalanin sedemikian rupa. Dalam waktu singkat, mereka harus memasak dan terus memasak sembari mencurahkan segala yang mereka punya. Mereka juga harus bekerja sama dengan seseorang yang mereka bahkan belum pernah mengobrol sama sekali dan kadang-kadang mereka membuat sesuatu yang mereka masak untuk pertama kali. Jika mereka tidak berkembang dalam situasi ekstrim itu, itu akan aneh.
Semua orang menenangkan diri masing-masing dan pergi menuju dapur. Kau akan bertanya-tanya apakah mereka perlu merasa gugup toh ini bukan kompetisi mereka, tetapi mereka tidak bisa. Ini adalah tempat di mana chef-chef terkenal dari seluruh penjuru negeri melihat mereka. Jika seseorang memperhatikan mereka, itu berarti seluruh Amerika memperhatikan mereka.
Kebanyakan dari mereka menginginkan Kaya menjadi pemenang karena apapun yang mereka lakukan, mereka satu tim saat ini. Tidak ada satu orang pun yang memiliki niat buruk karena Kaya memang lebih baik dari mereka. Setidaknya, begitu di antara mereka.
Saat mereka memasuki dapur, ada satu poin yang berbeda dari sebelumnya. Tirai yang berada di antara aula dan dapur disingkirkan. Itu berarti bahwa chef-chef akan memeriksa bagaimana mereka memasak. Chloe mengepalkan tangannya. Telapak tangannya tidak berkeringat, tetapi jantung iya dan berdegup kencang, hingga setiap kali dia bernafas, dadanya sakit.
Namun, itu perasaan gugup yang bagus. Mungkin mengekspresikannya sebagai pelepasan adrenalin lebih tepat. Tidak hanya membicarakan tentang Chloe, tetapi semuanya. Itu adalah konsep misi yang akan membuatmu merasa seperti itu, tidak serta merta sebuah konsep dapur terbuka. Pada chef-chef yang diakui dengan baik secara nasional, mereka harus menunjukkan tidak hanya keahlian mereka tetapi juga usaha dan hasil panen mereka.
Jo Minjoon mengambil nafas panjang. Di dalam rongga dadanya, banyak emosi berputar-putar, yaitu kegugupan, ekspektasi, dan antusias, tetapi saat dia menghela nafas, emosi-emosi itu keluar bersama nafasnya. Ada satu hal yang tersisa:tekad, bukan tekad untuk menang, bahkan bukan resolusi untuk membuat Kaya menjadi pemenang, melainkan tekad yang sungguh sederhana.
‘Mari membuat sesuatu yang lezat.’
Itu sederhana tetapi susah dilakukan. Meski dia memilih memasak hidangan ala Korea, China, ataupun Barat, pada akhirnya, hal yang harus dia kejar adalah sama. Di mulut yang bahkan satu kepalan tangan tak bisa masuk, dia mempertaruhkan hidupnya.
‘Tidak, yang aku pertaruhkan kali ini bukan hidupku.’
Ini resep Kaya, ide Kaya, dan ideologi Kaya, yang sebenarnya banyak dia masukkan adalah warna Kaya. Jadi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa dia hanya perlu menirukan resep seperti sebuah mesin? Itulah yang dipikirkan Jo Minjoon selama 6 hari terakhir. Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat hidangan yang lebih baik? Saat membuat makanan yang bukan miliknya, melainkan milik orang lain, sikap seperti apa yang harus dia pertahankan?
Tidak ada jawaban selain musik yang terdengar, lebih tepatnya, dari musik klasik. Saat dia mendengarkan konser biola Mozart No.3 dia terinspirasi seperti ada bohlam lampu Edison di kepalanya.
Kesempatan itu sederhana. Itu pemikiran singkatnya.
Jelas itu lagu Mozart tetapi konser Hillary adalah yang terbaik.
Dalam musik klasik, meskipun sama, tetapi akan sangat berbeda berdasarkan siapa PD dan pemusik yang membawakannya. Dia tidak hanya membicarakan arti dari apa yang dia rasakan. Gesekan pada senar, keliaran dalam gesekan, ketajaman dan jangkauan yang terjadi dari waktu ke waktu. Semua hal sepele itu melebur dalam kepribadian pemusiknya dan hasilnya akan sangat berbeda.
Tetapi hanya karena itu, tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa itu bukan lagunya Mozart. Karena pada akhirnya melodinya sama.
Resep Kaya adalah partitur baginya. Lalu, pada dasarnya apa yang harus dia lakukan adalah memahami partitur dan komposer. Dan itulah mengapa dia terpikir, apa yang ingin Kaya ekspresikan dengan langostin ini?, bagaimana dia ingin memperlakukannya?, dan cita rasa seperti apa yang ingin dia hasilkan?
Dia menginvestigasi dan menganalisa, lalu dia paham. Cita rasa yang Kaya ingin tunjukkan sulit diutarakan dengan kata-kata. Jo Minjoon tahu persis kesan seperti apa yang dia inginkan.
Sekarang, membuat resep itu lagi sesempurna mungkin. Evaluasi yang datang selanjutnya adalah pekerjaan Kaya. Evaluasi juga berubah sesuai dengan seberapa baik Kaya memasak. Jo Minjoon percaya dengan resep Kaya, bukan karena skor tinggi yang dikatakan sistem, melainkan apa yang sudah dia lihat hingga sekarang, yang sudah dia makan hingga sekarang.
Para juri berdiri di depan meja masak. Joseph berkata dengan suara tenang,
“Malam ini, meja-meja akan penuh dengan chef-chef dari seluruh penjuru negeri. Apa kalian siap untuk memuaskan mereka semua?”
“Iya. Aku siap.”jawab Kaya tanpa ragu sedikitpun. Joseph terkejut melihat Kaya.
“Kau percaya diri lebih dari biasanya. Meski itu kau, aku pikir kau akan lebih gugup saat final.”
“Aku tidak ingin menjadi orang bodoh di dapur karena gugup.”
“Bagus. Tetaplah tenang seperti itu. Anderson, apa kau baik-baik saja?”
“Aku jelas lebih tenang dari pada Kaya.”
Mungkin dia tidak ingin kalah dari Kaya, Anderson menjawab dengan suara keras. Akan tetapi, dibanding Kaya, wajahnya jelas terlihat gugup. Alan berkata dengan ekspresi santai.
“Ingat. Kalian tidak sendiri saat ini. Kalian punya sekutu dan kalian harus memimpin mereka. Jangan pikirkan apapun selain kompetisi. Pelanggan akan segera datang. Aku yakin kalian akan menunjukkan sisi yang bagus.”
Anderson diam. Dia tidak ingin membuat kesalahan bodoh saat momen yang menentukan ini. Dan saat ini adalah adalah salah satu momen yang terpenting dalam hidupnya.
Misi dimulai.
–
Pada masing-masing meja terdapat tiga kursi. Beberapa orang mungkin berkata menambah jumlah kursi lebih baik, tetapi sebenarnya meletakkan kursi di tiga sudut adalah hal yang ideal agar bisa berkonsentrasi pada makanan dan bercakap-cakap dengan baik. Dengan posisi duduk seperti itu, mudah untuk berkonsentrasi pada makanan dan juga nyaman untuk melihat lawan bicara.
Namun, hanya ada satu meja yang sesuai dengan konsep itu, yaitu meja chef New York dan chef California. Ada 50 negara bagian di Amerika dan ada satu dari Washington DC. Jika dibagi 3, maka hasilnya pas. Akan tetapi, di meja mereka hanya ada dua orang.
“Bagaimana mungkin orang yang tinggal di Illinois bisa terlambat padahal ini di Chicago?”gerutu Chef New York sambil menyentuh jenggotnya dengan arogan.
“Sebenarnya orang yang mengundang orang lain ke wilayahnya biasanya datang terlambat. Mirip seperti itu.”
“Terlambat adalah masalah yang kedua. Aku datang ke Chicago tetapi aku bahkan tidak bisa makan pizza Chicago. Hal bodoh macam apa ini?”
Mendengar chef New York yang menggerutu, chef California sedikit tertawa. Gurunya, yang dia temui dalam waktu yang lama, masih mempunyai selera yang tidak umum.
“Meski enak, pada akhirnya itu hanyalah sebongkah keju. Apa Anda sungguh akan memasukkan itu ke dalam mulut Anda?”
“Makanlah hidangan yang bermartabat di New York. Ada waktu di saat kau merindukan cita rasa yang meledak itu. Kau bisa berbicara seperti itu karena kau tinggal seperti penduduk asli di surganya California.”
“Anda membuat hidangan bermartabat itu sendiri.”
“Sebenarnya, makanan yang dibuat sendiri cenderung tidak lezat. Kau harus makan sesuatu yang orang lain buat atau mengambil hidangan milik orang agar terasa lezat.”
“…Aku tidak akan membiarkan milikku diambil.”
Mendengar suara chef California yang wasapada, chef New York memelintir hidungnya sambil bersuara ‘hmmph’ lalu perlahan melihat ke dapur.
“Dia putra Fabio dan Amelia, kan?” tanya chef New York.
“Iya.”
“Dia terlihat menyebalkan, aku yakin dia putra Fabio.”
“Meski begitu, dia cukup bagus. Tangannya tampak kuat dan dia maskulin.”
“…Dia seperti putramu. Jangan melihatnya seperti itu.”
“Putraku? itu berlebihan! Mari kita sebut dia seperti keponakanku. Selisih umur kita seharusnya tidak sampai 20 tahun. Terlebih, aku tidak melihatnya seperti seorang putra bagiku dan anakku masih sekolah dasar! Dia tidak sebesar itu! Dia tampak menjengkelkan, jelas itu putra Fabio.” kata Chef California sambil menghirup udara. Chef New York hanya melihat yang lain alih-alih menjawab.
“Benar, dia adalah Maya.”
“…Anda tidak membicarakan tentang Kaya, bukan?”
“Oh, benar. Kaya. Kau pun, saat seusiaku, nama-nama mulai terasa mirip.”
“Kenapa Anda tidak memanggilnya, chef Inka…Yaa, lupakan. Pertama-tama, bagaimana menurut penglihatan Anda tentang administrasi dapur?”
“Tampaknya asal-asalan.”
“Pada poin apa?”
“Pertama, mereka menyajikan gazpacho pada orang Texas jelek itu, alih-alih padaku.”
“…Baiklah. Yang kedua?”
“Yang kedua adalah teriakan yang tidak menyakiti telingamu. Akankan kau bisa mendengar apapn saat kau berkonsentrasi?”
Yang paling utama, sudah umum bahwa orang tua menunjukkan konsentrasi itu. Chef California memasang ekspresi heran seolah-olah itu tidak yakin lalu melihat mereka.
“Apa ada seseorang yang ingin kau ajak?”
“Anderson. Pertama, jika aku mengajaknya, setidaknya dia bisa mengisi posisi chef sous. Jika aku mengajarinya selama beberapa tahun ke depan, nantinya dia bisa mengambil tanggung jawab sebagai chef kepala di sebuah restoran besar tanpa masalah. Dan…”
Kata-kata chef New York terpotong. Kaya mendorong troli dan menyajikan sepiring gazpacho. Chef York menatap lekat pada Kaya lalu bertanya,
“Kau bilang kau berasal dari New York, kan? Pasar apa itu?”
“Pasar bebas di selatan.”
“Oh, harga di sana baik tetapi kebersihannya buruk.”
“Kalau begitu pergilah ke suatu tempat yang lebih bersih dengan harga yang buruk.”
“Bisakah aku yakin bahwa terhadap higinitas gazpacho ini?”
“Munkin akan sedikit kotor karena Anda meludahinya.”
Kaya selesai menyajikan lalu menyeringai saat dia melihat chef New York melongo menatapnya.
“Silahkan dinikmati.”
Kaya bergerak ke meja yang lain. Chef New York berkata dengan suara tertekan.
“Anak muda jaman sekarang tidak tahu sopan santun pada orang yang lebih tua.”
“Itu benar, tetapi masalahnya Anda juga bukan orang tua yang normal, melainkan orang tua yang menjengkelkan bagi anak muda. Sebelum Anda ti…tidak, Anda juga seperti itu dulu.”
Chef New York tidak menjawab. Dia mengambil sesendok penuh gazpacho dan memasukkan itu ke mulutnya. Pada saat itu, matanya berubah tajam.
“Ini cita rasa yang jernih.”
“Mmm, benar. Ini lezat. Meski sulit untuk melezatkan gazpacho, tetapi ini memang lezat. Cita rasa semangkanya lebih kental dari pada gazpacho pada umumnya…”
“Jika permulaannya saja seenak ini, ini tidak buruk sama sekali.”
Hidangan tim Anderson masih belum keluar. Ada 50 pelanggan. Meskipun mereka dibentuk satu tim lima orang dengan satu asisten, sulit untuk membuat makanan berkualitas, pun bagi mereka. Pada dapur yang normal, para chef berusaha tidak kehilangan cita rasa dan jumlah orang-orang yang mereka tangani paling banyak 30. Aka tetapi, itu masih memungkinkan untuk masakan yang sama, kerja tim, dan resep yang sudah biasa mereka kerjakan.
Oleh karena itu, para chef dibagi dua dan makan makanan dari tim yang berbeda. Pada kasus kedua chef itu, mereka harus menyantap hidangan tim Kaya terlebih dahulu.
Kemudian, chef dari Illinois tiba. Dia yang berambut putih, tersenyum lalu duduk di kursinya.
“Aku sedikit terlambat.”
“Tidak ada yang tersisa untukmu.”
“Itu keterlaluan.” kata Chef Illinois sambil menyeringai lalu mengangkat sendoknya.
“Ini sedikit berharga untuk memberikannya pada orang yang datang terlambat.” kata Chef New York sambil berekspresi tidak suka.
“Melihatmu berbicara seperti itu, sepertinya hidangan ini dibuat dengan baik.”
“Bahannya bagus. Mereka tidak menggunakan bahan-bahan yang sudah layu. Yang aku lihat, fermentasinya cukup berjalan dengan baik.”
“Apa mereka punya waktu untuk fermentasi saat misi?”
“Yang kudengar, ada beberapa kasus mereka bisa mempersiapkan beberapa hal yang perlu difermentasikan kemarin. Adonan roti juga seperti itu. Enak. Kita akan menyantap hidangan yang semakin lezat.”
Beberapa saat kemudian, dasar piring dari hidangan gazpacho terihat. Kaya menghampiri dan mengambil piring yang kosong, lalu menyajikan langostin buatan Jo Minjoon. Kaya mulai menjelaskan tentang langostin dengan tenang, para chef menatap Kaya dengan seksama.
“Hidangan ini dilengkapi garnish berupa pure buttermilk dan pure wortel. Busa yang ada di atas adalah busa buttermilk. Langostin ditumis sekali lalu dipanggang salah satu sisinya sekali lagi. Jika Anda menikmati perbedaan bagian yang terpanggang dan bagian yang lain, itu akan lebih lezat.”
“Ini cantik.” kata chef Illinois dengan ekspresi takjub.
Sebenarnya, bagian permukaannya tampak sempurna. Namun, bukan itu yang dia maksud. Yang dia maksud adalah kombinasi pure dan level kematangan langostino. Chef Ilinois mencocolkan langostin ke dalam pure, lalu mengigitnya, dia tersenyum ceria.
“Resepmu luar biasa dan timmu yang membuatnya lagi tanpa cacat juga luar biasa.”
“Terima kasih. Jo Minjoon adalah orang yang membuat langostino ini.”
“Oh…dia, orang yang punya indera pengecap yang mutlak. Aku benar, kan?”
“Benar, dan.”
Kaya tersenyum malu-malu.
“Dia adalah chef yang paling saya kagumi.”
< Skala pemenang (1) > Selesai
