Akulah Dewa - HTL - Chapter 21
Chapter 21: Firman dan Takdir
Redlichia melepaskan Otoritas Raja Kebijaksanaan. Ia duduk di istana, memeluk mahkota, matanya yang berkabut bersinar penuh sukacita seolah mengagumi mahakarya terindah ciptaannya sendiri.
Dia memejamkan matanya, dan kekuatan mistis di dalam mahkota itu mulai hidup. Nyala api kecil tampak menari-nari di atas mahkota hitam yang keras itu, mengukir jejaknya di permukaannya.
Shiiii!
Pola pada mahkota itu terlalu rumit untuk dilihat dengan mata telanjang, Tapi siapa pun yang memiliki kekuatan kebijaksanaan dan memegang mahkota ini akan dapat melihat kata-kata yang terukir di atasnya.
“Dewa berfirman: Aku sendirian, dan Kau juga sendirian. Umat manusia belum lahir ke dunia ini, dan hanya ada dirimu, Manusia Trilobita. Karena kesepian, Dewa menciptakan Redlichia, Raja Kebijaksanaan. Dan karena kesepian Redlichia, Dewa menciptakan Manusia Trilobita. Demikianlah, Peradaban dimulai, dan kerajaan didirikan sejak saat ini.”
“…”
“Dewa berfirman: Akulah Dewa yang menciptakanmu! Dan dirimu… Kau adalah raja mereka.”
Redlichia mencatat di mahkota itu kata-kata yang telah Dewa sampaikan padanya. Ini adalah dialog antara dia dan Dewa, bimbingan takdir itu sendiri.
Semua kata-kata yang dikumpulkan bersama membentuk perjanjian antara Manusia Trilobita dan yang ilahi.
Setelah ini selesai, selama dia menanamkan Warisannya sebagai leluhur garis keturunan ke dalam garis keturunan tersebut sebelum kematiannya, mahakarya sempurnanya ini akan selesai.
Itu bukan hanya harta karun yang sangat berharga, Tapi juga jawaban terakhir Redlichia atas hidupnya.
Redlichia semakin bersemangat, jiwanya sepenuhnya tercurah pada harta karun ini.
“Dewa berfirman padaku: Jurang keinginan tidak akan terpuaskan hanya karena Kau memberi cukup, dan gunung kebencian tidak akan lenyap hanya karena Kau memberikan berkat.”
Saat ia mengukir kalimat ini, suara gemuruh terdengar dari bawah tanah, dan seluruh Kota Pemberian Dewa bergetar hebat akibat getaran tersebut.
Ruummbbb!
Redlichia akhirnya menghentikan pekerjaannya dan melirik ke luar.
Dia melangkah keluar dari istana, bingung oleh getaran yang tidak biasa.
“Suara apa itu?”
“Mungkinkah itu letusan gunung berapi di dekat sini?”
Para Manusia Trilobita yang bekerja keras di Kota Pemberian Dewa menghentikan pekerjaan mereka dan mengamati sekeliling, tatapan mereka dipenuhi dengan ketidakpastian dan ketakutan.
Kemudian, mereka menyaksikan pemandangan yang lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah mereka ingat.
Istana Kebijaksanaan yang megah dan menjulang tinggi itu runtuh dalam sekejap, berubah menjadi tumpukan puing.
Kiiiieeeekkk!
Di tengah kepulan debu, seekor serangga raksasa setinggi lebih dari dua puluh meter muncul dari dalam tanah, merobek tanah dan bangunan sambil meraung marah ke langit.
Monster Fusion muncul dari bawah tanah, matanya yang seperti siput berputar-putar hingga akhirnya tertuju pada Redlichia, Raja Kebijaksanaan, yang baru saja muncul dari reruntuhan istana.
Serangan itu menargetkan Redlichia secara langsung, melancarkan serangan tanpa ragu-ragu.
Ekspresi Redlichia menunjukkan keterkejutan dan ketidakpercayaan.
Firman yang diberikan Dewa padanya sebelumnya turun tepat saat dia mengukir kalimat ini.
Seolah-olah itu adalah takdir itu sendiri.
Puluhan penjaga muncul dari koridor di kedua sisi, bergegas menuju Istana Kebijaksanaan. Para korban yang terluka merangkak keluar dari reruntuhan, menyerbu ke arah sosok mengerikan Monster Fusion.
“Lindungi Raja!”
“Lindungi Raja Kebijaksanaan!”
Jelas bahwa ini adalah pertama kalinya Kota Pemberian Dewa menghadapi serangan dan pertama kalinya Raja Kebijaksanaan menghadapi upaya pembunuhan.
Para penjaga di dalam dan di luar istana berada dalam keadaan panik, seperti lalat tanpa kepala, tidak mampu menyelamatkan raja yang sudah berada dalam bahaya besar.
Redlichia langsung mengenali Monster Fusion itu dan meneriakkan nama tuannya.
“Apa itu Boon?”
Ini adalah nama Pangeran Kedua, yang berarti “membalas kebaikan.”
Namun jelas bahwa pada saat ini, cacing penggali raksasa di bawah komando Pangeran Kedua tidak berada di sini untuk membalas kebaikan, melainkan untuk membunuhnya.
“Boon! Aku perintahkan padamu sebagai Raja Kebijaksanaan, hentikan ini segera!”
Suara ini bergema di benak semua Manusia Trilobita, bahkan mereka yang berada di kota lain di seberang samudra yang luas.
Namun, Boon jelas bukan dalang di balik serangan ini.
Keberadaannya sendiri telah lenyap dari dunia ini, dan perintah Redlichia padanya tidak berpengaruh.
“Itu bukan Boon. Lalu, siapa?”
Sebuah nama muncul di benak Redlichia, dan dia teringat akan Firman Dewa yang baru saja dia ukir.
Namun, sudah terlambat.
Semuanya terjadi dalam sekejap. Serangan kilat yang dilancarkan oleh si ambisius tersembunyi itu tidak memberinya kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Mulut raksasa Monster Fusion telah menerjang Redlichia, rahangnya yang menakutkan siap untuk menghancurkan kepala Raja Kebijaksanaan.
Bayangan hitam menyelimuti Redlichia, mengancam untuk memadamkan kisah epik kehidupan Raja Kebijaksanaan.
* * *
“Apa dia sudah mati?”
Di seberang laut, Ense memandang keributan di Kota Pemberian Dewa dari kejauhan, sambil juga mendengar kata-kata yang diteriakkan oleh Raja Kebijaksanaan ketika ia menggunakan otoritasnya.
“Boon! Aku perintahkan padamu sebagai Raja Kebijaksanaan, hentikan ini segera!”
Mendengarkan kata-kata dan nada yang familiar, suara itu masih terdengar agung namun agak terburu-buru.
Jelas bahwa Redlichia telah menghadapi situasi yang genting, tanpa waktu untuk menenangkan diri.
Ense, tentu saja, tahu apa yang sedang dihadapi ayahnya. Air mata tiba-tiba mengalir dari matanya.
Ayahnya, Raja Kebijaksanaan yang agung, benar-benar akan binasa.
Dia mengaguminya karena dia adalah Raja Kebijaksanaan yang menciptakan dan membuka peradaban, pemilik kekuatan kebijaksanaan.
Dia hebat, murah hati, dan bijaksana.
Di mata Ense, dia adalah gunung yang tak tertaklukkan.
Namun ia juga bias. Meskipun Ense adalah putra sulungnya, mengapa ia tidak bisa memberikan Tahta pada putra sulungnya sendiri ketika Dewa telah memberikan segalanya pada putra bungsunya?
Ense memegang wajahnya dan berlutut di tanah.
Sambil air mata mengalir dari matanya, dia terus berteriak:
“Bukan aku! Boon-lah yang membunuh Ayah! Itu Boon, si bajingan ambisius itu. Dia ingin merebut kekuasaan Raja Kebijaksanaan, jadi dia membunuh Ayah! Akulah… Raja Kebijaksanaan yang dipilih oleh Ayah! Seharusnya akulah pewaris Tahta!”
Ketika segala sesuatu tak pelak lagi menuju hasil terburuk yang mungkin terjadi, Dewa keluar dari Kuil suci.
Dia berdiri di depan kuil, menatap sandiwara yang terjadi di bawahnya.
Di bawah langit yang luas, di puncak piramida yang megah.
Dia mengangkat tangannya.
“Berhenti!”
Hanya dengan satu kata, semuanya benar-benar terhenti.
Segala sesuatu yang terlihat membeku di tempat, dan aliran waktu di seluruh dunia berhenti atas kehendak Yin Shen.
Bagi orang luar, kekuatan ini tak terbayangkan, Tapi bagi Yin Shen, itu bukanlah hal yang luar biasa.
Dia tidak bisa mengubah aliran waktu di seluruh alam semesta, Tapi selama dia meninggalkan sinkronisasi dengan waktu alam semesta, tahun-tahun akan berhenti dari sudut pandangnya.
Dia tidak bisa mengubah alam semesta, Tapi dia bisa mengubah dirinya sendiri.
Dia adalah jiwa pengembara yang melampaui dan berada di luar alam semesta, seorang pengamat yang tidak terikat oleh waktu.
Dengan lambaian tangannya, monster mengerikan berbentuk cacing penggali itu langsung musnah, kembali menjadi sekadar telur serangga.
Redlichia, yang berada di ambang kematian, seketika terbebas dari keadaan berbahaya tersebut, meskipun ia tetap tidak menyadarinya karena waktu membeku.
Yin Shen kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tempat Ense berada.
